Pria juga “sensitif”? Masak sih? Bukannya perempuan aja yang
suka sensitif? Tenang-tenang… gini lho ceritanya. Memang pria biasanya
cenderung bisa bersikap santai. Namun, seperti halnya wanita, mereka juga punya
kesensitifan tersendiri.
Pernahkah kita mendengar obrolan antar pria? Obrolan mereka
terkadang seperti sedang berkompetisi, saling menyebutkan prestasi, tidak
menyebutkan kelemahan atau kegagalan. Bagi istri yang tahu “dapur”nya sang
suami, mungkin tahu mana pernyataan suami yang sesuai, yang hiperbolis, dan
mana kelemahan yang ditutupi atau tidak diungkap.
Yah begitulah pria, bagi mereka hal yang membanggakan dan
memuaskan ialah ketika berprestasi. Menunjukkan kelemahan atau kegagalan adalah
pantangan bagi mereka. Hal terkait prestasi, kelemahan, dan kegagalan merupakan
area sensitif mereka. Di area sensitifnya, pria bisa sangat terpuaskan maupun
sangat terluka. Bila menyinggung pria di area ini kita biasa menyebutnya dengan
“melukai harga diri” dan “membangkitkan ego” pria.
Berikut beberapa hal “sensitif” pria berikut tips bagi istri
untuk menyikapinya:
Berprestasi VS gagal
Suami memiliki kepuasan dan kebahagian ketika bisa mencapai
targetnya atau berprestasi.
Apresiasilah suami ketika dia berhasil atau ada kemajuan dalam suatu
hal. Suami akan makin bahagia saat istrinya memuji dan menghargai
pencapaiannya. Suami jadi merasa dicintai.
Suami merasa puas dan bahagia ketika ia berprestasi
Salah satu prestasi suami ialah ketika istri merasa bahagia,
istri senang dengan pemberiannya. Jika istri bahagia suami jadi ikut bahagia.
Istri tampak bahagia, gembira, sembari memuji dan berterimakasih pada suami
akan lebih menegaskan lagi pada suami bahwa apa yang suami lakukan efektif
membahagiakan istrinya.
Salah satu kebutuhan emosional suami jadi terpuaskan, yaitu
berhasil menyenangkan/membahagiakan istri. Istri yang bahagia biasanya bersikap
yang menyenangkan hati suami. Suami pun jadi semakin terdorong dan semangat
untuk melakukan hal yang membahagiakan istrinya. Bila istri tampak jutek,
menderita dan menuntut dibahagiakan, justru suami tidak terbangkitkan
semangatnya.
Jika suami melakukan hal yang tidak berkenan kepada istri,
misalnya berteriak dan berkata kasar. Membahagiakan suami bukan berarti diam
dan membiarkan dengan judul mengalah. Istri perlu menyampaikan dengan baik
(tanpa berkata dan bersikap kasar) bahwa istri merasa tersakiti dengan
perlakuan tersebut. Bila dengan menghilangkan kebiasaannya berteriak dan
berkata kasar, suami bisa melihat ada perubahan yaitu respon istri jadi
menyenangkan dan tampak bahagia. Suamipun jadi semakin paham cara membahagiakan
istrinya.
Ketika pria gagal, ini merupakan momen ia mudah terluka. Ia
butuh diterima dan dibesarkan hatinya agar merasa dicintai. Misalnya ketika
suami salah membelikan pesanan yang diminta istrinya. Bila istri menegaskan
kembali kesalahannya apalagi disertai ceramah panjang lebar, suami akan terluka
perasaannya. Misalnya istri mengatakan “Ni karena Papa salah beli, kita jadi
harus buang waktu dan energi untuk menukarkan barangnya. Harusnya papa
bla..bla..bla.. (nasehat panjang)”.
Suami tahu kok dia salah. Suami juga merasakan konsekuensi
alaminya. Bila istri memaafkan, suami akan merasa diterima. Suami pun tetap
perlu merasakan kepercayaan istri, yaitu percaya suami akan belajar dari
kesalahannya, percaya bahwa suami berniat baik ingin membahagiakan istri,
percaya bahwa ia mengusahakan yang terbaik. Kepercayaan ini ditunjukkan dengan
menghargai apa yang dia lakukan dan tidak mengatakan hal-hal yang membuatnya
merasa tidak becus. Penerimaan dan kepercayaan ini akan membuat suami merasa
cintai.
Sederhananya istri maafkan dan hargai. Misalnya :
Suami : “waduh,
harusnya beli yang besar ya”
Istri :“iya pa,
gpp. Makasih papa dah bantu mama untuk membelikannya. Maukah papa menukarkan
barangnya?”
Suami : “Oke ma”
Istri : (kecup
suami) “makasih papa” J
Memang berumah tangga ladang pahalanya besar. Coba
bayangkan. Saat kesal, kita mencoba bersabar, pemaaf, dan tetap bersikap baik.
Ketika suami mengalami kegagalan,perasaannya mudah terluka.
Kekuatan VS Kelemahan
Salah satu kebahagiaan suami ialah ketika kekuatan/
kemampuan/kompetensinya diakui dan dipercaya. Sebaliknya, kemampuannya diragukan,
diremehkan, dianggap payah atau tidak becus ia akan merasa terluka. Misalnya,
istri mengatakan:
“Papa kenapa beli yang ini? Kan Mama dah bilang belinya yang
merk X”
“Tuh kan, Papa lagi-lagi salah”
Tadinya suami merasa tidak enak telah berbuat salah
mengecewakan istri, dan berpikir untuk berusaha lebih baik untuk tidak
mengecewakannya lagi. Namun, Ketika istri mengatakan hal-hal yang berkesan
suami payah dan tidak becus, yang timbul perasaan sakit hati dan dongkol, meski
memang dia salah.
Efeknya bisa berkembang ke arah suami tidak mau lagi
dimintai tolong. “Daripada dianggap tidak becus mending istri mengerjakannya
sendiri” pikir suami. Efek lainnya bisa berkembang ke arah suami tidak nyaman
untuk terbuka, karena khawatir diomeli dan dimarahi. Pada dasarnya tidak ada
orang senang bila dianggap tidak becus. Suami pun sebaiknya menghindari
mengatakan istri “payah”
Suami juga akan merasa kesal bila ia diperlakukan seakan ia
tidak tahu apa harus ia lakukan. Ia merasa dianggap sebagai anak kecil. Perhatian,
bantuan, dan nasehat sesekali mungkin bisa ia terima, namun bila berlebihan
akan mengesalkan dan mematahkan semangatnya.
Dibutuhkan VS tidak dibutuhkan
Suami bahagia bila ia bisa menjadi pahlawan bagi istri dan
keluarganya. Ia senang bila ia merasa dibutuhkan. Makanya ada beberapa pria
yang tidak prefer dengan wanita yang terlalu mandiri yang saking mandirinya ia
seakan tidak membutuhkan bantuan pria.
Membahagiakan suami bukan berarti dengan terus memberi atau
menggantikan peran suami. Suami akan lebih bahagia bila ia merasa dibutuhkan.
Lalu, ketika ia berusaha mencukupi kebutuhan sang istri, Istrinya bersyukur,
menghargai, dan berbahagia.
Istri coba sampaikan kebutuhan. Mintalah tanpa terkesan
menuntut. Bila istri tidak menyampaikan apa yang menjadi kebutuhannya, suami
tidak tahu bahwa ia dibutuhkan, ia tidak tahu apa yang menjadi kebutuhan istri.
Suami pun jadi semakin pasif.
Ditaati VS ditolak
Sebagai pemimpin bagi keluarga suami ingin ditaati. Ia ingin
posisinya dihormati dan dihargai. Ia akan tersinggung bila merasa dikuasai atau
diatur. Hal lain yang bisa memicu emosi suami ialah ketika ia merasa ditolak.
Misalnya ketika merasa keinginannya ditolak, suami jadi mengancam.
Istri yang taat bukan berarti tunduk dan patuh apapun kata
suami. Jika perintah suami melanggar perintah Allah istri bisa menolaknya. Di
sisi lain, bukanlah istri yang baik bila menolak permintaan/perintah suami
semaunya. Di sini ada sebuah ruang yang bernama komunikasi dan diskusi. Baik
suami maupun istri berhak menyampaikan perasaannya, kondisinya, pendapatnya.
Ada proses saling mendengarkan. Ada tujuan untuk mencari jalan keluar yang
terbaik. Ada I’tikad untuk saling membahagiakan. Karena baik suami maupun istri
adalah manusia. Jadi hal-hal yang bersifat manusiawi akan selalu berlaku
padanya. Memimpin dan taat secara manusiawi.
(COPAS dari duacahayainsan.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar