Selamat Datang

Selamat Datang

Selasa, 15 Maret 2016

Proses Menuju Pernikahan, Proses pendidikan Alami untuk Mendewasakan Diri

Salah satu hal yang mempercepat pendewasaan seseorang adalah proses menuju pernikahan. Kedewasaan ditandai dengan kesiapan menerima dan mengambil tanggung jawab, Bertanggungjawab terhadap diri sendiri, bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil, dimana setiap keputusan pasti ada konsekuensinya masing-masing. Ia juga berarti telah memiliki kesiapan dalam menerima dan menghadapi realitas, kemampuan mengendalikan ego dan emosi, dan sikap yang tidak hanya mementingkan diri sendiri (tidak egois).

Ketika ada seseorang yang tiba-tiba mengajakmu untuk menikah, apa sensasi yang kamu rasakan? Hati dan pikiran dihadapkan untuk membuat keputusan besar dalam hidup. Jantung pun berdebar. Sensasi lanjutannya, otak mulai memikirkan berbagai hal secara serius. Karena menikah bukan hanya pertemuan insidental, bukan hanya berisi obrolan manis, atau senang-senang bersama. Bukan pula hanya mempertimbangkan keindahan fisik melainkan apakah dia bisa menjadi pasangan yg baik dan menjadi ibu/ayah yg baik bagi anak. Begitu pula pertimbangan orang lain terhadap kita.

Menikah berarti akan ada tanggung jawab yang akan kita pikul, ada konsekuensi alami yang harus kita jalani, ada pasangan hidup kita yang harus kita pertimbangkan perasaaan dan kebahagiaannya, ada perbedaan dan masalah yang perlu kita selesaikan dengan hati tenang dan pikiran jernih, dan ada berbagai keperluan hidup yang perlu dibiayai. Wal hasil, ketika memikirkan untuk menikah, kita jadi harus mempersiapkan hati, mental, pemikiran, dan diri kita secara sadar dan bertanggung jawab. Kita pun terdorong untuk mulai serius berpikir dan menata diri. Proses inilah yang kemudian meningkatkan kedewasaan diri kita.
Ada beberapa faktor kedewasaan yang meningkatkan ketika seseorang sedang mempersiapkan pernikahan, yaitu:

1. Kita lebih mengenal diri.
Ketika berkenalan dengan calon pasangan, mungkin kamu akan merasakan berbagai sensasi. Misalnya kamu merasa ada ganjalan di hati. Kamu menjadi tahu hal-hal yang ternyata tidak kamu sukai dan atau tidak bisa kamu toleransi dari orang yang akan kamu jadikan pasangan hidupmu. Kamu juga jadi tahu apa yang kamu inginkan, harapkan, yang bisa kamu toleransi, rencanakan, dan lain sebagainya.

2. Kita mengevaluasi diri.
Seperti halnya ada yang kita tidak sukai atau tidak bisa kita toleransi dari orang lain, begitu pula orang lain pada kita. Ini menjadi bahan evaluasi diri. Setiap proses menuju pernikahan yang mandek, umumnya membawa pelajaran tersendiri. Misalnya kegagalan tersebut terjadi karena cara kita berkomunikasi dan bersikap yang tidak sesuai dengan cara calon pasangan. Sejak saat itu, kita jadi belajar cara berkomunikasi dan bersikap dengan lebih baik dan nyaman.

3. Menikah berarti kita siap untuk menghadapi berbagai kondisi, tidak hanya siap untuk kondisi senang bersama pasangan.
Setelah menikah kondisi ekonomi keluarga tidak selalu dalam keadaan baik. Tidak selalu sikap pasangan berkenan di hati. Terlebih lagi pada masa-masa awal pernikahan yang umumnya merupakan masa saling menyesuaikan diri. Ketika masa perkenalan, kita bisa menilai calon pasangan dari sikap dan isi perkataan/jawabannya. Kita bisa melihat prinsip hidupnya, caranya menyikapi masalah, kedewasaannya, serta kesiapan mengarungi samudera kehidupan dalam berumah tangga kelak.

4. Menikah berarti kita siap untuk menerima kekurangan pasangan.
Setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita bisa mudah menerima kelebihan seseorang tapi belum tentu kekurangannya. Ketika menikah berati kita siap menerima kelebihannya sepaket dengan kekurangannya. Mungkin dia cantik, tapi dia sensitif dan moody. Mungkin dia keibuan, tapi dia kurang rapih. Mungkin dia tampan, tapi pemalas dan jorok. Mungkin dia pria mapan, tapi pemarah.
Bagaimana kita menyikapi kekurangan pasangan? Bagaimana kita dan pasangan saling mengingatkan tetapi dengan cara yang sama-sama enak sembari tetap menjaga keharmonisan?
Hal ini perlu kesabaran. Sabar menahan emosi, sabar menjaga lisan agar tetap baik dalam mengkomunikasikan unek-unek, sabar untuk mendampinginya, dan sabar menjalani prosesnya. Perubahan tidak bisa sekejap. Kebiasaan dan kepribadian merupakan bentukan dari proses yang panjang dan lama. Tidak sesederhana seperti mengatakan bahwa ini wajib, ini salah, ini dosa,kemudian orang akan langsung sadar. Menyampaikan sebuah pesan perlu dengan cara-cara yang manusiawi berikut seninya. Seperti halnya bernegosiasi dan marketing, semua memiliki seninya.

5. Menikah berarti kita siap menghidupi dan mensejahterakan keluarga.
Mungkin ketika masih bujangan, pria masih bisa bersantai meski kondisi uang sedang kosong. Toh, bila lapar pun, yang kosong adalah perutnya sendiri. Bila sesekali mentraktir, mungkin masih bisa dia usahakan.
Namun, menikah bukan hanya masalah perut sendiri, dan bukan pengeluaran yang sifatnya sesekali. Pria harus mulai berpikir cara untuk menafkahi keluarga dan memastikan kebutuhan mereka tercukupi dan sejahtera.
Faktor ekonomi bisa menjadi penyebab keguncangan dalam keluarga. Menikah memang tidak hanya cukup bermodal cinta. Untuk menyewa rumah butuh uang, untuk makan butuh uang, untuk memeriksa kandungan dan melahirkan butuh uang, dan untuk perlengkapan bayi juga butuh uang. Suami yang memiliki kewajiban memberi nafkah, istri membantu dan sifatnya sedekah. Meski uang istri lebih besar atau sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi ketika seorang suami tidak bersungguh-sungguh berusaha menafkahi keluarganya, besar potensinya terbentuk hubungan yang tidak sehat diantara keduanya.

6. Menikah berarti bersiap dengan perbedaan pandangan.
Perbedaan pandangan antara suami dan istri adalah sebuah keniscayaan. Karena kelaminnya berbeda, otaknya pun berbeda. Cara dididik dan dibiasakannya juga berbeda. Pun lingkungan dan pengalamannya, jelas berbeda.
Apakah perbedaan ini memperluas sudut pandang atau malah menjadi bahan konflik? Tentunya, kita mengharapkan kemaslahatan bersama. Bukan masalah menang atau kalah dalam adu pendapat.

7. Menikah berarti bersiap menahan ego dan emosi serta mendahulukan kebaikan, kemajuan, keutuhan, dan keharmonisan pernikahan.
Menikah berarti bersiap untuk mengerti, memberi, dan membahagiakan. Bukan hanya mementingkan diri. Bukannya ingin selalu dimengerti dan diberi duluan.
Ketika menikah, kita tidak bisa egois atau hanya mementingkan kebahagiaan dan kepentingan diri. Tidak bisa selalu ingin lebih dulu dimengerti. Kadang mengalah dan lebih dulu mengerti, meminta maaf, memahami, membahagiakan, dan berubah, akan jauh lebih membawa kebaikan dalam keluarga.
Ada pasangan yang mau berubah bila pasangannya berubah lebih dulu, memahami lebih dulu, dan membahagiakan lebih dulu. Jika keduanya keras kepala dan sama-sama berpikir demikian, maka kondisinya tidak pernah akan membaik.

8. Menikah berarti bersiap untuk merelakan sebagian “kebebasan”.
Apapun prestasi seseorang di luar rumah, tetapi prestasi utamanya adalah ketika bisa membahagiakan keluarga dan membangun generasi yang unggul.
Seseorang bisa mengembangkan karir dan perusahaannya. Namun, hal ini jangan sampai membuat keluarga terbengkalai.Jika kebutuhan pasangan dan anak justru jadi terabaikan, mungkin kita harus mempertimbangkan lagi pilihan aktivitas kita. Atau kita juga bisa memikirkan cara lain untuk mensiasatinya.
Setelah berumah tangga, kita tak bisa lagi sebebas ketika lajang. Aktivitas istri harus seizin suami. Suami pun tetap meminta izin dan pendapat istri. Juga utamakan untuk menjaga sikap dan perkataan dengan lawan jenis. Juga, alokasikan sebagian waktu untuk melakukan pekerjaan rumah, seperti mengurus rumah, melayani pasangan, serta mengurus dan mendidik anak.

9. Menikah bagi wanita berarti bersiap untuk hamil, menyusui, dan mengasuh anak.
Hamil, menyusui, dan mengasuh serta mendidik anak adalah konsekuensi dari pernikahan bagi seorang wanita. Tugas mulia ibu yang penuh tantangan dan suka dukanya.
Anak memang sosok yang kita harapkan hadir menghiasi keluarga. Tingkahnya yang lucu menghadirkan keceriaan tersendiri bagi sebuah keluarga. Meskipun begitu, tetap ada tantangannya.
Saat hamil, seorang wanita akan merasakan mual-mual dan posisi tidur yang tidak enak. Saat melahirkan, seorang wanita akan merasakan mulas-mulas yang cukup hebat dan perjuangan melahirkan bayi. Saat bayi lahir,setiap hari seorang wanita harus bangun malam untuk menyusui anaknya. Tak heran, bila wanita seringkali tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengurus dirinya sendiri.
Saat anak mulai bisa berjalan, wanita harus mengejar-ngejar sang anak karena khawatir sang anak belum bisa melangkah dengan hati-hati. Tahap berikutnya seorang wanita harus bersabar menanamkan berbagai perilaku baik danekstra sabar ketika anak mengamuk.

10. Menikah bagi pria berarti bersiap menjadi seorang ayah.
Ketika buah hati hadir, peran suami sangat penting. Dukungan dan bantuannya dalam mengurus bayi akan membuat istri merasa disayangi dan bahagia. Hal ini menjadi energi bagi sang istri untuk mampu mencurahkan tenaga dan kasih sayangnya kepada sang bayi, mengurangi potensi munculnya Baby Blue Syndrom, dan melancarkan produksi ASI.
Sosok ayah merupakan sosok yang penting bagi anaknya. Ayah juga turut bertanggung jawab mendidik anak. Bagaimana pun, anak adalah titipan Allah pada orang tuanya, bukan pada ibu, nenek, sekolah, apalagi pembantu.

11. Menikah berarti bersiap untuk melayani.
Istri menyediakan makan, suami menafkahi. Melakukan hal-hal lain yang menyenangkan dan membahagiakan pasangan. Sama-sama mencukupi kebutuhan lahir-batin dari pasangan dan anak.

12. Menikah berarti bersiap untuk senantiasa berkompromi, bukan memutuskan segala sesuatunya sendiri.
Suami atau istri yang bersikap otoriter akan menghasilkan hubungan yang tidak sehat. Libatkanlah pendapat pasangan dalam mengambil keputusan. Diskusi antar suami-istri bisa memperat hubungan. Saat diskusi santai, masing-masing pihak bisa mengemukan pendapat, alasan, kondisi, dan masalahnya. Tujuan utamanya adalah kemaslahatan dan kebahagiaan keluarga.

13. Menikah berarti bersiap menjadikan keluarga sebagai bagian dari ibadah. Dan Allah-lah tempat kita bersandar dan memohon pertolongan.
Banyak proses menikah yang gagal jika hanya mengandalkan pemikiran dan ikhtiar manusia. Namun, ketika Allah sudah memberi pertolongannya, maka akan ada banyak jalan dan kemudahan yang tidak disangka-sangka.
Apapun kebaikan dan kesabaran yang kita lakukan saat menikah adalah bernilai ibadah. Berharap pada manusia hanya akan membuat hati kita lelah.Hanya kepada Allah lah kita mengembalikan semua harapan dan tujuan dari setiap langkah yang kita lakukan.

14. Tidak membesarkan masalah
Terjadinya masalah dalam keluarga adalah keniscayaan. Sikap yang perlu dibangun adalah tidak membesarkan masalah. Misalnya, suami lupa tanggal ulang tahun sang istri dan istri marah-marah.Hal ini namanya membesarkan masalah. Sebesar apapun masalahnya,kita haruslah fokus pada solusi dan kemaslahatan bersama.

Banyak kasus pertengkaran yang sebenarnya tidak perlu terjadi karena kurangnya pemahaman tentang perbedaan pria dan wanita. Membaca buku-buku terkait perbedaan ini akan meminimasi terjadinya konflik.

(COPAS dari duacahayainsan.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar