Selamat Datang

Selamat Datang

Rabu, 18 Oktober 2017

SEPENGGAL RASA KETIKA AKAD


Bagaimana rasanya bila seseorang yang paling kau cintai berjalan ke arahmu, menggenapkan langkah-langkah kecilnya untuk berjanji sehidup-semati menemanimu dalam sedih atau bahagia-untuk selama-lamanya.
.
Bagaimana rasanya bila langkah-langkah itu kian dekat, semakin dekat, dan semakin dekat lagi, hingga membuat dadamu berdebar hebat? Sementara tatap mata dan senyuman terbaiknya hampir membunuhmu dalam kebahagiaan.
.
Beberapa menit ke depan, hidupmu dan hidupku akan segera berubah. Ini bukan hanya tentang menjadi sepasang suami istri, lalu kita bersama sepanjang waktu melakukan apa saja yang kita mau, tetapi lebih berat lagi. Bagiku, selepas ijab-qabul, kamu akan segera menjadi bagian dari tanggung jawabku. Aku berkewajiban membahagiakanmu, memenuhi segala kebutuhanmu, mendidik, dan membimbingmu ke Surga yang aku sendiri ragu bisa mencapainya. Semoga kita bisa melakukannya bersama-sama.
.
Tanganku dan tangan ayahmu telah saling menjabat, Ia mengeratkan genggaman tangannya. Menatap lekat mataku. Di sanalah, sesuatu yang asing seketika hadir dalam diriku-semua tentangmu, semua tentang kita. Semua perasaan bercampur, menerbitkan keyakinan sekaligus keraguan, sementara segalanya telah benar-benar dekat. Saat semua mata, amsal bagi penglihatan dan pengetahuan Tuhan tentang segala sesuatu, tertuju kepada kita.
.
Suasana seketika menjadi hening. Kekhidmatan menjalari semua yang hadir. Ujung mata kiriku kembali menangkap wajahmu yang kini tampak lebih gugup. Bibirmu tak berhenti, berzikir atau membacakan doa apa saja-aku bisa menduganya.
.
Lalu terjadilah pengalihan tanggung jawab itu, sederet kata yang sederhana tapi bisa membuat seorang ahli bicara sekalipun tergagap melafalkannya. Terucaplah sudah apa yang seharusnya terucap, hingga tak terasa air mata mengambang di pelupuk mataku, ada rasa hangat yang membuat napasku jadi berat. Aku menoleh ke arahmu, kamupun menoleh ke arahku. Aku melihatmu mengusap air mata- semoga kamu juga berbahagia. Kita bertukar senyum dengan cara yang asing-tapi begitu membahagiakan. Cinta seolah terbentang di antara kedua senyum kita. Kamu tersipu, aku tersipu.
.
Dengan terucapnya kata-kata itu maka kini kamu telah sah menjadi istriku, mengubah semua yang asalnya haram menjadi halal. Dan seketika itu pula kisah kita segera dimulai.
.
(diolah dari buku Rumah tangga karya Fahd Pahdepie)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar