Selamat Datang

Selamat Datang

Selasa, 27 Juli 2021

SEKOLAH ISLAM TERPADU, MAHAL YA?

 

Bismillahirrahmaanirrahiim

Obrolan Pertama

Malam itu, setelah menunaikan sholat isya, seperti biasa akan ada obrolan ringan sebelum saya pulang kembali ke kos. Kali ini, obrolan bersama seorang ayah. Beliau adalah senior saya di kampus. “Duh, besar banget ya biaya buat masuk SDIT itu” keluh beliau. “Gak bisa ditawar gitu pak? Sama ikhwah gitu” jawab saya coba memberi solusi. “Wah, gak bisa ru. Saya kenal komite sekolahnya, Pak Budi. Beliau Cuma bisa kasih keringanan dengan cara mencicil sampe pegel katanya” jawab beliau dengan ringan dan tawa kami pun pecah. Saya sempat tertegun dengan pernyataan beliau ini. Kenapa? Dalam hal kemampuan finansial, beliau saya perhatikan sudah cukup mapan. Dengan kondisi tersebut, ternyata beliau masih merasa berat dengan biaya yang dibebankan SDIT tersebut.

 

Obrolan Kedua

Perjalanan sore dari arah Jakarta menuju daerah penyokong seperti Bintaro selalu saja menghadapi kemacetan. Dalam himpitan kemacetan yang padat, saya dan seorang ayah yang lain pun berbincang. Ia, seorang ayah dari dua orang putra-putri. Entah bagaimana awalnya, kami berdua berbincang tentang sekolah islam terpadu. Beliau merasa keberatan juga dengan biaya yang mahal untuk menyekolahkan anaknya di sekolah islam terpadu. Padahal, ia adalah seorang pegawai pajak yang punya penghasilan cukup. Obrolan tentang sekolah islam terpadu kali ini pun berujung pada sebuah pertanyaan yang saya ajukan waktu itu: Akan dibawa ke arah mana sekolah islam terpadu? Ke arah seperti YPI Al Azhar atau Sekolah Muhammadiyah? Dua yayasan pendidikan ini saya anggap sebagai dua paradigma pendidikan yang berbeda dari sudut pangsa pasar, karakteristik, maupun biaya pendidikan.

 

Kok Mahal?

Bukan sekali-dua kali ini saja saya mendapat keluhan tentang betapa mahalnya biaya pendidikan di Sekolah Islam Terpadu. Keluhan dari orang sekitar, di blog, atau sumber lainnya, semua mengeluhkan hal yang sama. Kenapa bisa mahal? Dari berbagai sumber yang saya temui, ada beberapa hal yang membuat biaya pendidikan di Sekolah Islam Terpadu menjadi mahal. Pertama, seluruh biaya operasional sekolah ditanggung dan dikelola secara mandiri, tidak ada dana bantuan dari pemerintah. Kedua, kegiatan belajar mengajar yang lebih lengkap karena mengintegrasikan materi sekolah umum dengan materi berbobot islam. Ketiga, Sekolah Islam Terpadu saat ini masih tergolong berusia muda sehingga belum mapan dari segi pendanaan.

 

Sebenarnya tidak masalah jika biaya pendidikan mahal, asal masih bisa terjangkau. Ya khan? Dan memang tidak bisa dipungkiri, pendirian Sekolah Islam Terpadu diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan bagi anak-anak ikhwah. Namun, ternyata banyak ikhwah yang tidak sanggup secara finansial untuk menyekolahkan anaknya di sana. Ironi. Jadilah biaya mahal ini tidak terjangkau oleh pangsa pasar yang diharapkan.

 

Ada kekhawatiran pribadi saya terhadap biaya yang mahal ini. Suatu fasilitas yang mahal, seperti sekolah, rumah sakit, restoran, dan lain lain memiliki sifat akan “meng-cluster-kan diri”. Ini istilah yang saya buat sendiri. Maksudnya, dengan biaya yang mahal tersebut akan mempersulit akses bagi yang tidak mampu membayar. Lebih lanjut, maka akses untuk mendapatkan fasilitas tersebut hanya akan didapatkan oleh mereka yang berkemampuan. Pada akhirnya fasilitas tersebut tidak lagi terbuka untuk semua, melainkan hanya bagi yang mampu saja. Pada tahap akhir, fasilitas tersebut akan memiliki kultur interaksi yang mencerminkan tingkat sosial dari si pengguna fasilitas tersebut, yang notabene adalah dari kalangan mampu secara finansial.

 

Seperti pertanyaan saya di atas: Akan dibawa ke arah mana sekolah islam terpadu? Ke arah seperti YPI Al Azhar atau Sekolah Muhammadiyah? Al Azhar, secara penilaian pribadi, sudah masuk dalam tahap akhir “meng-cluster-kan diri”. Apa yang kawan-kawan pikirkan ketika terlintas seorang anak bersekolah di YPI Al-Azhar? Jawab dalam hati aja ya. Bagaimana dengan Muhammadiyah? -lagilagi- secara penilaian pribadi, sampai sekarang masih bertahan dengan pendidikan untuk kalangan menengah ke bawah. Bahkan di beberapa daerah pelosok negeri sudah ada sekolah Muhammadiyah. Saya mendapatkan informasi bahwa Yayasan Muhammadiyah bisa bertahan sampai sekarang karena ada sokongan kuat dari Organisasi Muhammadiyah itu sendiri dan pemerintah sehingga bisa menyelenggarakan pendidikan terjangkau di seluruh negeri. Inilah dua contoh tentang penyelenggaraan pendidikan islami yang berbeda dari segi pangsa pasar, karakteristik, maupun biaya pendidikan. Lalu, Sekolah Islam Terpadu akan berada di sisi sebelah mana? Atau justru akan menciptakan sisi lain dari dua contoh ini? Wallahu a’lam.

 

Solusi?

Lebih tepatnya sih bukan solusi. Saya hanya akan memberikan pandangan lain dalam menghadapi problematika ini.

 

Dari sisi orang tua murid, berazzam lah! Memang tak mudah. Apa-apa serba mahal sekarang ini. Sekolah islami pun ikut-ikutan mahal. Tapi memang seperti itulah karakteristik jalan bagi para pencari ilmu. Perlu pengorbanan mendapatkan ilmu agama yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Tentu kita masih ingat bagaimana perjalanan hidup Imam Syafi’i. Demi menimba ilmu, ibu dari Imam Syafi’i sampai ikut berhijrah menuju Yatsrib meninggalkan kehidupan di Mekkah agar anaknya bisa belajar kepada Imam Malik.

 

Apa daya jika sama sekali tak mampu? Ya sudah, tak perlu bersekolah di Sekolah Islam Terpadu. Bersekolah di sekolah yang sesuai kemampuan finansial. Bukankah madrasah terbaik bagi anak-anak adalah rumah mereka dengan tuntunan akhlak dan ilmu dari ayah dan ibunya?

 

Dari sisi pengelola Sekolah Islam Terpadu, berazzamlah! Berazzam untuk memberikan pendidikan dengan biaya yang terjangkau. Jangan sampai justru ada penyelenggara pendidikan yang memakai sudut pandang orang tua murid: “mendapat ilmu agama itu perlu pengorbanan”. Salah. Masing-masing harus punya azzam dan sudut pandang yang saling melengkapi dan memperbaiki.

 

Masalah biaya menjadi sangat rumit, ketika pembangunan baru dimulai, kesejahteraan guru pun belum tercapai, atau kualitas pendidikan menuntut biaya yang tinggi. Bukan perkara mudah. Perlu perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan keuangan yang matang. Perlu ada sumber pendanaan di luar setoran yang dibayarkan orang tua murid. Pendanaan ini bisa berasal lembaga zakat, perusahaan sponsor yang terpercaya, atau sumber lainnya. Namun, dari masalah pendanaan keuangan ini harusnya membuka mata kita yang sudah sangat berlimpah harta. Ada lahan-lahan dakwah dan sarana perbaikan umat yang memerlukan dana. Ini investasi! Dunia dan akhirat! Bukan sekedar investasi dalam kepingan dinar atau lembaran surat berharga islami, tapi investasi dalam hamparan sejarah perbaikan umat menuju cahaya ilmu dan rahmat Islam.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Walaupun hanya ditulis dengan kedangkalan ilmu, pengetahuan, dan pemahaman dari saya.

Wallahu a’lam

Sumber : https://mutsaqqif.wordpress.com/2011/12/20/sekolah-islam-terpadu-mahal-ya/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar