Bismillahirrahmaanirrahiim
Obrolan Pertama
Malam itu, setelah menunaikan
sholat isya, seperti biasa akan ada obrolan ringan sebelum saya pulang kembali
ke kos. Kali ini, obrolan bersama seorang ayah. Beliau adalah senior saya di
kampus. “Duh, besar banget ya biaya buat masuk SDIT itu” keluh beliau. “Gak
bisa ditawar gitu pak? Sama ikhwah gitu” jawab saya coba memberi solusi. “Wah,
gak bisa ru. Saya kenal komite sekolahnya, Pak Budi. Beliau Cuma bisa kasih
keringanan dengan cara mencicil sampe pegel katanya” jawab beliau dengan ringan
dan tawa kami pun pecah. Saya sempat tertegun dengan pernyataan beliau ini.
Kenapa? Dalam hal kemampuan finansial, beliau saya perhatikan sudah cukup
mapan. Dengan kondisi tersebut, ternyata beliau masih merasa berat dengan biaya
yang dibebankan SDIT tersebut.
Obrolan Kedua
Perjalanan sore dari arah Jakarta
menuju daerah penyokong seperti Bintaro selalu saja menghadapi kemacetan. Dalam
himpitan kemacetan yang padat, saya dan seorang ayah yang lain pun berbincang.
Ia, seorang ayah dari dua orang putra-putri. Entah bagaimana awalnya, kami
berdua berbincang tentang sekolah islam terpadu. Beliau merasa keberatan juga
dengan biaya yang mahal untuk menyekolahkan anaknya di sekolah islam terpadu.
Padahal, ia adalah seorang pegawai pajak yang punya penghasilan cukup. Obrolan
tentang sekolah islam terpadu kali ini pun berujung pada sebuah pertanyaan yang
saya ajukan waktu itu: Akan dibawa ke arah mana sekolah islam terpadu? Ke arah
seperti YPI Al Azhar atau Sekolah Muhammadiyah? Dua yayasan pendidikan ini saya
anggap sebagai dua paradigma pendidikan yang berbeda dari sudut pangsa pasar,
karakteristik, maupun biaya pendidikan.
Kok Mahal?
Bukan sekali-dua kali ini saja
saya mendapat keluhan tentang betapa mahalnya biaya pendidikan di Sekolah Islam
Terpadu. Keluhan dari orang sekitar, di blog, atau sumber lainnya, semua
mengeluhkan hal yang sama. Kenapa bisa mahal? Dari berbagai sumber yang saya
temui, ada beberapa hal yang membuat biaya pendidikan di Sekolah Islam Terpadu
menjadi mahal. Pertama, seluruh biaya operasional sekolah ditanggung dan
dikelola secara mandiri, tidak ada dana bantuan dari pemerintah. Kedua,
kegiatan belajar mengajar yang lebih lengkap karena mengintegrasikan materi
sekolah umum dengan materi berbobot islam. Ketiga, Sekolah Islam Terpadu saat
ini masih tergolong berusia muda sehingga belum mapan dari segi pendanaan.
Sebenarnya tidak masalah jika
biaya pendidikan mahal, asal masih bisa terjangkau. Ya khan? Dan memang tidak
bisa dipungkiri, pendirian Sekolah Islam Terpadu diharapkan dapat menjadi
sarana pendidikan bagi anak-anak ikhwah. Namun, ternyata banyak ikhwah yang
tidak sanggup secara finansial untuk menyekolahkan anaknya di sana. Ironi.
Jadilah biaya mahal ini tidak terjangkau oleh pangsa pasar yang diharapkan.
Ada kekhawatiran pribadi saya
terhadap biaya yang mahal ini. Suatu fasilitas yang mahal, seperti sekolah,
rumah sakit, restoran, dan lain lain memiliki sifat akan “meng-cluster-kan
diri”. Ini istilah yang saya buat sendiri. Maksudnya, dengan biaya yang mahal
tersebut akan mempersulit akses bagi yang tidak mampu membayar. Lebih lanjut,
maka akses untuk mendapatkan fasilitas tersebut hanya akan didapatkan oleh
mereka yang berkemampuan. Pada akhirnya fasilitas tersebut tidak lagi terbuka
untuk semua, melainkan hanya bagi yang mampu saja. Pada tahap akhir, fasilitas
tersebut akan memiliki kultur interaksi yang mencerminkan tingkat sosial dari
si pengguna fasilitas tersebut, yang notabene adalah dari kalangan mampu secara
finansial.
Seperti pertanyaan saya di atas:
Akan dibawa ke arah mana sekolah islam terpadu? Ke arah seperti YPI Al Azhar
atau Sekolah Muhammadiyah? Al Azhar, secara penilaian pribadi, sudah masuk
dalam tahap akhir “meng-cluster-kan diri”. Apa yang kawan-kawan pikirkan ketika
terlintas seorang anak bersekolah di YPI Al-Azhar? Jawab dalam hati aja ya.
Bagaimana dengan Muhammadiyah? -lagilagi- secara penilaian pribadi, sampai
sekarang masih bertahan dengan pendidikan untuk kalangan menengah ke bawah.
Bahkan di beberapa daerah pelosok negeri sudah ada sekolah Muhammadiyah. Saya
mendapatkan informasi bahwa Yayasan Muhammadiyah bisa bertahan sampai sekarang
karena ada sokongan kuat dari Organisasi Muhammadiyah itu sendiri dan
pemerintah sehingga bisa menyelenggarakan pendidikan terjangkau di seluruh
negeri. Inilah dua contoh tentang penyelenggaraan pendidikan islami yang
berbeda dari segi pangsa pasar, karakteristik, maupun biaya pendidikan. Lalu,
Sekolah Islam Terpadu akan berada di sisi sebelah mana? Atau justru akan
menciptakan sisi lain dari dua contoh ini? Wallahu a’lam.
Solusi?
Lebih tepatnya sih bukan solusi.
Saya hanya akan memberikan pandangan lain dalam menghadapi problematika ini.
Dari sisi orang tua murid,
berazzam lah! Memang tak mudah. Apa-apa serba mahal sekarang ini. Sekolah
islami pun ikut-ikutan mahal. Tapi memang seperti itulah karakteristik jalan
bagi para pencari ilmu. Perlu pengorbanan mendapatkan ilmu agama yang
bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Tentu kita masih ingat bagaimana perjalanan hidup
Imam Syafi’i. Demi menimba ilmu, ibu dari Imam Syafi’i sampai ikut berhijrah
menuju Yatsrib meninggalkan kehidupan di Mekkah agar anaknya bisa belajar
kepada Imam Malik.
Apa daya jika sama sekali tak
mampu? Ya sudah, tak perlu bersekolah di Sekolah Islam Terpadu. Bersekolah di
sekolah yang sesuai kemampuan finansial. Bukankah madrasah terbaik bagi
anak-anak adalah rumah mereka dengan tuntunan akhlak dan ilmu dari ayah dan
ibunya?
Dari sisi pengelola Sekolah Islam
Terpadu, berazzamlah! Berazzam untuk memberikan pendidikan dengan biaya yang
terjangkau. Jangan sampai justru ada penyelenggara pendidikan yang memakai
sudut pandang orang tua murid: “mendapat ilmu agama itu perlu pengorbanan”.
Salah. Masing-masing harus punya azzam dan sudut pandang yang saling melengkapi
dan memperbaiki.
Masalah biaya menjadi sangat
rumit, ketika pembangunan baru dimulai, kesejahteraan guru pun belum tercapai,
atau kualitas pendidikan menuntut biaya yang tinggi. Bukan perkara mudah. Perlu
perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan keuangan yang matang. Perlu ada
sumber pendanaan di luar setoran yang dibayarkan orang tua murid. Pendanaan ini
bisa berasal lembaga zakat, perusahaan sponsor yang terpercaya, atau sumber
lainnya. Namun, dari masalah pendanaan keuangan ini harusnya membuka mata kita
yang sudah sangat berlimpah harta. Ada lahan-lahan dakwah dan sarana perbaikan
umat yang memerlukan dana. Ini investasi! Dunia dan akhirat! Bukan sekedar
investasi dalam kepingan dinar atau lembaran surat berharga islami, tapi
investasi dalam hamparan sejarah perbaikan umat menuju cahaya ilmu dan rahmat
Islam.
Semoga tulisan ini bermanfaat
bagi kita semua. Walaupun hanya ditulis dengan kedangkalan ilmu, pengetahuan,
dan pemahaman dari saya.
Wallahu a’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar