Selamat Datang

Selamat Datang

Sabtu, 12 Desember 2020

TERIMA KASIH HUJAN

 Kepada hujan, barangkali kita memang perlu mengucapkan terima kasih yang dalam. Hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap rahasia. Karena ternyata, hujan tak hanya menghapus titik rindu, tapi juga melarutkan kenangan-kenangan.

Tidak semua apa yang kita rasa perlu diungkapkan, bukan? Sebagian rasa memang membahagiakan ketika diungkapkan. Sebagiannya lagi menentramkan bila dipendam. Boleh jadi sisanya ada untuk dilupakan.

Dalam diam kita, hujan memang terlalu banyak bicara. Tapi bagaimanapun, sampaikanlah terima kasih yang dalam padanya, sebab-sekali lagi,-hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap menjadi rahasia. Barangkali inilah cara kita menghapus rindu, membiarkannya larut bersama hujan.

Kita sama sadar, sama merasa, tapi diam-diam sepakat untuk tak menyembuhkannya sebab perih itu begitu kita nikmati. Sebab juga, katanya, pelangi hanya akan hadir setelah gerimis usai.

Memutar rencana… Tak pasrah begitu saja…? Untuk apa? Untuk ucapkan selamat tinggal dengan lambaian tangan tak berdaya ditambah air mata yang tak henti menetes dramatis? Untuk membuat lukaku dan lukamu makin menganga?

Konsekuensi dari kesemuanya adalah kini kita hidup berkawan rindu. Dalam bisu. Dalam keterdiaman. Dalam tepukan-tepukan sebelah tangan, sepakat untuk membiarkan luka ini sembuh dengan sendirinya-bersama waktu, dalam penantian yang lugu.

Aku belajar bahwa perpisahan-sedramatis apapun ia berlangsung-tak selamanya getir. Kadang ia berjalan begitu manis. Tapi perpisahan, semanis apapun ia berlangsung, selapang apapun kita menerimanya, tetap saja menyisakan kehampaan.

Tapi, bukankah keterpisahan itu hanyalah tipu daya waktu?

(Diolah dari novel Tuhan Maha Romantis karya Azhar Nurun Ala)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar