Selamat Datang

Selamat Datang

Rabu, 28 Juli 2021

UNEK-UNEK

Apakah orang tua boleh menghalalkan segala macam cara untuk membahagiakan anaknya, menurutku sih tidak. Jika memang benar boleh menghalalkan segala cara lalu dimanakah Alloh, dimanakah syariat, dimanakah ilmu agama dan koar-koar mengenai agama yang selama ini ia dengungkan jika ternyata untuk hal seperti itu saja sudah berani melanggar syariat. Kalo sehari-hari kita gemar menggaungkan kebaikan lewat mulut kita lalu untuk hal seperti ini ingin berbuat curang, bukankah itu sudah menjatuhkan nilai diri anda. 

Disini ingin privilege, disana ingin privilege, dimana-mana aku ingin privilege. Mengapa kita enggan untuk berkompetisi secara sehat, mengapa kita ingin sekali menang dengan cara menyakiti orang lain. Bukankah dulu ketika kecil kita diajari oleh orang tua bagaimana bersikap jujur, bagaimana bersikap empati, bagaimana kita diceritakan oleh orang tua dan guru-guru kita buruknya orang yang curang, buruknya sikap licik, lalu kenapa setelah dewasa kita malah gemar sekali melakukan kecurangan dan kelicikkan itu atas nama rasa sayang pada anak yang notabene kita ajari setiap hari untuk berlaku lurus dan jujur, bukankah begitu. Apakah karena kita memiliki secuil kekuasaan maka kita bisa menduduki aturan, Apakah karena kita saudara si anu lalu kita bisa seenaknya melabrak aturan yang dibuat, apakah karena kita mempunyai uang lalu kita bisa membeli aturan-aturan itu agar keinginan kita bisa tercapai. Mungkin memang ada jalur itu, tapi menurutku sih itu seperti kolusi plus nepotisme yang dilembagakan/dilegalkan, mirip Malaysia yang melegalkan genting menjadi tempat judi. Lalu apakah karena pemerintah Malaysia melegalkan judi khusus di satu tempat saja maka judi menjadi halal, saya yakin jawabannya tidak.

Ingatlah jika seseorang sudah mengawali/memasuki sesuatu dengan cara yang tidak halal, maka jangan harap ketika didalam dan keluarnya juga akan menghasilkan generasi yang sholeh, mungkin saja anak itu bisa cerdas setelah didalam, tapi apakah ilmunya itu akan berkah dan menjadi kebaikan, aku sih ragu, yang ada mungkin kepintarannya itu akan berubah menjadi kelicikan karena dia sendiri produk dari sebuah kelicikan.

Tapi pada akhirnya entahlah, mungkin mereka sedang lupa, mungkin belum tahu, atau mungkin pemikiranku yang salah, entahlah.

Selasa, 27 Juli 2021

TERNYATA HARUS BERAKHIR SEPERTI INI

(Cerpen pertamaku di blog ini, selamat membaca..😊)


Pertama kali aku melihatmu tanggal 3 Juli, saat itu di daerah kita ada takmir masjid yang meninggal, aku melihatmu sama seperti orang yang lainnya, kita berdua sama-sama melayat ke rumah Takmir masjid itu, saat sholah jenazah di masjid akupun melihatmu ikut sholat jenazah di barisan perempuan, sampai penguburan jenazah di area pemakaman, lagi-lagi aku melihatmu disana menghibur keluarga yang ditinggalkan kalau tidak salah, semua ini tentu saja hasil ingatan yang coba kuingat kembali, karena pada saat itu kita benar-benar tak ada hubungan apapun.

Saat sholat maghrib aku kaget karena aku melihatmu lagi di masjid, sendiri berada di belakang untuk mengikuti sholat berjamaah karena memang tak ada siapapun lagi perempuan yang sholat di masjid. Jujur saat itu aku mulai bertanya-tanya, siapa perempuan ini, mungkin keluarga takmir masjid yang baru saja meninggal itu, yang ingin menggantikan posisi keluarganya yang memang menjadi pengurus masjid di daerah ini, mungkin takmir itu tak punya anak laki-laki, pikirku, tapi ya sudah hal itu biasa saja dan tak jadi berlarut-larut ada di pikiranku.

Hari berganti hari dan ada pemandangan berbeda sekarang di masjid setiap sholat 5 waktu dilakukan. Shubuh, Dzhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya kamu selalu ada di belakang shaf laki-laki, sendiri, ikut berjamaah bersama kami, jamaah laki-laki yang banyaknya pun tak seberapa. Pada saat itu lagi lagi aku berpikir “hebat sekali perempuan ini, setiap waktu sholat dia selalu ada, apa dia benar-benar ingin melanjutkan tongkat estafet dari takmir masjid yang baru saja meninggal itu”. 

Adalah kebiasaanku untuk tidak pulang ke rumah setelah sholat Maghrib dan memilih untuk menunggu sholat Isya dengan membaca Al-Qur’an atau berbincang dengan beberapa gelintir orang yang juga punya kebiasaan sama sepertiku. Karena saat itu baru selesai idul fitri aku sempat meninggalkan kebiasaan itu karena sedang shaum sunnah 6 hari di bulan syawal dan aku memilih untuk berbuka shaum dulu di rumah dan baru ke masjid ketika sholat isya. Tepat pada hari aku menyambung kembali kebiasaan itu setelah menyelesaikan shaum, tepat setelah sholat sunnah Ba’da maghrib, orang yang kuhormati bapak ketua kampung menyapaku, 

“kamu kemana aja?

Karena beliau sendiri juga sama sepertiku tidak pernah pulang setelah sholat Maghrib dan memilih menunggu waktu Isya di masjid. Akupun menjawab

”baru menyelesaikan shaum sunnah 6 hari pak”.

Bapak itupun menjawab.

“wah saya saja belum”

katanya sambil tersenyum ramah. Ketika dialog itu terjadi kamu juga ada di situ, karena satu lagi yang membuatku kaget karena kamu pun memilih untuk tidak pulang dan memilih menunggu waktu isya seperti kami. Dalam hati aku semakin bertanya-tanya ”hebat, perempuan ini hebat sekali, sepertinya dia benar-benar ingin meneruskan tugas takmir masjid itu”.

Hari pun mengalir lagi, aku sering melewatimu yang akan ke shaf depan untuk sholat, setiap kali aku melihatmu kamu selalu saja sedang menunduk, aku bahkan ingat kamu sempat membawa makanan kecil di tas kain yang selalu kamu bawa ke masjid, suara kriuknya terdengar dari balik tiang masjid yang menghijab antara aku dan kamu. Terus saja hari-hari berlalu seperti itu sampai datanglah tanggal 13 Juli, saat itu aku baru saja keluar dari masjid selepas sholat Isya, melewatimu seperti biasa menuju pintu masjid, ketika ujung mata ini melihat Bapak ketua kampung kulihat ia tersenyum padaku, aku tak menyadari apapun saat itu, karena beliau memang kukenal sebagai orang yang murah senyum. Baru saja beberapa langkah kaki ini meninggalkan area masjid, saudaraku mendekatiku dan berbisik 

”Aku ingin bicara sama kamu, tapi kamu jangan kaget ya”. 

Meskipun dia bilang begitu tetap saja hati ini kaget kenapa tidak biasanya saudaraku ini meminta untuk bicara, dan sepertinya serius. Sepanjang jalan aku berpikir apa yang dia ingin bicarakan, sampai tiba-tiba aku teringat kamu, apakah mungkin?. Cukup 5 menit kami berjalan utntuk mencapai rumah saudaraku itu. Ia memintaku untuk duduk dan tidak lama ia langsung duduk dan berkata

”Berapa usia kamu sekarang” 

kujawab “28 tahun”

ia lalu berkata lagi ”Begini, kemarin Bapak ketua kampung bertanya padaku, Pak, apa Arul sudah punya pacar, ini misalkan, misalkan lo ya, kira-kira Arul mau nggak sama putri saya itu, bagaimana kalau kita jodohkan mereka pak?”

Begitu mendengar kalimat itu aku kaget luar biasa, jantungku serasa naik sampai ke leher. Ternyata keberadaanmu selama ini ternyata adalah untukku. Saat itu aku berpikir apa langsung saja terima tawaran luar biasa ini, Kami semua di daerah ini tahu bahwa ayahmu adalah orang terkaya di daerah ini, memiliki keluarga dengan garis keturunan yang bagus, ingin sekali kukatakan iya saat itu juga, makanya aku sempat berucap “tolong beri saya waktu satu minggu untuk berpikir”, tapi sesaat itu pula aku kembali berpikir bahwa aku belum mengetahui apa-apa mengenai dirimu, pernikahan adalah sesuatu yang besar dan aku tidak ingin salah dalam memutuskan dalam hal ini, aku juga berpikir apa pantas aku mendapatkanmu. Kamu memiliki keluarga, teman-teman, pendidikan, lingkungan yang hebat, apa pantas kamu menggantungkan masa depanmu padaku, seorang laki-laki tanpa cita-cita. Aku berpikir lagi bahwa kamu berhak tahu seperti apa diriku supaya kamu bisa menimbang dan menilai sebelum memtuskan kamu mau menerimaku atau tidak. Oleh karena itu aku meralat kata-kataku yang pertama.

”begini pak, saya dan dia kan belum saling mengenal, boleh nggak saya ngobrol dulu dengan dia, besok kan dia ada di masjid, saya ingin bicara dulu dengan orangnya supaya kita bisa saling kenal terlebih dahulu”.

 “ooh begitu, baik, besok saya sampaikan pada ayahnya, kalau menurut saya kamu mau cari yang bagaimana lagi, usia kalian berdua sudah cukup, dia dari keturunan yang bagus, keturunan orang yang berkecukupan, meskipun jangan liat kekayaannya karena yang kaya kan tetap orang tuanya, kalau anaknya yah sama saja seperti kamu”

Pulang dari rumah saudaraku semalaman aku tak bisa tidur, Cuma bergulingan di kasur berpikir kesana kemari tak tentu arah, jantung ini terus berdetak cepat, tak menyangka dengan hal ini, anak orang paling kaya di daerahku akan dijodohkan denganku, ya diriku, yang berpenghasilan hanya 900.000 perbulan hasil dari upah harian.

Esok harinya saudaraku datang ke rumah, jam 7 pagi kalau tidak salah, ia langsung berkata 

“ini nomor teleponnya, biar komunikasinya lewat hp saja supaya gak jadi fitnah, kata Bapak Ketua Kampung dianya sudah setuju, tapi kamu jangan bilang-bilang pada keluargamu dulu ya”. 

Saat itu hatiku semakin berbunga-bunga dan bahagia mendengarnya, ini benar-benar luar biasa pikirku. Setelah itu aku pun langsung memikirkan bagaimana cara untuk menghubungimu untuk pertama kalinya, apa lewat telepon atau sms, bagaimana kata-kata pertama yang harus terucap, bagaimana susunan kalimatnya, karena terus terang ini pertama kalinya bagiku mengalami hal seperti ini walau usiaku sudah 28 tahun. Akhirnya aku memilih untuk mengirim sms, kalau tidak salah kalimatnya seperti ini: 

“Assalamualaikum dik, saya Arul, mudah-mudahan adik tidak masalah kalau kita berkomunikasi lewat sms saja, karena kalau telepon takut tidak fokus dan melenceng ke hal yang tidak penting, terima kasih”

Setelah itu aku menunggu sms jawaban darimu, satu jam, dua jam, tiga jam, sampai tengah hari bahkan sampai maghrib sms balasan tak kunjung datang. Ketika bakda isya aku berkata pada saudaraku sambil berjalan beriringan 

“pak, nomornya apa gak salah, kok gak ada jawaban”,

”masa sih, kamu telepon atau sms”

”sms pak, kalau telepon saya masih malu”

”oh, ok nanti deh saya Tanya ke bapaknya, ayo ikut ke rumah”ujarnya sambil terus berjalan.

Sesampai di rumahnya saudaraku langsung menelepon ayahnya

”Pak, nomor yang Bapak kasih kemarin itu salah nggak, ini Arul kirim sms katanya tidak dijawab, mau telepon langsung masih malu katanya”.”

coba sebutin lagi nomornya pak”

”baik ini 08XXXXXXXXXX”

”betul ah.., oh iya itu untuk wa, kalau mau telepon atau sms coba ke no 08XXXXXXXXX”.

“oh begitu ya, terima kasih pak”. Saudaraku lalu berkata padaku

”nih Rul, kalau kamu telepon atau sms ke nomor ini”

”baik pak, saya catat ke hp”.

Tidak lama setelah itu kamu membalas smsku, mungkin karena kamu dihubungi bapakmu, isi sms itu seingatku seperti ini.

“Waalaikumsalam, Kang Arul punten smsnya baru dibuka, punten komunikasinya bisa dilanjut nanti, saya lagi ada kajian di masjid Al Hidayah, kalau bisa kita komunikasinya lewat wa aja”

Hatiku berdebar, ini pertama kalinya seorang wanita mengirim sms padaku, akupun menjawab smsmu.

“Oh iya gak apa apa dik, saya takut salah aja nomornya, tapi punten saya gak punya wa”

Tidak terlalu lama kamupun membalas smsku

“Oh iya Kang gak apa apa”.

Kamu mungkin tertawa kalau tahu, tapi aku sangat senang kita berkomunikasi meskipun hanya seperti itu. Aku senang sekali.

Keesokan harinya aku langsung merumuskan teknis taaruf yang kupikir cocok untuk menjembatani kita, 2 hari aku mencoba merancangnya, mencari sumber, mengedit, memperisapkan CV ku, lalu pada hari ketiga aku pun kembali mengirim sms padamu

“Assalamualaikum, Dik maaf apa sedang ada kegiatan, saya mau jelasin semacam rule of the game komunikasi kita?” 

Setelah itu aku menunggu balasan darimu, 1 hari terlewati, kupikir wajar bagi seorang yang sudah biasa berkomunikasi lewat WA kurang memperhatikan Mailbox smsnya, aku memilih menunggu. Lalu akhirnya datanglah jawaban setelah selang 2 atau tiga hari setelah sms yang kukirim, aku ingat betul saat itu jam 2 siang, aku sedang ada di tempat kerja, sms balasan darimu datang, ini balasan darimu

“wa’alaikumsalam, oh rule of the game itu maksudnya kayak gimana?”

Jawaban darimu datang, tidak bisa tidak aku tersenyum, entah karena dapat balasan darimu, atau karena apa, yang jelas saat itu aku tersenyum. Akupun segera membalas pesan darimu.

“baik dik saya jelaskan, punten saya mau kirim 6 sms sekaligus”

6 sms itu sudah kupersiapkan sebelumnya, aku simpan di kotak masuk hp supaya pada saatnya tiba aku tinggal mengirimnya padamu, niatku hanya ingin melihat bagaimana visi hidup dan berumah tanggamu, aku ingin menjelaskan kekurangan-kekuranganku agar kamu tak kecewa dan bisa menilai lebih jernih, dan juga saling menyiapkan diri dalam hal kelebihan dan keburukan calon pasangan, saat ini aku baru menyadari bahwa mungkin 6 sms ini yang akan “mengakhiri semuanya” ini isi 6 sms itu, detilnya mungkin ada yang terlewat tapi intinya seperti ini.

“Pernikahan merupakan hal yang besar bagi hidup seseorang, alangkah baiknya bagi calon pasangan yang akan menikah untuk saling mengenal terlebih dahulu calon pasangannya.  Oleh karena itu alangkah baiknya bagi calon pasangan untuk taaruf (perkenalan) terlebih dahulu dengan tahapan sebagai berikut:”

“1. Bulan ke 1, pada bulan ini ikhwan mengirim CV pada akhwat, setelah membaca dan mempelajari CV tersebut silakan akhwat bertanya untuk menggali informasi mengenai tentang ikhwan tersebut baik tentang kepribadiannya, pemikirannya maupun visinya tentang pernikahan.”

“2. Bulan ke 2, pada bulan ini gantian akhwat mengirim CV pada ikhwan (selanjutnya sama seperti pada bulan ke 1)”

“3. Bulan ke 3, pada bulan ini adalah bulan untuk merenung, berpikir, beristikhoroh, memperbanyak ilmu dan amal atau mungkin bertanya hal-hal yang dirasa masih belum ditanyakan pada bulan sebelumnya sampai pada akhir bulan yaitu menentukan apa proses ingin dilanjut atau tidak”

“4. Bulan ke 4, awal bulan ke 4 silahkan masing-masing ikhwan dan akhwat memberitahukan kepada walinya masing-masing apa keputusan yang diambil. Jika 2 belah pihak mengatakan iya, maka proses berlanjut ke tahap berikutnya, tapi jika salah satu pihak atau keduanya mengatakan tidak maka proses terhenti”

“Bagaimana dik, menurut adik apa ada yang harus diedit, ditambah atau dikurangi dari “rule of the game” komunikasi kita. Saya mensetting hal ini semata-mata supaya kita berdua bisa saling mengenal, memantapkan hati masing-masing, dan menghindari kekecewaan-kekecewaan yang sebetulnya bisa diantisipasi sebelumnya. Kita hanya bisa berusaha Alloh yang menentukan, ditunggu jawabannya?”

Setelah sms itu terkirim aku semakin memantapkan CV yang sudah kubuat, menambah dan memasukkan apa saja yang menurutku harus diketahui oleh orang yang akan menikah denganku, meski tentu saja semuanya belumlah pasti.

Hari berganti hari sampai minggupun berganti sms balasan darimu belum juga datang, aku berpikir kamu mungkin butuh persiapan untuk menyiapkan CVnya dan pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan. Aku dengan lugu tak menyadari apa-apa saat itu, tak menyadari bahwa aku sudah berbuat kesalahan. Bapak ketua kampung bersikap sama seperti sebelumnya, selalu baik dan murah senyum, begitu pun saudaraku, semuanya tak ada yang aneh. Pernah suatu malam saudaraku bertanya padaku

 “bagaimana masih nyambung (komunikasinya)”

“masih, udah 3 kali kita komunikasi, saat ini mungkin ia sedang berpikir”

“oh, kamu tenang ya jangan terburu-buru, cik asak-asak nenjo (lihatlah dengan matang dan hati-hati)

“iya pak, baik”

2 minggu berlalu, kurasa ini sudah mulai terlalu lama, apa yang sebaiknya kulakukan, apa minta bantuan saudaraku lagi seperti waktu untuk komunikasi dengan bapaknya, ah terus-terusan ngerepotin orang tua pikirku, lebih baik itu jadi opsi terakhir. Aku mencoba untuk mencari namamu di media social facebook, satu-satunya media social yang kupunya, kuketikkan namamu disana, tak perlu waktu lama akhirnya aku mendapatkan akun facebookmu, kamu menggunakan nama asli dan juga namamu tidak terlalu banyak dipakai orang, cukup mudah mencarinya. Banyak info yang kudapatkan disana, ya tentang kamu, keluargamu, kegiatan-kegiatanmu, perjuanganmu, kelakarmu,  keberpihakkanmu dll. Ya selayaknya orang yang stalking lah gimana. Setelah itu aku berpikir kalau lewat media social mungkin komunikasi bisa lebih mudah, maka akupun mengajak untuk melakukan pertemanan di facebook, tapi kamu tak meresponnya, bahkan setelah beberapa waktu ketika kamu membuat posting terbaru makin yakin aku bahwa permintaan pertemananku diabaikan, tapi aku mencoba berprasangka baik, mungkin kamu takut jika lewat medsos yang notabene lebih mudah dibanding sms akan membuat kita berkomunikasi panjang lebar tak tentu arah, mungkin kamu berhati-hati, aku maklumi itu (padahal ini cuma asumsiku saja).

Masuk waktu tiga minggu, di waktu ini kurasa aku harus kirim sms lagi untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, mungkin orang-orang akan mengatakan kenapa tidak langsung telepon, yah aku bukan orang yang pandai bicara langsung pada wanita, aku terlalu pemalu untuk itu, yang jelas aku kirim sms lagi, ini isi smsnya.

“Assalamualaikum, dik bagaimana apa sudah ada keputusan, supaya taarufnya sudah bisa dimulai, atau mungkin adik punya pemikiran sendiri tentang teknis taarufnya harus gimana, silahkan atuh dishare. Terima kasih”

Aku menunggu lagi, tapi balasan sms darimu tak kunjung datang, Agustus, September, aku merasa kamu semakin jauh dariku, ada apa ini?. Lagi-lagi aku berbuat bodoh, aku mencari akun IG mu, dan dapat. Disitu aku melihat apa-apa yang biasa dibagikan di IG seorang seperti kamu, lalu aku membaca sebuah posting dalam IG itu. Sebuah posting yang seolah-olah menyemangatiku untuk bersabar dan menjadi jauh lebih baik. Aku berbunga-bunga membacanya, ternyata kamu ingin menyiapkan diri untuk menjadi lebih baik lagi dulu, begitu pikirku saat itu, aku benar-benar polos, menyimpulkan segala sesuatu dari suatu hal yang tidak jelas seperti itu.

Sebenarnya sebelum semuanya menjadi terang benderang ada 2 waktu dimana aku seharusnya sadar bahwa kamu sudah melangkah jauh dariku. Kejadian pertama di dalam akun IGmu, dimana disitu ditulis bahwa kamu berstatus sudah dipinang, siapa yang meminang kamu yang jelas bukan aku, kapan aku meminang kamu? Ditambah lagi ada sebuah foto seorang laki-laki yang wajahnya ditutup dengan sebuah emoticon sehingga tidak diketahui seperti apa wajahnya. Kedua ketika paman dan sepupuku berbincang-bincang di dekatku, mereka berbicara tentang Bapak Ketua Kampung yang akan menikahkan anaknya yang bungsu, aku tahu kamu tiga bersaudara dan kamu adalah anak bungsu, harusnya 2 kejadian ini sudah membuatku sadar bahwa kamu telah pergi, tapi entah karena prasangka baik atau karena kebodohanku yang memilih untuk mempercayaimu sampai akhir, pikirku kamu pasti akan membuat jelas hal ini suatu hari nanti, aku bodoh banget kan ya?

 Waktu melangkah lagi, Oktober, November, dalam rentang ini aku mengirim satu sms padamu, sebuah sms yang isinya bermaksud menguatkan kamu yang sedang menguat menjadi lebih baik, karena aku pun disini sedang berusaha untuk menjadi lebih kuat, menjadi lebih dewasa dari sebelumnya. Kalau tidak salah tanggal 7 November, ya 7 November kalau tidak salah, saat itu aku sedang bekerja seperti biasa, waktu menunjukkan pukul 2 siang lewat sedikit, kebetulan saat itu aku tidak terlalu sibuk, aku kembali iseng membuka akun IGmu dan betapa terkejutnya diri ini (meskipun sebenarnya kalau dipikir lagi bahwa tak ada lagi respon sms balasan darimu sejak bulan Agustus itu) aku mendapati fotomu yang tengah berfoto bersama 3 orang lainnya dalam sebuah ruangan, mungkin itu di rumahmu, dalam foto itu kamu tersenyum bahagia, begitupun dua orang lainnya yang kuketahui sebagai kakak dan saudara perempuanmu, dan satu orang lagi seorang laki-laki berbadan tinggi, tegap dan gagah tapi tetap wajahnya tertutup oleh editan emoticon sehingga tidak bisa diketahui seperti apa wajah dibalik animasi emoticon itu. Di dalam caption foto itu kamu menulis betapa kamu bahagia karena telah menemukan seseorang yang serius dan merespect dirimu sebagai salah seorang dari kaum hawa, selanjutnya kamu berdoa bahwa niat baik ini bisa terlaksana dengan lancar dan pernikahan kalian semakin membuat kalian berdua semakin dekat dengan Tuhan. Aku membaca tulisan itu, beragam rasa berkecamuk di dalam diri, ada rasa kecewa serasa ditusuk tombak berkarat karena mengetahui bahwa akhirnya menjadi seperti ini, senang juga karena akhirnya semua tanya yang selama ini menggelayut di dalam hati dan pikiran akhirnya menjadi jelas dan tidak tertutupi suatu apapun lagi, ada rasa marah juga karena kenapa kamu tidak bicara dengan jelas padaku bahwa kamu sudah dipinang orang lain, lebih enak jika kamu bilang jangan dekati aku lagi, aku sudah dipinang, tetapi kamu memilih diam dan membuat orang lain menunggu untuk waktu yang cukup lama, apalagi meilhat keterangan di foto itu bahwa lamaran itu dilakukan pada tanggal 24 September, wow cukup lama juga pikirku. Ternyata penantianku selama ini sia-sia, ternyata postingan di IG itu bukan untukku dan ternyata akhirnya kamu lebih memilih orang lain.

..***

Aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan, melihat kalian bersanding disana, dipelaminan, berbahagia dengan senyum lebar mengembang dari bibir kalian berdua, ramai sekali undangan ini, kampung kami benar-benar berpesta hari ini, tamu yang banyak membludak membanjiri tempat resepsi, orang-orang hilir mudik masuk dan keluar untuk menghadiri pernikahanmu. Aku akhirnya sadar tidaklah perlu untuk marah, kecewa bahkan membenci berkepanjangan. Aku berpikir lebih baik aku mengucapkan selamat dan mendoakanmu seperti apa yang aku tulis di message terakhirku padamu satu jam setelah aku mengetahui bahwa kamu benar-benar akan menikah dengan orang lain.

“  Assalamualaikum, maaf dik saya memberanikan diri untuk mengirim message ini. Terima kasih telah memberikan kejelasan dalam hal ini bahwa adik akan menikah, saya minta maaf atas kesalahan-kesalahan yang sudah saya lakukan selama ini, mudah-mudahan kita bisa berteman dalam persaudaraan sesama muslim baik di dunia maya maupun dunia nyata. Terima kasih karena sudah mau mengenal saya. Selamat berbahagia. Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair.”

Bagi yang mengetahui kisah kita ini mungkin akan berpikir bahwa kita tidak berjodoh, tapi aku berani mengatakan bahwa sebenarnya kita berjodoh.  Kita berjodoh karena Tuhan telah mempertemukan kita dan mengizinkan kita untuk berbagi harapan dan kebahagiaan meskipun akhirnya tidak seperti yang diharapkan, Kita berjodoh karena Tuhan menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi dalam memaknai hidup ini lewat pertemuan dan perpisahan kita.

Aku tidak tahu kamu bagaimana

Kalau aku, aku ingin berterima kasih padamu

Terima kasih telah menyadarkanku akan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang terus bergulir usianya ini.

Terima kasih telah memberiku pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga tentang cinta, perasaan, wanita, menjaga hubungan bahkan hidup ini.

Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku, banyak orang yang ingin melupakan masa lalu dengan orang-orang tertentu, tapi aku tidak, aku ingin menyimpan dirimu dalam salah satu sudut hatiku, aku tak akan melupakanmu selama-lamanya, aku ingin kamu menjadi pengingat bagi diriku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam menjalani sisa kehidupan di dunia yang fana ini.

Masalah penyebab kenapa kamu berpaling, ah kadang-kadang aku berpikir sejak kapan kamu mulai berpaling, dugaanku yang terkuat adalah mungkin ketika rentetan 6 sms itu terkirim, mungkin kamu mengganggap itu sebuah kalimat penolakan, meskipun sebenarnya tak ada sebersitpun di dalam hati ini untuk menolakmu, aku hanya ingin berkenalan dulu lebih jauh denganmu sebelum mengambil keputusan, juga untuk memberitahukan dulu padamu kelebihan dan kekuranganku agar kamu lebih jernih menilai, tapi kelihatannya kamu salah sangka atau malah tidak tertarik, mungkin pikirmu aku terlalu berbelit-belit ya hehe. Atau dugaan keduaku dari awal kamu memang tidak tertarik dijodohkan denganku, kamu hanya berusaha untuk berbakti pada orang tua saja dengan mengikuti kemauannya, mungkin kamu sudah punya calon sebelumnya, ini terbukti dengan rentang waktu yang begitu singkat sampai kamu mendapat penggantiku dan segera dilamar olehnya. Tapi toh akhirnya itu semua gak penting kok, yang jelas sekarang kita harus terus melanjutkan hidup kita yang hanya satu kali ini dengan terus menerus berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari.  

Lhokseumawe, 13 Juli 2017 - Tasikmalaya, 7 November 2017.


TENTANG CONTEK-MENYONTEK


Kapan pertama kali kamu menyontek di kelas, SD, SMP, SMA, mungkin kebanyakan orang mulai masuk ke dalam dunia contek menyontek ketika kelas 4 SD, mungkin loh ya, kan gak tau juga. Kalau aku, aku sudah mulai menjalani dunia contek menyontek ketika duduk di bangku kelas 1 SD, ya benar kelas 1 SD, awal banget kan ya. Dulu aku kelas 1 SD di salah satu SD di  Kota Bandung. Waktu SD kelas 1 itu, aku duduk sebangku dengan anak yang namanya A...., seorang anak dengan perawakan kecil, berkulit cukup hitam, dan bertubuh kurus, A.... ini anaknya keliatan mandiri dan yang pasti pinter banget untuk anak seusia kita, dia ini anak paling pintar di kelas dan dari dia ini tiap hari aku dapat contekan, pokoknya tidak ada hari tanpa nyontek dari kerjaan punyanya dia (jangan ditiru ya temen-temen🙏).

Setelah melihat dan merasakan sendiri fenomena contek-menyontek ini, sepertinya aku ingin memberikan nasihat kepada mereka yang masih bergelut dengan dunia contek menyontek. Memang dengan menyontek, permasalahan yang ada di depan kita bisa selesai dengan cepat dan tidak melelahkan karena kita tidak perlu belajar untuk menjawab sebuah soal, kita diuntungkan dalam jangka waktu yang pendek, tapi kita kelak akan merasakan sendiri bahwa kita sedang menabung kerugian jangka panjang. Setelah lulus kita akan sadar bahwa kita tidak bisa apa-apa karena kita mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan satu masalah dan itu sangat menyedihkan, kita akan merasa hasil sekolah selama ini hampir tidak ada yang nyangkut di kepala, ijasah yang kita sandang jadi terasa hambar karena kita tahu bahwa itu bukan hasil dari sebuah kerja keras untuk belajar dan menyelesaikan soal dalam ujian, tidak ada kepuasan batin ketika kita menerima ijasah dan raport itu, tidak ada rasa bangga di dalam hati karena kita telah melewati waktu dan ujian dengan hasil yang maksimal dan itu memang karena kemampuan kita.

Apa yang kamu dapat dari menyontek, tidak ada. Mungkin kamu punya nilai bagus, mungkin kamu lulus, tapi tidak akan ada kepuasan batin dalam diri jika kamu terus menyontek dan menyontek. Kamu akan menyadari saat sudah lulus bahwa kamu gak bisa apa-apa, waktu yang kamu habiskan selama ini untuk sekolah tidak ada artinya sama sekali, kamu sudah membuang-buang waktu selama ini. Oleh karena itu nasihatku padamu, berhentilah menyontek dari sekarang, tekadkan diri untuk mendapatkan hasil maksimal dari usaha kita sendiri, kalau kita sudah berjuang maksimal, apapun hasil yang didapat kita akan merasa puas karena kita sudah melakukan yang terbaik. Percaya deh, kalau kita berjuang maksimal, InsyaAlloh hasilnya gak akan mengecewakan👍.


SCHOOL EDITION

 


1. Rank Tertinggi?

Pernah ranking 1, sekali-kalinya waktu SD kelas 2 caturwulan 2 di Palembang, selebihnya ranking kedua atau ketiga, mulai kelas 4 ranking mulai nurun bahkan kalo gak salah pernah gak ranking sama sekali pas kelas 6, mungkin efek gemar bermain yang kebanyakan waktu itu hehe. Kalo Pas SMP itu paling parah, karena gak pernah masuk ranking satukalipun, bahkan pernah pas bagi rapot hampir paling bawah karena temen-temen lain udah dikasih,udah pulang dan kelas udah sepiiii tinggal beberapa gelintir anak (Anak Yang Ranking kesatu ada ditumpukan rapot paling atas), yah mungkin karena jiwa muda yang makin menggelora hahaha. Kalo pas SMK udah gak ada sistem ranking jadi ya gak tau kita ada posisi berapa dari satu kelas itu, tapi perasaan waktu SMK gak jelek-jelek amatlah, lumayan.


2. Rank terendah?

Mmmmm waktu SMP pastinya, gak tau keberapa pokoknya kelas udah sepi, kalo gak salah nyisa 3-4 anak dikelas hehehe.


3. Pernah masuk BK?

Pernah, waktu SMK. Tapi sebetulnya Cuma kebawa-bawa aja kali ya, karena waktu itu temen-temen sekelas yang lagi pada nongkrong diluar kelas ngata-ngatain dan nyorakin guru Bahasa inggris yang baru datang ke sekolah (fyi pelajaran Bahasa inggris ini gak disukai anak-anak karena waktunya yang dimulai jam 12, padahal kalo pelajaran yang lain kita sekelas baru masuk jam 1 siang karena jurusan kita bagian siang). Guru Bahasa Inggrisnya cewek dan nangis dong disorakkin anak-anak, kita “disidang” di ruang guru ada mungkin 1 jam. Yang lebih epik lagi di Mesjid sekolah hari itu ada pertemuan dengan orang tua siswa yang mana ortu kita semua udah pasti ada dong disana, gak kurang tegang apa coba waktu itu hahahaha.


4. Pernah bolos?

Pernah sekali, dulu waktu SD. Waktu itu ada acara nonton film gak jauh tempatnya dari sekolah, tapi bu guru bilang selesai nonton gak langsung pulang tapi balik ke sekolah belajar seperti biasa sampai waktu pulang biasanya. Selesai nonton anak-anak males balik ke sekolah, sempet ragu mau ke sekolah lagi atau pulang. Lagi ngumpul dan ragu begitu, ngeliat guru dari kejauhan di gerbang sekolah, gak ada komando saat itu, cuman ngeliat temen ada yang lari takut keliatan guru, kita semua”reflex” ikut ngacir dan akhirnya pada pulang deh kita semua hahaha.


5. Pernah suka sama temen sekelas?

Pernah waktu SD, pas masih kelas bawah malah, tapi cuma sebatas suka ajalah, hahaha


6. Pernah gabung di OSIS?

Gak pernah, dan jujur gak pernah minat gabung di OSIS, simple aja sih mikirnya, kalo pas jam pulang kita semua pulang, anak OSIS mah nggak, masih rapat dulu lah, acara ini dulu lah, mendingan maen PS sama temen-temen hehehe


7. Mata pelajaran Tersusah?

Semua pelajaran yang sifatnya hitungan, Matematika, Fisika dll. Wah pelajaran kayak gitu gak suka banget, sampai sekarang mungkin hihihi


8. Mata pelajaran termudah?

Bahasa Indonesia, mungkin karena suka dengan mata pelajaran itu kali ya, jadi bawaannya gampang aja.


9. Pernah sebelahan bangku sama crush?

Gak pernah, Alhamdulillah temen sebangku dari SD sampai SMK bukan orang-orang kayak begitu, lagian males dah sebelahan sama orang kayak gitu


10. Pakai buku tulis merk apa?

Paling inget itu merk Sinar Dunia dan Mirage, Paling memorable Mirage warna hijau dan magenta gambar bebek hadiah juara 1 sepakbola antar RT tahun 1999 (bangganya itu lho) meskipun bukunya cuma 20-25 halaman.


11. Pakai pena merk apa?

Wah banyak, gak ada yang spesifik


12. Pernah dihukum

Mmmmm yang paling diinget waktu SMP, biasa, datang kesiangan hari Senin, jadilah kita-kita yang terlambat dijadikan bahan tontonan dan ejekan anak-anak satu sekolah ketika upacara (paling memorable dibilang huuuuuu satu sekolah) hahaha 


13. Kalau lomba sering jadi apa?

Lomba apa dulu nih, kalo lomba balap kerupuk, Tarik tambang dll dulu di sekolah gak pernah hehehe, paling pas SMP pernah kelas kita ikut turnamen sepakbola antar kelas, saya ikutan main jadi kipernya, jaga gawang itu enak, bisa sambil nyender ke gawang dan ngobrol sama orang-orang dipinggir lapangan (kalo tim kita lagi nyerang tentu saja) hehe


14. Pernah jadi petugas upacara?

Belum pernah, dan tidak berminat sama sekali hehehe


15. Pernah disukai sama temen seangkatan?

Waduh gak tau ya, atau mungkin saya orangnya kurang peka gitu, hahaha.


SEKOLAH ISLAM TERPADU, MAHAL YA?

 

Bismillahirrahmaanirrahiim

Obrolan Pertama

Malam itu, setelah menunaikan sholat isya, seperti biasa akan ada obrolan ringan sebelum saya pulang kembali ke kos. Kali ini, obrolan bersama seorang ayah. Beliau adalah senior saya di kampus. “Duh, besar banget ya biaya buat masuk SDIT itu” keluh beliau. “Gak bisa ditawar gitu pak? Sama ikhwah gitu” jawab saya coba memberi solusi. “Wah, gak bisa ru. Saya kenal komite sekolahnya, Pak Budi. Beliau Cuma bisa kasih keringanan dengan cara mencicil sampe pegel katanya” jawab beliau dengan ringan dan tawa kami pun pecah. Saya sempat tertegun dengan pernyataan beliau ini. Kenapa? Dalam hal kemampuan finansial, beliau saya perhatikan sudah cukup mapan. Dengan kondisi tersebut, ternyata beliau masih merasa berat dengan biaya yang dibebankan SDIT tersebut.

 

Obrolan Kedua

Perjalanan sore dari arah Jakarta menuju daerah penyokong seperti Bintaro selalu saja menghadapi kemacetan. Dalam himpitan kemacetan yang padat, saya dan seorang ayah yang lain pun berbincang. Ia, seorang ayah dari dua orang putra-putri. Entah bagaimana awalnya, kami berdua berbincang tentang sekolah islam terpadu. Beliau merasa keberatan juga dengan biaya yang mahal untuk menyekolahkan anaknya di sekolah islam terpadu. Padahal, ia adalah seorang pegawai pajak yang punya penghasilan cukup. Obrolan tentang sekolah islam terpadu kali ini pun berujung pada sebuah pertanyaan yang saya ajukan waktu itu: Akan dibawa ke arah mana sekolah islam terpadu? Ke arah seperti YPI Al Azhar atau Sekolah Muhammadiyah? Dua yayasan pendidikan ini saya anggap sebagai dua paradigma pendidikan yang berbeda dari sudut pangsa pasar, karakteristik, maupun biaya pendidikan.

 

Kok Mahal?

Bukan sekali-dua kali ini saja saya mendapat keluhan tentang betapa mahalnya biaya pendidikan di Sekolah Islam Terpadu. Keluhan dari orang sekitar, di blog, atau sumber lainnya, semua mengeluhkan hal yang sama. Kenapa bisa mahal? Dari berbagai sumber yang saya temui, ada beberapa hal yang membuat biaya pendidikan di Sekolah Islam Terpadu menjadi mahal. Pertama, seluruh biaya operasional sekolah ditanggung dan dikelola secara mandiri, tidak ada dana bantuan dari pemerintah. Kedua, kegiatan belajar mengajar yang lebih lengkap karena mengintegrasikan materi sekolah umum dengan materi berbobot islam. Ketiga, Sekolah Islam Terpadu saat ini masih tergolong berusia muda sehingga belum mapan dari segi pendanaan.

 

Sebenarnya tidak masalah jika biaya pendidikan mahal, asal masih bisa terjangkau. Ya khan? Dan memang tidak bisa dipungkiri, pendirian Sekolah Islam Terpadu diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan bagi anak-anak ikhwah. Namun, ternyata banyak ikhwah yang tidak sanggup secara finansial untuk menyekolahkan anaknya di sana. Ironi. Jadilah biaya mahal ini tidak terjangkau oleh pangsa pasar yang diharapkan.

 

Ada kekhawatiran pribadi saya terhadap biaya yang mahal ini. Suatu fasilitas yang mahal, seperti sekolah, rumah sakit, restoran, dan lain lain memiliki sifat akan “meng-cluster-kan diri”. Ini istilah yang saya buat sendiri. Maksudnya, dengan biaya yang mahal tersebut akan mempersulit akses bagi yang tidak mampu membayar. Lebih lanjut, maka akses untuk mendapatkan fasilitas tersebut hanya akan didapatkan oleh mereka yang berkemampuan. Pada akhirnya fasilitas tersebut tidak lagi terbuka untuk semua, melainkan hanya bagi yang mampu saja. Pada tahap akhir, fasilitas tersebut akan memiliki kultur interaksi yang mencerminkan tingkat sosial dari si pengguna fasilitas tersebut, yang notabene adalah dari kalangan mampu secara finansial.

 

Seperti pertanyaan saya di atas: Akan dibawa ke arah mana sekolah islam terpadu? Ke arah seperti YPI Al Azhar atau Sekolah Muhammadiyah? Al Azhar, secara penilaian pribadi, sudah masuk dalam tahap akhir “meng-cluster-kan diri”. Apa yang kawan-kawan pikirkan ketika terlintas seorang anak bersekolah di YPI Al-Azhar? Jawab dalam hati aja ya. Bagaimana dengan Muhammadiyah? -lagilagi- secara penilaian pribadi, sampai sekarang masih bertahan dengan pendidikan untuk kalangan menengah ke bawah. Bahkan di beberapa daerah pelosok negeri sudah ada sekolah Muhammadiyah. Saya mendapatkan informasi bahwa Yayasan Muhammadiyah bisa bertahan sampai sekarang karena ada sokongan kuat dari Organisasi Muhammadiyah itu sendiri dan pemerintah sehingga bisa menyelenggarakan pendidikan terjangkau di seluruh negeri. Inilah dua contoh tentang penyelenggaraan pendidikan islami yang berbeda dari segi pangsa pasar, karakteristik, maupun biaya pendidikan. Lalu, Sekolah Islam Terpadu akan berada di sisi sebelah mana? Atau justru akan menciptakan sisi lain dari dua contoh ini? Wallahu a’lam.

 

Solusi?

Lebih tepatnya sih bukan solusi. Saya hanya akan memberikan pandangan lain dalam menghadapi problematika ini.

 

Dari sisi orang tua murid, berazzam lah! Memang tak mudah. Apa-apa serba mahal sekarang ini. Sekolah islami pun ikut-ikutan mahal. Tapi memang seperti itulah karakteristik jalan bagi para pencari ilmu. Perlu pengorbanan mendapatkan ilmu agama yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Tentu kita masih ingat bagaimana perjalanan hidup Imam Syafi’i. Demi menimba ilmu, ibu dari Imam Syafi’i sampai ikut berhijrah menuju Yatsrib meninggalkan kehidupan di Mekkah agar anaknya bisa belajar kepada Imam Malik.

 

Apa daya jika sama sekali tak mampu? Ya sudah, tak perlu bersekolah di Sekolah Islam Terpadu. Bersekolah di sekolah yang sesuai kemampuan finansial. Bukankah madrasah terbaik bagi anak-anak adalah rumah mereka dengan tuntunan akhlak dan ilmu dari ayah dan ibunya?

 

Dari sisi pengelola Sekolah Islam Terpadu, berazzamlah! Berazzam untuk memberikan pendidikan dengan biaya yang terjangkau. Jangan sampai justru ada penyelenggara pendidikan yang memakai sudut pandang orang tua murid: “mendapat ilmu agama itu perlu pengorbanan”. Salah. Masing-masing harus punya azzam dan sudut pandang yang saling melengkapi dan memperbaiki.

 

Masalah biaya menjadi sangat rumit, ketika pembangunan baru dimulai, kesejahteraan guru pun belum tercapai, atau kualitas pendidikan menuntut biaya yang tinggi. Bukan perkara mudah. Perlu perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan keuangan yang matang. Perlu ada sumber pendanaan di luar setoran yang dibayarkan orang tua murid. Pendanaan ini bisa berasal lembaga zakat, perusahaan sponsor yang terpercaya, atau sumber lainnya. Namun, dari masalah pendanaan keuangan ini harusnya membuka mata kita yang sudah sangat berlimpah harta. Ada lahan-lahan dakwah dan sarana perbaikan umat yang memerlukan dana. Ini investasi! Dunia dan akhirat! Bukan sekedar investasi dalam kepingan dinar atau lembaran surat berharga islami, tapi investasi dalam hamparan sejarah perbaikan umat menuju cahaya ilmu dan rahmat Islam.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Walaupun hanya ditulis dengan kedangkalan ilmu, pengetahuan, dan pemahaman dari saya.

Wallahu a’lam

Sumber : https://mutsaqqif.wordpress.com/2011/12/20/sekolah-islam-terpadu-mahal-ya/

BELAJAR ADAB


1. Ketika makan bersama mulailah mengambil dari yg pinggir, jangan langsung dari tengah, jangan menyisakan makanan, jangan berbicara jorok, jangan menggunakan tangan kiri, jangan kentut, jangan sendawa, pelan-pelan, jangan berisik.


2. Jika temanmu berjualan jangan bertanya resepnya, dimana belinya, berapa untungnya, minta diskon khusus atau terlalu sering ngutang.


3. Hindari pertanyaan kepada orang yg kamu kenal kapan nikah, udah punya anak belum, udah punya rumah belum, kamu kok sekarang gendut, kamu sekarang kok item.


4. Bayarlah hutang sebelum ditagih, jika belum bisa membayar berilah kabar, jangan ngilang begitu saja, atau marah jika di tagih.


5. Jangan bertamu di saat-saat waktunya menjalankan ibadah, tuan rumah istirahat, tuan rumah lg sibuk, sang suami tidak dirumah, tidak di bukakan pintu setelah mengucap salam dan mengetuk pintu 3 kali.


6. Jangan sibuk bermain HP ketika sedang bertamu atau ketika seseorang mengajak mu berbicara.


7. Jangan sembarangan membuang sampah, membuang dahak, membuang ingus, kentut, Buang air besar, Buang air kecil di tempat yg ramai atau terbuka, dimana orang lain mencium baunya dan merasa jijik melihatnya.


8. Jangan memotong pembicaran orang lain ketika ia sedang berbicara, Tunggulah sampai ia selesai berbicara baru engkau berbicara.


9. Jangan membuka HP dan dompet suami tanpa sepengetahuannya atau tanpa mendapat izin darinya.


10. Jangan menceritakan tentang kelebihan teman wanita mu kepada suami, karena ini dapat membuatnya penasaran.


11. Jangan mencela fisik, memberi gelar atau memanggil orang lain dengan sebutan-sebutan yg tidak ia sukai meskipun hanya bercanda.


12. Jangan menyusui bayi, jangan terlalu nampak mesra, jangan berlebihan memperhatikan orang lain jika di tempat umum


13. Jangan mencium, menggendong, memberi makanan anak kecil tanpa izin orang tuanya, Karena kita tidak pernah tau mereka punya alergi.


14. Jangan menelpon seseorang berturut-turut jika tidak dijawab, bisa jadi ia sedang sibuk, ada tamu, istirahat, atau sedang beribadah.


15. Jangan bercanda dengan memukul muka, memegang kepala, memegang kemaluan, membawa-bawa nama orang tua, suku atau agama.


16. Jangan berbisik-bisik berdua saja ketika sedang bersama bertiga, karena ini dapat menimbulkan curiga atau prasangka.


17. Jangan menjemur pakaian dalam khususnya bagi wanita, ditempat yang terbuka atau umum yang orang lain dapat melihatnya.


18. Jangan pamer kebahagiaan, jangan pula mengeluh, membanding-bandingkan pasangan, membuka aib pribadi, atau membuka aib rumah tangga di depan umum.


19. Jangan biasakan minta traktir atau meminta oleh-oleh jika teman atau saudara ada yang sedang bepergian.


20. Jangan mengembalikan piring dalam keadaan kosong jika tetangga mu memberikan makanan.


21. Jangan bertanya masalah pribadi orang lain, ikut campur rumah tangga orang lain, dan meminjam barang orang lain tanpa izin.


22. Sediakan tempat parkir sebelum membeli mobil, jangan sampai parkir menggangu jalan atau dihalaman orang lain.


23. Biasakan mengetuk pintu jika hendak masuk kamar, meskipun itu kamar kakak, kamar adik, kamar ayah-ibu.


24. Jika engkau sedang makan atau memiliki makanan dan disamping mu ada orang, cobalah menawarkan jangan hanya makan sendiri.


25. Jika menguap atau bersin tutuplah dengan tangan, agar bau mulut atau air ludah tidak kemana-kemana.


26. Jangan mengungkit-ungkit kebaikan atau pemberian jika sudah diberikan.


27. Jangan membicarakan aib atau keburukan orang yg sudah meninggal, karena ia sudah mempertanggung jawabkan semua dihadapan Allah.


28. Berikan sesuatu yg terbaik kepada orang lain, jangan yang sisa, yang bekas, yang tak layak, karena ini dapat menyinggungnya, kecuali ia yang meminta.


29. Jangan sembarangan screnshoot percakapan atau tulisan orang lain, jangan sembarangan ngetag orang lain, jangan sembarangan komentar di akun orang lain


30. Jika copas tulisan ada sumber penulisnya biasakan di cantumkan, jangan di hapus atau di hilangkan, ini sebagai sikap amanah dlm mengambil ilmu, menjaga adab dan jika ada kesalahan agar mudah ditelusuri untuk diluruskan.


Semoga Hal-hal diatas ini yg seringkali kita abaikan dan anggap remeh, kedepan kita bisa lebih memperhatikan dan mengamalkan, sebab tak jarang dari hal di atas menjadi pemicu pertengkaran dan renggangnya sebuah hubungan antara teman, saudara, tetangga dan orang lain.

Sebuah nasehat :

Jagalah adab dan akhlakmu ketika berhubungan dengan manusia.

Namun jagalah iman dan amal shalihmu ketika berhubungan dengan Allah.

Karena manusia lebih membutuhkan adab dan akhlakmu dari pada kepintaran dan keshalihanmu. Sedangkan ibadah dan amal shalih tak perlu kau tunjukkan kepada manusia namun cukup luruskan niat hanya kepada Allah ta'ala.

*Habibie Quotes

(Sumber: https://web.facebook.com/studiislamkaaffah/)