Oleh: Harianto Sutrisno
.
Menyatukan dua pikiran anak manusia sungguh teramat sulit.
Ada saja benturan yang akan terjadi jika sudah menikah. Suatu keputusan harus
diambil dan keputusan itu harus bisa disepakati berdua secara legowo. Bila
keputusan hanya sepihak dari suami atau dari istri, bisa menjadi awal dari
perbedaan yang akan menjurus ke pertengkaran.
.
Namun suatu hal yang sulit bisa menjadi mudah, kalau suami
dan istri mau saling menghargai, saling mengerti, saling mengalah dan tentunya
tetap saling menyayangi. Hal inilah yang harus dipahami oleh calon pasangan
yang masih dalam tahap ta'aruf. Hal-hal yang kadang dianggap sepele dan tidak
diperhitungkan sebelumnya bisa menjadi sumber pertengkaran bila kelak sudah
menikah.
Sebaiknya hal-hal yang bisa menjadi sumber pertengkaran
disepakati terlebih dahulu solusinya, sehingga bisa bersiap-siap mengantisipasi
sebelum sampai ke jenjang pernikahan. Beberapa contoh yang bisa menimbulkan
pertengkaran:
.
1. Malam pertama
Cerita tentang malam pertama pengantin baru, memang paling mengasyikkan. Eits,
tunggu dulu, ini bukan tentang surga dunia pengantin baru, tapi tentang
persiapan menghadapi malam pertama tidur bersama.
Setiap manusia punya kebiasaan sendiri sewaktu mau tidur di
malam hari. Ada yang senang memakai lampu yang terang (mungkin kalau gelap
takut ada setan yang datang), tapi ada yang suka tidak pakai lampu (katanya
semakin gelap kamar tidur, semakin nyenyak tidurnya). Nah, masalahnya
bagaimana, kalau pengantin pria senang pakai lampu yang terang, sedangkan
pengantin wanita suka maunya gelap-gelapan. Ini bisa berabe.
Ada cerita dari teman saya sewaktu malam pertama. Teman saya
(pria) maunya di malam pertama itu harus pakai lampu yang terang, sedang si
istri tidak mau. Katanya biasa tidur tanpa cahaya (mungkin juga malu). Memang
kalau pria maunya pakai lampu yang terang di malam pertama, sehingga bisa
melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya. Eits, jangan ngeres dulu.
Maksudnya melihat wajah sang istri yang cantik. Kalau selama ini wajahnya
sebagian tertutup hijab, malam ini bisa melihat istri tanpa berhijab, karena
sudah muhrim. Sepanjang malam terjadilah pertengkaran, karena tidak ada yang
mau mengalah sehingga malam pertama yang diharapkan bisa menjadi surga dunia
malah menjadi neraka pertengkaran.
Solusi:
Sebelum menikah bicarakan dulu tentang hal ini. Sepele sih. Tapi kan bisa bisa
dicari solusinya. Belajarlah saling mengalah dan saling menghargai pendapat
pasangan. Belilah lampu tidur yang cahayanya tidak terlalu terang. Jadi yang
maunya ada cahaya kebagian dan yang maunya gelap juga kebagian, sehingga malam
pertama jadi sukses.
.
2. Jam tidur
Kalau dulu sebelum menikah biasanya si pria tidur cenderung agak malam,
sebaliknya pengantin wanita suka tidur lebih cepat. Namun sekarang setelah
menikah kebiasaan yang berlawanan ini harus dicari jalan keluarnya (tapi
biasanya kalau pengantin baru, mau cepat-cepat masuk kamar tidur dan biasanya
mertua atau orang tua malah menyuruh sang anak agar segera masuk kamar tidur.
Katanya supaya bisa cepat dapat cucu. ( memangnya di kamar ngapain ya? He he he
mau tahu aja)
Masalah ini tidak hanya terjadi pada pengantin baru, tapi bisa juga terjadi
pada pengantin lama.
Solusi:
Ini sih bukan masalah yang rumit pemecahannya. Gampang kok. Yang penting
dibicarakan dulu sebelum menikah. Asal mau saling mengerti dan saling mengalah,
jam tidur bisa diatur supaya bisa saling memeluk (guling).
.
3. Masa lalu
Masa lalu yang dimaksud di sini adalah tentang pacar lama. Ini masalah yang
sering menimbulkan pertengkaran. Tidak hanya untuk pengantin baru, bahkan
pengantin lama juga sering bertengkar gara-gara masalah ini.
Ada teman dekat yang mengalami hal ini. Kebetulan istrinya
adalah teman satu sekolah di SMA dengan mantan pacar teman saya. Si teman
berpacaran cukup lama. Sebaliknya istri juga pernah punya pacar yang mengenal
teman saya. Ini bibit masalah.
Sang suami secara tidak sadar, sering meminta si istri agar
memanjangkan rambutnya (persis gaya rambut mantan pacarnya) sehingga istrinya
sering marah-marah. Sementara itu si istri juga selalu membangga-banggakan
mantan pacarnya yang telah menjadi pejabat tinggi di suatu perusahaan BUMN.
Akhirnya mereka sering bertengkar karena masalah masa lalu ini.
Solusi:
Sepakatilah sebelum menikah, agar tidak pernah menceritakan masa lalu yang
pernah menjadi kenangan manis masing-masing pasangan bersama mantan pacar.
Cobalah saling menghargai privasi masing-masing walau telah menikah. Sekecil
apapun kenangan manis bersama mantan pacar, akan menyakitkan hati bila diceritakan
kepada pasangan kita. Tidak ada yang bisa menerima cerita tentang mantan pacar.
.
4. Penghasilan
Ada pepatah yang mengatakan, "Penghasilan suami adalah penghasilan istri,
tapi penghasilan istri bukanlah penghasilan suami (bila si istri bekerja atau
memiliki usaha)."
Memang sebagai kepala rumah tangga, suami harus bertanggung
jawab terhadap kehidupan rumah tangganya, sedangkan peran istri adalah
mengelola keuangan dan membantu suami mengurus rumah dan anak. Istri tidak
wajib mencari nafkah. Suami yang harus mencari nafkah, sehingga muncullah
pepatah di atas.
Pepatah itu diyakini kebenarannya, tapi jika suatu saat
karena satu dan lain hal, penghasilan suami tidak mencukupi untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangga, maka akan sangat bijaksana bila si istri mau membagi
sebagian penghasilannya untuk kebutuhan rumah tangga (asal jangan keterusan
ya).
Solusi:
Perlu sekali kedua pengantin baru agar sepakat tentang penghasilan. Prioritas
utama penghasilan suami adalah untuk menghidupi istri dan anak-anaknya, tapi
istri juga tidak ada salahnya membantu suami jika sesekali karena satu dan lain
hal tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga. Cobalah mengerti dan bijaksana!
.
5. Makanan kesukaan
Ini juga masalah yang kelihatannya kecil, tapi bisa menimbulkan pertengkaran
yang berkepanjangan.
Hanya sebagai contoh. Saya sangat menyukai masakan tauco
udang seperti yang dimasak oleh ibu saya. Kebetulan istri berasal dari suku
Minang. Kalau untuk memasak rendang, balado atau gulai jangan ditanya
kepintarannya, tapi kalau untuk masak tauco udang katanya belum pernah. Ini
masalah besar buat saya yang sangat senang makan tauco udang. Sehingga sering
kali saya pergi ke rumah orang tua yang berada di satu kota hanya untuk
menikmati makanan tauco udang. Belakangan istri tahu tentang hal ini. Dia jadi
uring-uringan dan ngambek. Agak lama istri tidak mau bicara dengan saya. Setiap
kali waktu makan tidak mau menemani.
Untung saja, saya mengambil keputusan menceritakan masalah
ini kepada ibu mertua. Akhirnya ibu mertua menasehati istri, agar mau belajar
masak tauco udang kepada ibu saya. Dan sekali lagi untung, istri mau belajar
masak tauco udang. Hingga saat ini, tauco udang masakan istri sayalah yang
terlezat di dunia.
Solusi:
Cobalah bertanya tentang makanan kesukaan pasangan kita. Apa saja yang disukai
dan apa pula yang tidak disenangi. Tidak hanya untuk suami tapi berlaku juga
untuk istri. Misalnya istri paling suka makan jengkol, sebaliknya suami tidak
suka. Makanlah jengkol di waktu suami tidak di rumah (dan jangan lupa kloset
disiram sampai bersih). Sepakatilah tentang hal ini.
.
6. Warna favorit
Ini juga saya alami sendiri. Sejak muda saya menyenangi warna kuning. Banyak
baju saya yang berwarna kuning atau motifnya selalu bercorak warna kuning.
Istri menganggap warna kuning tidak pantas dipakai pria. Dia paling senang
warna abu-abu yang justru menjadi warna yang paling tidak saya sukai.
Karena baru menikah, saya mengalah mengurangi baju berwarna
kuning dan memilih warna yang lain termasuk warna abu-abu. Sampai anak-anak
saya beranjak remaja, baru saya bisa memakai baju warna favorit. Warna kuning.
Itupun karena mendapat dukungan dari putri saya yang juga senang dengan warna
kuning, sehingga istri bisa menerima. Bagaimana jika ini terjadi pada pasangan
pengantin baru?
Solusi:
Bicarakan terlebih dahulu masalah ini sebelum menikah. Cobalah saling mengerti
dan saling mengalah agar tidak menimbulkan pertengkaran di belakang hari.
Sepakatilah!
.
7. Hobi
Banyak hobi yang dimiliki sewaktu sebelum menikah, bisa menjadi masalah ketika
sudah menikah.
Contoh hobi yang biasa dimiliki pria: dugem, kumpul dengan
teman di warkop, memelihara burung, membaca cerita silat dan lain-lain.
Contoh hobi yang biasa dimiliki wanita: pergi ke mall (walau
hanya cuci mata), menonton sinetron atau infotainment, ngobrol dengan
teman-teman dan lain-lain.
Dulu sebelum menikah, saya paling senang membaca cerita
silat Cina karya Kho Ping Hoo atau Chin Yung yang bukunya bisa sampai lima
puluh jilid. Nah, ketika sudah menikah, hobi ini terus terbawa. Setiap kali di
rumah, saya membaca buku cerita silat Cina sampai berjam-jam. Saking asyiknya
sampai tidak memedulikan istri, sampai ia marah-marah dan menuntut agar hobi
saya ini dihilangkan.
Demi keutuhan rumah tangga dan untuk menyenangkan istri,
terpaksalah saya mengucapkan selamat tinggal kepada dunia persilatan. Tapi
untung saja tidak lama setelah itu ada tayangan film silat Mandarin di televisi
yang judulnya Memanah Burung Rajawali dan Golok Pembunuh Naga karya Chin Yung,
sehingga kerinduan terhadap dunia persilatan bisa terobati.
Masalah hobi sebelum menikah ini, bisa jadi masalah serius
yang berujung pada pertengkaran. Banyak teman saya yang hobinya memelihara
memelihara burung sampai ribut luar biasa dengan istri. Karena katanya si suami
lebih sayang kepada burungnya (eh maksud saya burung peliharaan) yang setiap
hari selalu dimandikan.
Solusi:
Untuk masalah ini, wajib dibicarakan secara baik-baik dengan pasangan kita.
Jangan sampai masalah hobi menjadi bibit masalah pertengkaran. Buatlah
kesepakatan tentang hal ini.
.
8. Orang tua
Banyak sekali kejadian di mana sang suami lebih menuruti apa kata ibunya
sehingga terkesan tidak punya pendirian, sebaliknya tidak jarang pula si istri
yang selalu mementingkan keluarganya dari keluarga suami.
Di Medan, ada satu kebiasaan dari suku tertentu yang
mengharuskan anak laki-laki yang sudah berumah tangga wajib ke rumah orang
tuanya jika baru datang ke Medan bersama istri dan anak-anaknya (jika mereka
tidak tinggal di Medan). Tapi ada pula kebiasaan dari suku lain yang mewajibkan
anak perempuannya yang sudah menikah untuk lebih dahulu ke rumah orang tuanya
jika baru datang ke Medan bersama suami dan anak-anaknya. Nah, bagaimana jika
si suami dan istri berasal dari suku-suku di atas? Ini akan menjadi masalah
besar dan berkepanjangan jika tidak dicari solusinya.
Solusi:
Buatlah kesepakatan khusus tentang hal ini sebelum menikah. Jika perlu,
mintalah kepada orang tua masing-masing untuk membicarakan masalah ini, agar
bisa dicarikan titik temunya. Saya pribadi, ketika menerima lamaran putri saya
dari keluarga calon suaminya, secara bijaksana hal ini saya kemukakan.
Alhamdulillah, calon besan setuju memakai adat nasional bukan adat kesukuan
tentang hal ini. Prinsipnya, jika si anak dan menantu pulang ke Medan, sekali
langsung ke rumah besan, tapi kali berikutnya ke rumah saya. Alhamdulillah,
berjalan lancar sampai saat ini.
.
9. Pendidikan anak
Masalah pendidikan anak juga harus dibicarakan sebelum menikah. Sekarang ini
banyak suami yang menginginkan agar kelak anak-anaknya bisa mengikuti pendidikan
di pesantren, tapi sang istri kadang keberatan. Si istri lebih menginginkan
agar anaknya bisa masuk ke sekolah internasional.
Keduanya bermaksud baik. Suami menekankan agar anaknya bisa
mendapatkan pendidikan agama lebih dahulu agar menjadi anak yang beriman dan
tidak gampang tergoda rayuan dunia. Si istri mementingkan agar si anak bisa
menguasai bahasa asing yang sangat dibutuhkan untuk masa depannya.
Solusi:
Sangat perlu untuk membicarakan masalah ini sebelum menikah. Buatlah
kesepakatan tentang rencana pendidikan anak. Memang kelihatannya terlalu dini
membicarakan masalah ini sebelum menikah, tapi bila sudah ada kesepakatan
tentang hal ini sebelum menikah, mudah-mudahan tidak akan menjadi bibit
pertengkaran di kemudian hari.
Kalau masalah di atas yang timbul, sekarang ada kok
pesantren yang mengajarkan pendidikan berstandard sekolah internasional.
.
10. Kata cerai
Karena belum terbiasa saling mengerti, saling menghargai dan saling mengalah
meskipun katanya saling menyayang, banyak pasangan muda jika bertengkar gampang
sekali mengucapkan kata cerai (suami) dan atau meminta cerai (istri).
Sekali lagi menyatukan dua pikiran dari dua anak manusia itu
tidak mudah, sehingga dengan sedikit terbakar emosi langsung saja bisa terucap
kata cerai.
Solusi:
Buatlah kesepakatan sebelum menikah, bila kelak dikemudian hari setelah menikah
tidak akan pernah mengucapkan kata cerai dan atau meminta cerai, betapapun
hebatnya pertengkaran yang timbul.
.
Inti dari solusi berbagai permasalahan di atas adalah tetap
saling mengerti, saling menghargai, saling mengalah dan saling menyayang. Ada
baiknya sebelum menikah disepakati lebih dahulu solusi dari berbagai
permasalahan yang akan timbul bila sudah menikah nantinya. Memang kadang
permasalahan itu akan timbul dari hal-hal yang tidak kita pikirkan sebelumnya,
namun jika kita tetap saling mengerti, saling menghargai, saling mengalah,
saling menyayang, dan tentunya tetap memohon kepada Allah SWT agar rumah tangga
yang dibangun mendapat berkah dan perlindungan, Insya Allah pernikahan bisa
langgeng sampai ke anak cucu dan asmaranya tetap menggebu.
Tulisan yang bagus..sharing yg jarang ditemukan di blog2 yg lain.
BalasHapusPoint2 penting ttg hal2 yg mgkin dianggap sepele untuk pasangan calon pengantin baru.
Yang tidak trpikirkan adalah ttg perbedan warna favorite..sepele menang,tp ketika mndapatkan pasangan yg otoriter..hal2 sepele sprti ini bs mnjadi batu ganjalan di dalam hati.
Good job penulis!
Ditunggu tulisan2 yg lainnya yg menginspirasi..👍👍
Ralat: sepele memang##
BalasHapusBagus dan terinspirasi
BalasHapus