Salah satu hal yang mempercepat pendewasaan seseorang adalah
proses menuju pernikahan. Kedewasaan ditandai dengan kesiapan menerima dan
mengambil tanggung jawab, Bertanggungjawab terhadap diri sendiri, bertanggung
jawab terhadap keputusan yang diambil, dimana setiap keputusan pasti ada
konsekuensinya masing-masing. Ia juga berarti telah memiliki kesiapan dalam
menerima dan menghadapi realitas, kemampuan mengendalikan ego dan emosi, dan
sikap yang tidak hanya mementingkan diri sendiri (tidak egois).
Ketika ada seseorang yang tiba-tiba mengajakmu untuk
menikah, apa sensasi yang kamu rasakan? Hati dan pikiran dihadapkan untuk
membuat keputusan besar dalam hidup. Jantung pun berdebar. Sensasi lanjutannya,
otak mulai memikirkan berbagai hal secara serius. Karena menikah bukan hanya
pertemuan insidental, bukan hanya berisi obrolan manis, atau senang-senang
bersama. Bukan pula hanya mempertimbangkan keindahan fisik melainkan apakah dia
bisa menjadi pasangan yg baik dan menjadi ibu/ayah yg baik bagi anak. Begitu
pula pertimbangan orang lain terhadap kita.
Menikah berarti akan ada tanggung jawab yang akan kita
pikul, ada konsekuensi alami yang harus kita jalani, ada pasangan hidup kita
yang harus kita pertimbangkan perasaaan dan kebahagiaannya, ada perbedaan dan
masalah yang perlu kita selesaikan dengan hati tenang dan pikiran jernih, dan
ada berbagai keperluan hidup yang perlu dibiayai. Wal hasil, ketika memikirkan
untuk menikah, kita jadi harus mempersiapkan hati, mental, pemikiran, dan diri
kita secara sadar dan bertanggung jawab. Kita pun terdorong untuk mulai serius
berpikir dan menata diri. Proses inilah yang kemudian meningkatkan kedewasaan
diri kita.
Ada beberapa faktor kedewasaan yang meningkatkan ketika
seseorang sedang mempersiapkan pernikahan, yaitu:
1. Kita lebih mengenal diri.
Ketika berkenalan dengan calon pasangan, mungkin kamu akan
merasakan berbagai sensasi. Misalnya kamu merasa ada ganjalan di hati. Kamu
menjadi tahu hal-hal yang ternyata tidak kamu sukai dan atau tidak bisa kamu
toleransi dari orang yang akan kamu jadikan pasangan hidupmu. Kamu juga jadi
tahu apa yang kamu inginkan, harapkan, yang bisa kamu toleransi, rencanakan,
dan lain sebagainya.
2. Kita mengevaluasi diri.
Seperti halnya ada yang kita tidak sukai atau tidak bisa
kita toleransi dari orang lain, begitu pula orang lain pada kita. Ini menjadi
bahan evaluasi diri. Setiap proses menuju pernikahan yang mandek, umumnya
membawa pelajaran tersendiri. Misalnya kegagalan tersebut terjadi karena cara
kita berkomunikasi dan bersikap yang tidak sesuai dengan cara calon pasangan.
Sejak saat itu, kita jadi belajar cara berkomunikasi dan bersikap dengan lebih
baik dan nyaman.
3. Menikah berarti kita siap untuk menghadapi berbagai
kondisi, tidak hanya siap untuk kondisi senang bersama pasangan.
Setelah menikah kondisi ekonomi keluarga tidak selalu dalam
keadaan baik. Tidak selalu sikap pasangan berkenan di hati. Terlebih lagi pada
masa-masa awal pernikahan yang umumnya merupakan masa saling menyesuaikan diri.
Ketika masa perkenalan, kita bisa menilai calon pasangan dari sikap dan isi
perkataan/jawabannya. Kita bisa melihat prinsip hidupnya, caranya menyikapi
masalah, kedewasaannya, serta kesiapan mengarungi samudera kehidupan dalam
berumah tangga kelak.
4. Menikah berarti kita siap untuk menerima kekurangan
pasangan.
Setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita
bisa mudah menerima kelebihan seseorang tapi belum tentu kekurangannya. Ketika
menikah berati kita siap menerima kelebihannya sepaket dengan kekurangannya.
Mungkin dia cantik, tapi dia sensitif dan moody. Mungkin dia keibuan, tapi dia
kurang rapih. Mungkin dia tampan, tapi pemalas dan jorok. Mungkin dia pria
mapan, tapi pemarah.
Bagaimana kita menyikapi kekurangan pasangan? Bagaimana kita
dan pasangan saling mengingatkan tetapi dengan cara yang sama-sama enak sembari
tetap menjaga keharmonisan?
Hal ini perlu kesabaran. Sabar menahan emosi, sabar menjaga
lisan agar tetap baik dalam mengkomunikasikan unek-unek, sabar untuk
mendampinginya, dan sabar menjalani prosesnya. Perubahan tidak bisa sekejap.
Kebiasaan dan kepribadian merupakan bentukan dari proses yang panjang dan lama.
Tidak sesederhana seperti mengatakan bahwa ini wajib, ini salah, ini
dosa,kemudian orang akan langsung sadar. Menyampaikan sebuah pesan perlu dengan
cara-cara yang manusiawi berikut seninya. Seperti halnya bernegosiasi dan
marketing, semua memiliki seninya.
5. Menikah berarti kita siap menghidupi dan mensejahterakan
keluarga.
Mungkin ketika masih bujangan, pria masih bisa bersantai
meski kondisi uang sedang kosong. Toh, bila lapar pun, yang kosong adalah
perutnya sendiri. Bila sesekali mentraktir, mungkin masih bisa dia usahakan.
Namun, menikah bukan hanya masalah perut sendiri, dan bukan
pengeluaran yang sifatnya sesekali. Pria harus mulai berpikir cara untuk
menafkahi keluarga dan memastikan kebutuhan mereka tercukupi dan sejahtera.
Faktor ekonomi bisa menjadi penyebab keguncangan dalam
keluarga. Menikah memang tidak hanya cukup bermodal cinta. Untuk menyewa rumah
butuh uang, untuk makan butuh uang, untuk memeriksa kandungan dan melahirkan
butuh uang, dan untuk perlengkapan bayi juga butuh uang. Suami yang memiliki
kewajiban memberi nafkah, istri membantu dan sifatnya sedekah. Meski uang istri
lebih besar atau sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi ketika
seorang suami tidak bersungguh-sungguh berusaha menafkahi keluarganya, besar
potensinya terbentuk hubungan yang tidak sehat diantara keduanya.
6. Menikah berarti bersiap dengan perbedaan pandangan.
Perbedaan pandangan antara suami dan istri adalah sebuah
keniscayaan. Karena kelaminnya berbeda, otaknya pun berbeda. Cara dididik dan
dibiasakannya juga berbeda. Pun lingkungan dan pengalamannya, jelas berbeda.
Apakah perbedaan ini memperluas sudut pandang atau malah
menjadi bahan konflik? Tentunya, kita mengharapkan kemaslahatan bersama. Bukan
masalah menang atau kalah dalam adu pendapat.
7. Menikah berarti bersiap menahan ego dan emosi serta
mendahulukan kebaikan, kemajuan, keutuhan, dan keharmonisan pernikahan.
Menikah berarti bersiap untuk mengerti, memberi, dan
membahagiakan. Bukan hanya mementingkan diri. Bukannya ingin selalu dimengerti
dan diberi duluan.
Ketika menikah, kita tidak bisa egois atau hanya
mementingkan kebahagiaan dan kepentingan diri. Tidak bisa selalu ingin lebih
dulu dimengerti. Kadang mengalah dan lebih dulu mengerti, meminta maaf,
memahami, membahagiakan, dan berubah, akan jauh lebih membawa kebaikan dalam
keluarga.
Ada pasangan yang mau berubah bila pasangannya berubah lebih
dulu, memahami lebih dulu, dan membahagiakan lebih dulu. Jika keduanya keras
kepala dan sama-sama berpikir demikian, maka kondisinya tidak pernah akan
membaik.
8. Menikah berarti bersiap untuk merelakan sebagian
“kebebasan”.
Apapun prestasi seseorang di luar rumah, tetapi prestasi
utamanya adalah ketika bisa membahagiakan keluarga dan membangun generasi yang
unggul.
Seseorang bisa mengembangkan karir dan perusahaannya. Namun,
hal ini jangan sampai membuat keluarga terbengkalai.Jika kebutuhan pasangan dan
anak justru jadi terabaikan, mungkin kita harus mempertimbangkan lagi pilihan
aktivitas kita. Atau kita juga bisa memikirkan cara lain untuk mensiasatinya.
Setelah berumah tangga, kita tak bisa lagi sebebas ketika
lajang. Aktivitas istri harus seizin suami. Suami pun tetap meminta izin dan
pendapat istri. Juga utamakan untuk menjaga sikap dan perkataan dengan lawan
jenis. Juga, alokasikan sebagian waktu untuk melakukan pekerjaan rumah, seperti
mengurus rumah, melayani pasangan, serta mengurus dan mendidik anak.
9. Menikah bagi wanita berarti bersiap untuk hamil,
menyusui, dan mengasuh anak.
Hamil, menyusui, dan mengasuh serta mendidik anak adalah
konsekuensi dari pernikahan bagi seorang wanita. Tugas mulia ibu yang penuh
tantangan dan suka dukanya.
Anak memang sosok yang kita harapkan hadir menghiasi
keluarga. Tingkahnya yang lucu menghadirkan keceriaan tersendiri bagi sebuah
keluarga. Meskipun begitu, tetap ada tantangannya.
Saat hamil, seorang wanita akan merasakan mual-mual dan
posisi tidur yang tidak enak. Saat melahirkan, seorang wanita akan merasakan
mulas-mulas yang cukup hebat dan perjuangan melahirkan bayi. Saat bayi
lahir,setiap hari seorang wanita harus bangun malam untuk menyusui anaknya. Tak
heran, bila wanita seringkali tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengurus
dirinya sendiri.
Saat anak mulai bisa berjalan, wanita harus mengejar-ngejar
sang anak karena khawatir sang anak belum bisa melangkah dengan hati-hati.
Tahap berikutnya seorang wanita harus bersabar menanamkan berbagai perilaku
baik danekstra sabar ketika anak mengamuk.
10. Menikah bagi pria berarti bersiap menjadi seorang ayah.
Ketika buah hati hadir, peran suami sangat penting. Dukungan
dan bantuannya dalam mengurus bayi akan membuat istri merasa disayangi dan bahagia.
Hal ini menjadi energi bagi sang istri untuk mampu mencurahkan tenaga dan kasih
sayangnya kepada sang bayi, mengurangi potensi munculnya Baby Blue Syndrom, dan
melancarkan produksi ASI.
Sosok ayah merupakan sosok yang penting bagi anaknya. Ayah
juga turut bertanggung jawab mendidik anak. Bagaimana pun, anak adalah titipan
Allah pada orang tuanya, bukan pada ibu, nenek, sekolah, apalagi pembantu.
11. Menikah berarti bersiap untuk melayani.
Istri menyediakan makan, suami menafkahi. Melakukan hal-hal
lain yang menyenangkan dan membahagiakan pasangan. Sama-sama mencukupi
kebutuhan lahir-batin dari pasangan dan anak.
12. Menikah berarti bersiap untuk senantiasa berkompromi,
bukan memutuskan segala sesuatunya sendiri.
Suami atau istri yang bersikap otoriter akan menghasilkan
hubungan yang tidak sehat. Libatkanlah pendapat pasangan dalam mengambil
keputusan. Diskusi antar suami-istri bisa memperat hubungan. Saat diskusi
santai, masing-masing pihak bisa mengemukan pendapat, alasan, kondisi, dan
masalahnya. Tujuan utamanya adalah kemaslahatan dan kebahagiaan keluarga.
13. Menikah berarti bersiap menjadikan keluarga sebagai
bagian dari ibadah. Dan Allah-lah tempat kita bersandar dan memohon
pertolongan.
Banyak proses menikah yang gagal jika hanya mengandalkan
pemikiran dan ikhtiar manusia. Namun, ketika Allah sudah memberi
pertolongannya, maka akan ada banyak jalan dan kemudahan yang tidak
disangka-sangka.
Apapun kebaikan dan kesabaran yang kita lakukan saat menikah
adalah bernilai ibadah. Berharap pada manusia hanya akan membuat hati kita
lelah.Hanya kepada Allah lah kita mengembalikan semua harapan dan tujuan dari
setiap langkah yang kita lakukan.
14. Tidak membesarkan masalah
Terjadinya masalah dalam keluarga adalah keniscayaan. Sikap
yang perlu dibangun adalah tidak membesarkan masalah. Misalnya, suami lupa
tanggal ulang tahun sang istri dan istri marah-marah.Hal ini namanya
membesarkan masalah. Sebesar apapun masalahnya,kita haruslah fokus pada solusi
dan kemaslahatan bersama.
Banyak kasus pertengkaran yang sebenarnya tidak perlu
terjadi karena kurangnya pemahaman tentang perbedaan pria dan wanita. Membaca
buku-buku terkait perbedaan ini akan meminimasi terjadinya konflik.
(COPAS dari duacahayainsan.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar