Selamat Datang

Selamat Datang

Rabu, 28 Juli 2021

UNEK-UNEK

Apakah orang tua boleh menghalalkan segala macam cara untuk membahagiakan anaknya, menurutku sih tidak. Jika memang benar boleh menghalalkan segala cara lalu dimanakah Alloh, dimanakah syariat, dimanakah ilmu agama dan koar-koar mengenai agama yang selama ini ia dengungkan jika ternyata untuk hal seperti itu saja sudah berani melanggar syariat. Kalo sehari-hari kita gemar menggaungkan kebaikan lewat mulut kita lalu untuk hal seperti ini ingin berbuat curang, bukankah itu sudah menjatuhkan nilai diri anda. 

Disini ingin privilege, disana ingin privilege, dimana-mana aku ingin privilege. Mengapa kita enggan untuk berkompetisi secara sehat, mengapa kita ingin sekali menang dengan cara menyakiti orang lain. Bukankah dulu ketika kecil kita diajari oleh orang tua bagaimana bersikap jujur, bagaimana bersikap empati, bagaimana kita diceritakan oleh orang tua dan guru-guru kita buruknya orang yang curang, buruknya sikap licik, lalu kenapa setelah dewasa kita malah gemar sekali melakukan kecurangan dan kelicikkan itu atas nama rasa sayang pada anak yang notabene kita ajari setiap hari untuk berlaku lurus dan jujur, bukankah begitu. Apakah karena kita memiliki secuil kekuasaan maka kita bisa menduduki aturan, Apakah karena kita saudara si anu lalu kita bisa seenaknya melabrak aturan yang dibuat, apakah karena kita mempunyai uang lalu kita bisa membeli aturan-aturan itu agar keinginan kita bisa tercapai. Mungkin memang ada jalur itu, tapi menurutku sih itu seperti kolusi plus nepotisme yang dilembagakan/dilegalkan, mirip Malaysia yang melegalkan genting menjadi tempat judi. Lalu apakah karena pemerintah Malaysia melegalkan judi khusus di satu tempat saja maka judi menjadi halal, saya yakin jawabannya tidak.

Ingatlah jika seseorang sudah mengawali/memasuki sesuatu dengan cara yang tidak halal, maka jangan harap ketika didalam dan keluarnya juga akan menghasilkan generasi yang sholeh, mungkin saja anak itu bisa cerdas setelah didalam, tapi apakah ilmunya itu akan berkah dan menjadi kebaikan, aku sih ragu, yang ada mungkin kepintarannya itu akan berubah menjadi kelicikan karena dia sendiri produk dari sebuah kelicikan.

Tapi pada akhirnya entahlah, mungkin mereka sedang lupa, mungkin belum tahu, atau mungkin pemikiranku yang salah, entahlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar