Selamat Datang

Selamat Datang

Sabtu, 09 Januari 2016

SECERCAH INSPIRASI

(Kutipan-kutipan menarik dari buku Engkaulah Matahariku (Inspiring Stories) karya Pak Eko Novianto Nugroho)

Dalam proses belajar, kesinambungan lebih dihargai daripada lompatan besar yang tidak kontinyu…….libatkan diri dengan urusan agama dengan pelan-pelan dan janganlah kamu buat dirimu bosan beribadah pada Alloh.

Sholat dan puasa kita atau infaq dan amal sholeh kita mungkin …….tampak tak bermakna saat ini. Padahal ia adalah tiket kita ke surga. Kesungguhan kita kepada pendidikan keluarga dan anak-anak boleh jadi……merupakan password bagi kita kelak.

Akan kita bangun bersama istana besar yang harus memuat dua ide kita. Ya, harus cukup besar. Agar mampu memuat ide besar kita bersama. Ya, harus cukup besar,agar kita tak kerap bergesekan. Agar cukup ruang toleransi kita, dan kita tak saling menggunting.Dan agar kita tak kerap hajar-menghajar.

……memadukan suami isteri ibarat memadukan 2 (dua) batang kayu. Agar sambungan itu kokoh, kedua batang kayu tersebut harus disambung dengan teknik tertentu. Masing-masing kayu harus merelakan sebagian dirinya dipotong, dibentuk, dan disesuaikan dengan potongan kayu yang lain.

……pasangan suami isteri harus meletakkan semua tendensi dan interest pribadi tersebut di dalam sebuah tujuan bersama.Dan jika tendensi serta interest tersebut tidak sesuai dengan tujuan bersama, jangan ragu untuk membuangnya.

Kalaupun kita mengakui prestasi anak, tendensinya untuk menonjolkan kehebatan kita. Aneh. Menghargai prestasi anak namun yang diharapkan adalah kekaguman publik kepada orang tua dari anak-anak itu. Kita jadi memiliki hidden agenda dari pujian dan pengakuan kita pada mereka.

Kita gemar menuntut anak kita untuk berprestasi hebat. Tetapi kita enggan untuk berprestasi. Cara paling curang dan murah untuk itu adalah dengan tidak mengakui prestasi anak-anak. Dengan itu kita bisa terus memelihara mitos kehebatan kita sebagai orang tua mereka.
……motivasi tanpa penghargaan bisa berakibat fatal. Mereka (anak-anak) bisa berkembang dalam motivasi kita tetapi menjadi milik pihak lain yang memberikan pengakuan dan penghargaan. Entah itu kawan mereka, pacar mereka, atau srigala busuk. Oleh karena itu, motivasi hendaknya diikuti dengan penghargaan sesuai dengan perkembangan mereka.

Konon perempuan memiliki kebutuhan terhadap pengakuan yang signifikan. Kekurangan pengakuan bisa berakibat fatal.

Bagaimana mungkin orang tua dapat dikatakan menghina anaknya ? Penghinaan itu terjadi ketika orang tua menilai kekurangan anaknya dan memaparkannya seolah sebuah kebodohan yang tak termaafkan.

Pernikahan tak semata-mata menyangkut keinginan pribadi, tetapi mesti mengkompilasi, mengkompromi dan menoleransi cita-cita dan harapan, setidaknya dua orang.

Pernikahan itu tak hanya wangi seperti di saat walimatul ursy. Mungkin ada kalanya kompor minyak tanah perlu dicabuti sumbunya sehingga bau minyak tanah melekat di antara jari-jari.Atau saat sang bayi pipis dan buang air besar, sehingga tangan menjadi belepotan karenanya.

…..seorang lelaki lebih tahan menerima cobaan yang diperuntukkan khusus baginya. Tapi ia bisa lebih tak tahan bila cobaan itu mampir ke isteri yang dicintainya, atau anak-anak yang terlahir sebab benihnya. Itu sebabnya, bila sang suami suatu saat merasa lemah, kuatkanlah ia dengan tangan tangguh terulur.

Berkaryalah, kendati seperti sepi. Tetapi, jika pun ada respon, tak perlu terlampau girang jika itu menggembirakan. Dan tak perlu menghentikan karya jika respon itu menyakitkan jiwa.

…..para bapak adalah peletak kerangka dasar dalam 3 (tiga) hal, yaitu :
Pertama, ayah adalah peletak dasar dalam soal visi
Kedua, ayah adalah peletak kerangka dalam pembuatan agenda harian dan regulasi
Ketiga, ayah adalah peletak dasar keteladanan.
Kecenderungan umum, seorang laki-laki suka jika ia ditempatkan sebagai peletak dasar. Dan perempuan juga menghindari tugas ini dan lebih suka jika suaminya menjadi peletak dasar. Kecenderungan umum, seorang perempuan suka mengerjakan hal teknis yang telah digariskan oleh suaminya.

Maka bukan masalah besar jika para suami kerap tidak terampil dalam hal-hal teknis, dan bukan persoalan besar jika para isteri kurang memiliki visi.

……adilkah meminta suami mahir dalam hal strategis sekaligus mahir dalam hal teknis ? Dan adilkah saya meminta isteri saya untuk mahir berpikir strategis ?
Ini soal kecenderungan dan soal tugas dasar antara kita.

……hal penting yang harus diajarkan kepada anak-anak adalah penghormatan kepada pekerja keras. Aku berusaha untuk mengajarkan sikap hormat pada pembantu di rumah, pedagang yang bekerja keras, pekerja yang bersungguh-sungguh dan siapa saja yang mengajarkan penghormatan kepada pekerja keras.

Kita katakan bekerja adalah ibadah, namun pada saat yang sama kita tidak menunjukkan kecintaan yang proporsional pada pekerjaan kita.

……komentar Ali Ra. Di ‘Nashaihul Ibad’
“Jadilah manusia paling baik di sisi Alloh. (tetapi) Jadilah manusia paling buruk dalam pandangan dirimu, (dan) jadilah manusia biasa di hadapan orang lain”.

“Sekalian yang kemarin, Pak,” kata seorang anak sembari menyodorkan buku aktivitas Ramadhannya untuk aku tandatangani. “Tampaknya kita memang telah memulai kecurangan dari masjid,” gumamku.

Hukuman kurungan untuk pencuri yang tertangkap jangan dikira membuat jera. Bisa-bisa keluar dari penjara malah lebih beringas dari sebelumnya. Yang membuat kapok YL pencuri kambuhan di Kampung Rambutan  bukan masuk keluar penjara, tetapi suatu hari ia tertangkap mencuri di kios pedagang rokok, Ia tidak diserahkan ke Polisi, tetapi ditelanjangi dan diarak keliling terminal, sampai berita ini diturunkan wajahnnya tidak pernah terlihat lagi di sekitar situ.
Saya tidak ingin masjid-masjid kita berisik dengan celoteh anak-anak. Tapi apakah adil meminta mereka setertib orang tua? Sedangkan mereka masih dalam proses belajar.

Suatu saat anak kami masbuk. Ia melanjutkan sholatnya sendiri. Ia berbisik, “Ummi, sholat maghrib berapa rakaat?” Sambil terus berdiri menghadap kiblat mendekap dadanya seperti orang dewasa sedang sholat. “Tiga,” jawab sang ibu yang telah menyelesaikan sholatnya. Dan sang anak melanjutkan kekurangan rakaat sholat maghribnya.  

“Apa definisi rumah bagi anda? Sesuatu yang melindungi anda dari panas dan hujan? Jika demikian rumah adalah sarang bagi manusia.”

Menurut saya, tidak ada maya yang sesungguhnya. Bagi Alloh tidak ada yang maya. Maka, kendati di dunia maya, menghargai dan tidak menyakiti adalah prinsip yang harus dijaga.

Menyakiti harkat kemanusiaan adalah menistakan diri sendiri. Memang ‘lawan’ anda tidak dapat membalas cacian anda, tetapi sesungguhnya andalah yang menistakan diri anda sendiri. Dengan menggunakan diksi yang kasar, maka anda telah meletakkan noktah hitam dalam relung hati anda. Jadi, andalah yang menistakan diri anda sendiri.

Ada kasus bibir sumbing yang membuat orang tua malu mengajak bayinya. Sang ibu menjadi malu Karena komentar kawan-kawannya. Rasa malu itu dia transfer ke buah hatinya. Si buah hati sebenarnya belum tahu harus bagaimana menyikapi bibir sumbingnya. Si bayi sebenarnya belum tahu jika kekurangannya itu harus membuatnya malu. Dia belum mengerti jika itu mengharuskan dia untuk minder. Bahkan dia belum tahu jika itu adalah kekurangan. Lingkunganlah yang mengajarinya untuk malu, untuk minder, untuk menyembunyikannya.

“Bagi saya rangking adalah sebuah kesimpulan paling pragmatis dalam proses belajar. Ia hanyalah sebuah penjumlahan—mungkin ditambah perkalian dalam kasus pembobotan—dan pembagian.”

Bagi saya, angka dan rangking cenderung merampas potensi anak. Dan cenderung mematikan tonjolan anak. Anak cenderung merasa dipersalahkan ‘hanya’ karena rangkingnya buruk.

Bagi saya, anak-anak tajam di beberapa hal tapi tumpul di bidang yang lain……Anak elang tentu tidak sehebat anak hiu dalam lomba renang. Anak hiu tentu tak bisa terbang sehebat anak elang. Anak kelinci memang tak sekuat anak singa, meski anak singa sulit dalam lomba menggali. Lalu, adilkah jika anak kita harus juara di berbagai bidang?

……mengapa anak kita harus selalu menjadi hero di kelasnya, di kursusnya, di kolam renang, di lapangan bola, di sempoa, di bahasa arab, di bahasa inggris, di lomba lari, di matematika, di kimia, di fisika, dan di mana-mana?....kita bukan tokoh hebat tanpa cela…..Yang selalu harus belajar. Maka sesungguhnya mereka juga sedang belajar. Yang seperti kita, kadang mereka gagal. Yang seperti kita, merasakan sakit atas kegagalan. Yang juga semoga seperti kita, selalu bangkit untuk belajar lagi. 

Kita jadi lupa bahwa PR itu adalah PR-nya. Adalah tugasnya. Bukan PR kita, dan bukan tugas kita. Namun jika mereka tidak bisa atau mengerjakan tidak sebaik keinginan kita, kita uring-uringan. Tidak jarang orang tua mengungkap kisah-kisah ‘heroiknya’ di waktu masih belajar. Ini tidak membantu. Mereka semakin terhina dan semakin memberontak. Anda bisa bayangkan perasaan apa yang ada? Kita memintanya meneladani? Anda mengharap itu memotivasi? Rasanya tidak.

Ingat! Dunia ini relatif. Kita bukanlah seorang yang kaya secara mutlak. Dan bukan miskin yang absolut.

Kami ingin anak-anak lurus-lurus aja terhadap regulasi. Kami ajarkan bahwa kita orang kecil yang tidak memiliki gantungan atau backing. Semua harus dilakukan sesuai regulasi. Cuma itu cara untuk hidup. Meminimkan persoalan dan resiko.

ABG enggan berbicara karena satu atau kombinasi dari marah, sedih, tidak percaya, takut, sedang ingin sendiri, bukan waktu yang tepat atau karena ia sedang malu. Karena satu atau kombinasi dari alasan-alasan tersebut di atas, anak enggan membicarakan sesuatu pada ortunya.

‘Mengumumkan’ kedekatan kita dihadapan anak-anak ABG berpotensi ditertawakan mereka. Meski –mungkin—Cuma dalam hati. Mereka merasa jadi obyek. Mereka tidak suka menjadi obyek. ABG lebih ingin jadi subyek.

Penyebutan pernikahan tanpa cinta adalah flat. Adalah vonis. Adalah pengingkaran terhadap dinamika hati. Setidaknya ada pengingkaran. Ada sebagian yang diingkari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar