(Cerpen pertamaku di blog ini, selamat membaca..😊)
Pertama kali aku melihatmu tanggal 3 Juli, saat itu di daerah kita ada takmir masjid yang meninggal, aku melihatmu sama seperti orang yang lainnya, kita berdua sama-sama melayat ke rumah Takmir masjid itu, saat sholah jenazah di masjid akupun melihatmu ikut sholat jenazah di barisan perempuan, sampai penguburan jenazah di area pemakaman, lagi-lagi aku melihatmu disana menghibur keluarga yang ditinggalkan kalau tidak salah, semua ini tentu saja hasil ingatan yang coba kuingat kembali, karena pada saat itu kita benar-benar tak ada hubungan apapun.
Saat sholat maghrib aku kaget karena aku melihatmu lagi di masjid, sendiri berada di belakang untuk mengikuti sholat berjamaah karena memang tak ada siapapun lagi perempuan yang sholat di masjid. Jujur saat itu aku mulai bertanya-tanya, siapa perempuan ini, mungkin keluarga takmir masjid yang baru saja meninggal itu, yang ingin menggantikan posisi keluarganya yang memang menjadi pengurus masjid di daerah ini, mungkin takmir itu tak punya anak laki-laki, pikirku, tapi ya sudah hal itu biasa saja dan tak jadi berlarut-larut ada di pikiranku.
Hari berganti hari dan ada pemandangan berbeda sekarang di masjid setiap sholat 5 waktu dilakukan. Shubuh, Dzhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya kamu selalu ada di belakang shaf laki-laki, sendiri, ikut berjamaah bersama kami, jamaah laki-laki yang banyaknya pun tak seberapa. Pada saat itu lagi lagi aku berpikir “hebat sekali perempuan ini, setiap waktu sholat dia selalu ada, apa dia benar-benar ingin melanjutkan tongkat estafet dari takmir masjid yang baru saja meninggal itu”.
Adalah kebiasaanku untuk tidak pulang ke rumah setelah sholat Maghrib dan memilih untuk menunggu sholat Isya dengan membaca Al-Qur’an atau berbincang dengan beberapa gelintir orang yang juga punya kebiasaan sama sepertiku. Karena saat itu baru selesai idul fitri aku sempat meninggalkan kebiasaan itu karena sedang shaum sunnah 6 hari di bulan syawal dan aku memilih untuk berbuka shaum dulu di rumah dan baru ke masjid ketika sholat isya. Tepat pada hari aku menyambung kembali kebiasaan itu setelah menyelesaikan shaum, tepat setelah sholat sunnah Ba’da maghrib, orang yang kuhormati bapak ketua kampung menyapaku,
“kamu kemana aja?
Karena beliau sendiri juga sama sepertiku tidak pernah pulang setelah sholat Maghrib dan memilih menunggu waktu Isya di masjid. Akupun menjawab
”baru menyelesaikan shaum sunnah 6 hari pak”.
Bapak itupun menjawab.
“wah saya saja belum”
katanya sambil tersenyum ramah. Ketika dialog itu terjadi kamu juga ada di situ, karena satu lagi yang membuatku kaget karena kamu pun memilih untuk tidak pulang dan memilih menunggu waktu isya seperti kami. Dalam hati aku semakin bertanya-tanya ”hebat, perempuan ini hebat sekali, sepertinya dia benar-benar ingin meneruskan tugas takmir masjid itu”.
Hari pun mengalir lagi, aku sering melewatimu yang akan ke shaf depan untuk sholat, setiap kali aku melihatmu kamu selalu saja sedang menunduk, aku bahkan ingat kamu sempat membawa makanan kecil di tas kain yang selalu kamu bawa ke masjid, suara kriuknya terdengar dari balik tiang masjid yang menghijab antara aku dan kamu. Terus saja hari-hari berlalu seperti itu sampai datanglah tanggal 13 Juli, saat itu aku baru saja keluar dari masjid selepas sholat Isya, melewatimu seperti biasa menuju pintu masjid, ketika ujung mata ini melihat Bapak ketua kampung kulihat ia tersenyum padaku, aku tak menyadari apapun saat itu, karena beliau memang kukenal sebagai orang yang murah senyum. Baru saja beberapa langkah kaki ini meninggalkan area masjid, saudaraku mendekatiku dan berbisik
”Aku ingin bicara sama kamu, tapi kamu jangan kaget ya”.
Meskipun dia bilang begitu tetap saja hati ini kaget kenapa tidak biasanya saudaraku ini meminta untuk bicara, dan sepertinya serius. Sepanjang jalan aku berpikir apa yang dia ingin bicarakan, sampai tiba-tiba aku teringat kamu, apakah mungkin?. Cukup 5 menit kami berjalan utntuk mencapai rumah saudaraku itu. Ia memintaku untuk duduk dan tidak lama ia langsung duduk dan berkata
”Berapa usia kamu sekarang”
kujawab “28 tahun”
ia lalu berkata lagi ”Begini, kemarin Bapak ketua kampung bertanya padaku, Pak, apa Arul sudah punya pacar, ini misalkan, misalkan lo ya, kira-kira Arul mau nggak sama putri saya itu, bagaimana kalau kita jodohkan mereka pak?”
Begitu mendengar kalimat itu aku kaget luar biasa, jantungku serasa naik sampai ke leher. Ternyata keberadaanmu selama ini ternyata adalah untukku. Saat itu aku berpikir apa langsung saja terima tawaran luar biasa ini, Kami semua di daerah ini tahu bahwa ayahmu adalah orang terkaya di daerah ini, memiliki keluarga dengan garis keturunan yang bagus, ingin sekali kukatakan iya saat itu juga, makanya aku sempat berucap “tolong beri saya waktu satu minggu untuk berpikir”, tapi sesaat itu pula aku kembali berpikir bahwa aku belum mengetahui apa-apa mengenai dirimu, pernikahan adalah sesuatu yang besar dan aku tidak ingin salah dalam memutuskan dalam hal ini, aku juga berpikir apa pantas aku mendapatkanmu. Kamu memiliki keluarga, teman-teman, pendidikan, lingkungan yang hebat, apa pantas kamu menggantungkan masa depanmu padaku, seorang laki-laki tanpa cita-cita. Aku berpikir lagi bahwa kamu berhak tahu seperti apa diriku supaya kamu bisa menimbang dan menilai sebelum memtuskan kamu mau menerimaku atau tidak. Oleh karena itu aku meralat kata-kataku yang pertama.
”begini pak, saya dan dia kan belum saling mengenal, boleh nggak saya ngobrol dulu dengan dia, besok kan dia ada di masjid, saya ingin bicara dulu dengan orangnya supaya kita bisa saling kenal terlebih dahulu”.
“ooh begitu, baik, besok saya sampaikan pada ayahnya, kalau menurut saya kamu mau cari yang bagaimana lagi, usia kalian berdua sudah cukup, dia dari keturunan yang bagus, keturunan orang yang berkecukupan, meskipun jangan liat kekayaannya karena yang kaya kan tetap orang tuanya, kalau anaknya yah sama saja seperti kamu”
Pulang dari rumah saudaraku semalaman aku tak bisa tidur, Cuma bergulingan di kasur berpikir kesana kemari tak tentu arah, jantung ini terus berdetak cepat, tak menyangka dengan hal ini, anak orang paling kaya di daerahku akan dijodohkan denganku, ya diriku, yang berpenghasilan hanya 900.000 perbulan hasil dari upah harian.
Esok harinya saudaraku datang ke rumah, jam 7 pagi kalau tidak salah, ia langsung berkata
“ini nomor teleponnya, biar komunikasinya lewat hp saja supaya gak jadi fitnah, kata Bapak Ketua Kampung dianya sudah setuju, tapi kamu jangan bilang-bilang pada keluargamu dulu ya”.
Saat itu hatiku semakin berbunga-bunga dan bahagia mendengarnya, ini benar-benar luar biasa pikirku. Setelah itu aku pun langsung memikirkan bagaimana cara untuk menghubungimu untuk pertama kalinya, apa lewat telepon atau sms, bagaimana kata-kata pertama yang harus terucap, bagaimana susunan kalimatnya, karena terus terang ini pertama kalinya bagiku mengalami hal seperti ini walau usiaku sudah 28 tahun. Akhirnya aku memilih untuk mengirim sms, kalau tidak salah kalimatnya seperti ini:
“Assalamualaikum dik, saya Arul, mudah-mudahan adik tidak masalah kalau kita berkomunikasi lewat sms saja, karena kalau telepon takut tidak fokus dan melenceng ke hal yang tidak penting, terima kasih”
Setelah itu aku menunggu sms jawaban darimu, satu jam, dua jam, tiga jam, sampai tengah hari bahkan sampai maghrib sms balasan tak kunjung datang. Ketika bakda isya aku berkata pada saudaraku sambil berjalan beriringan
“pak, nomornya apa gak salah, kok gak ada jawaban”,
”masa sih, kamu telepon atau sms”
”sms pak, kalau telepon saya masih malu”
”oh, ok nanti deh saya Tanya ke bapaknya, ayo ikut ke rumah”ujarnya sambil terus berjalan.
Sesampai di rumahnya saudaraku langsung menelepon ayahnya
”Pak, nomor yang Bapak kasih kemarin itu salah nggak, ini Arul kirim sms katanya tidak dijawab, mau telepon langsung masih malu katanya”.”
coba sebutin lagi nomornya pak”
”baik ini 08XXXXXXXXXX”
”betul ah.., oh iya itu untuk wa, kalau mau telepon atau sms coba ke no 08XXXXXXXXX”.
“oh begitu ya, terima kasih pak”. Saudaraku lalu berkata padaku
”nih Rul, kalau kamu telepon atau sms ke nomor ini”
”baik pak, saya catat ke hp”.
Tidak lama setelah itu kamu membalas smsku, mungkin karena kamu dihubungi bapakmu, isi sms itu seingatku seperti ini.
“Waalaikumsalam, Kang Arul punten smsnya baru dibuka, punten komunikasinya bisa dilanjut nanti, saya lagi ada kajian di masjid Al Hidayah, kalau bisa kita komunikasinya lewat wa aja”
Hatiku berdebar, ini pertama kalinya seorang wanita mengirim sms padaku, akupun menjawab smsmu.
“Oh iya gak apa apa dik, saya takut salah aja nomornya, tapi punten saya gak punya wa”
Tidak terlalu lama kamupun membalas smsku
“Oh iya Kang gak apa apa”.
Kamu mungkin tertawa kalau tahu, tapi aku sangat senang kita berkomunikasi meskipun hanya seperti itu. Aku senang sekali.
Keesokan harinya aku langsung merumuskan teknis taaruf yang kupikir cocok untuk menjembatani kita, 2 hari aku mencoba merancangnya, mencari sumber, mengedit, memperisapkan CV ku, lalu pada hari ketiga aku pun kembali mengirim sms padamu
“Assalamualaikum, Dik maaf apa sedang ada kegiatan, saya mau jelasin semacam rule of the game komunikasi kita?”
Setelah itu aku menunggu balasan darimu, 1 hari terlewati, kupikir wajar bagi seorang yang sudah biasa berkomunikasi lewat WA kurang memperhatikan Mailbox smsnya, aku memilih menunggu. Lalu akhirnya datanglah jawaban setelah selang 2 atau tiga hari setelah sms yang kukirim, aku ingat betul saat itu jam 2 siang, aku sedang ada di tempat kerja, sms balasan darimu datang, ini balasan darimu
“wa’alaikumsalam, oh rule of the game itu maksudnya kayak gimana?”
Jawaban darimu datang, tidak bisa tidak aku tersenyum, entah karena dapat balasan darimu, atau karena apa, yang jelas saat itu aku tersenyum. Akupun segera membalas pesan darimu.
“baik dik saya jelaskan, punten saya mau kirim 6 sms sekaligus”
6 sms itu sudah kupersiapkan sebelumnya, aku simpan di kotak masuk hp supaya pada saatnya tiba aku tinggal mengirimnya padamu, niatku hanya ingin melihat bagaimana visi hidup dan berumah tanggamu, aku ingin menjelaskan kekurangan-kekuranganku agar kamu tak kecewa dan bisa menilai lebih jernih, dan juga saling menyiapkan diri dalam hal kelebihan dan keburukan calon pasangan, saat ini aku baru menyadari bahwa mungkin 6 sms ini yang akan “mengakhiri semuanya” ini isi 6 sms itu, detilnya mungkin ada yang terlewat tapi intinya seperti ini.
“Pernikahan merupakan hal yang besar bagi hidup seseorang, alangkah baiknya bagi calon pasangan yang akan menikah untuk saling mengenal terlebih dahulu calon pasangannya. Oleh karena itu alangkah baiknya bagi calon pasangan untuk taaruf (perkenalan) terlebih dahulu dengan tahapan sebagai berikut:”
“1. Bulan ke 1, pada bulan ini ikhwan mengirim CV pada akhwat, setelah membaca dan mempelajari CV tersebut silakan akhwat bertanya untuk menggali informasi mengenai tentang ikhwan tersebut baik tentang kepribadiannya, pemikirannya maupun visinya tentang pernikahan.”
“2. Bulan ke 2, pada bulan ini gantian akhwat mengirim CV pada ikhwan (selanjutnya sama seperti pada bulan ke 1)”
“3. Bulan ke 3, pada bulan ini adalah bulan untuk merenung, berpikir, beristikhoroh, memperbanyak ilmu dan amal atau mungkin bertanya hal-hal yang dirasa masih belum ditanyakan pada bulan sebelumnya sampai pada akhir bulan yaitu menentukan apa proses ingin dilanjut atau tidak”
“4. Bulan ke 4, awal bulan ke 4 silahkan masing-masing ikhwan dan akhwat memberitahukan kepada walinya masing-masing apa keputusan yang diambil. Jika 2 belah pihak mengatakan iya, maka proses berlanjut ke tahap berikutnya, tapi jika salah satu pihak atau keduanya mengatakan tidak maka proses terhenti”
“Bagaimana dik, menurut adik apa ada yang harus diedit, ditambah atau dikurangi dari “rule of the game” komunikasi kita. Saya mensetting hal ini semata-mata supaya kita berdua bisa saling mengenal, memantapkan hati masing-masing, dan menghindari kekecewaan-kekecewaan yang sebetulnya bisa diantisipasi sebelumnya. Kita hanya bisa berusaha Alloh yang menentukan, ditunggu jawabannya?”
Setelah sms itu terkirim aku semakin memantapkan CV yang sudah kubuat, menambah dan memasukkan apa saja yang menurutku harus diketahui oleh orang yang akan menikah denganku, meski tentu saja semuanya belumlah pasti.
Hari berganti hari sampai minggupun berganti sms balasan darimu belum juga datang, aku berpikir kamu mungkin butuh persiapan untuk menyiapkan CVnya dan pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan. Aku dengan lugu tak menyadari apa-apa saat itu, tak menyadari bahwa aku sudah berbuat kesalahan. Bapak ketua kampung bersikap sama seperti sebelumnya, selalu baik dan murah senyum, begitu pun saudaraku, semuanya tak ada yang aneh. Pernah suatu malam saudaraku bertanya padaku
“bagaimana masih nyambung (komunikasinya)”
“masih, udah 3 kali kita komunikasi, saat ini mungkin ia sedang berpikir”
“oh, kamu tenang ya jangan terburu-buru, cik asak-asak nenjo (lihatlah dengan matang dan hati-hati)
“iya pak, baik”
2 minggu berlalu, kurasa ini sudah mulai terlalu lama, apa yang sebaiknya kulakukan, apa minta bantuan saudaraku lagi seperti waktu untuk komunikasi dengan bapaknya, ah terus-terusan ngerepotin orang tua pikirku, lebih baik itu jadi opsi terakhir. Aku mencoba untuk mencari namamu di media social facebook, satu-satunya media social yang kupunya, kuketikkan namamu disana, tak perlu waktu lama akhirnya aku mendapatkan akun facebookmu, kamu menggunakan nama asli dan juga namamu tidak terlalu banyak dipakai orang, cukup mudah mencarinya. Banyak info yang kudapatkan disana, ya tentang kamu, keluargamu, kegiatan-kegiatanmu, perjuanganmu, kelakarmu, keberpihakkanmu dll. Ya selayaknya orang yang stalking lah gimana. Setelah itu aku berpikir kalau lewat media social mungkin komunikasi bisa lebih mudah, maka akupun mengajak untuk melakukan pertemanan di facebook, tapi kamu tak meresponnya, bahkan setelah beberapa waktu ketika kamu membuat posting terbaru makin yakin aku bahwa permintaan pertemananku diabaikan, tapi aku mencoba berprasangka baik, mungkin kamu takut jika lewat medsos yang notabene lebih mudah dibanding sms akan membuat kita berkomunikasi panjang lebar tak tentu arah, mungkin kamu berhati-hati, aku maklumi itu (padahal ini cuma asumsiku saja).
Masuk waktu tiga minggu, di waktu ini kurasa aku harus kirim sms lagi untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, mungkin orang-orang akan mengatakan kenapa tidak langsung telepon, yah aku bukan orang yang pandai bicara langsung pada wanita, aku terlalu pemalu untuk itu, yang jelas aku kirim sms lagi, ini isi smsnya.
“Assalamualaikum, dik bagaimana apa sudah ada keputusan, supaya taarufnya sudah bisa dimulai, atau mungkin adik punya pemikiran sendiri tentang teknis taarufnya harus gimana, silahkan atuh dishare. Terima kasih”
Aku menunggu lagi, tapi balasan sms darimu tak kunjung datang, Agustus, September, aku merasa kamu semakin jauh dariku, ada apa ini?. Lagi-lagi aku berbuat bodoh, aku mencari akun IG mu, dan dapat. Disitu aku melihat apa-apa yang biasa dibagikan di IG seorang seperti kamu, lalu aku membaca sebuah posting dalam IG itu. Sebuah posting yang seolah-olah menyemangatiku untuk bersabar dan menjadi jauh lebih baik. Aku berbunga-bunga membacanya, ternyata kamu ingin menyiapkan diri untuk menjadi lebih baik lagi dulu, begitu pikirku saat itu, aku benar-benar polos, menyimpulkan segala sesuatu dari suatu hal yang tidak jelas seperti itu.
Sebenarnya sebelum semuanya menjadi terang benderang ada 2 waktu dimana aku seharusnya sadar bahwa kamu sudah melangkah jauh dariku. Kejadian pertama di dalam akun IGmu, dimana disitu ditulis bahwa kamu berstatus sudah dipinang, siapa yang meminang kamu yang jelas bukan aku, kapan aku meminang kamu? Ditambah lagi ada sebuah foto seorang laki-laki yang wajahnya ditutup dengan sebuah emoticon sehingga tidak diketahui seperti apa wajahnya. Kedua ketika paman dan sepupuku berbincang-bincang di dekatku, mereka berbicara tentang Bapak Ketua Kampung yang akan menikahkan anaknya yang bungsu, aku tahu kamu tiga bersaudara dan kamu adalah anak bungsu, harusnya 2 kejadian ini sudah membuatku sadar bahwa kamu telah pergi, tapi entah karena prasangka baik atau karena kebodohanku yang memilih untuk mempercayaimu sampai akhir, pikirku kamu pasti akan membuat jelas hal ini suatu hari nanti, aku bodoh banget kan ya?
Waktu melangkah lagi, Oktober, November, dalam rentang ini aku mengirim satu sms padamu, sebuah sms yang isinya bermaksud menguatkan kamu yang sedang menguat menjadi lebih baik, karena aku pun disini sedang berusaha untuk menjadi lebih kuat, menjadi lebih dewasa dari sebelumnya. Kalau tidak salah tanggal 7 November, ya 7 November kalau tidak salah, saat itu aku sedang bekerja seperti biasa, waktu menunjukkan pukul 2 siang lewat sedikit, kebetulan saat itu aku tidak terlalu sibuk, aku kembali iseng membuka akun IGmu dan betapa terkejutnya diri ini (meskipun sebenarnya kalau dipikir lagi bahwa tak ada lagi respon sms balasan darimu sejak bulan Agustus itu) aku mendapati fotomu yang tengah berfoto bersama 3 orang lainnya dalam sebuah ruangan, mungkin itu di rumahmu, dalam foto itu kamu tersenyum bahagia, begitupun dua orang lainnya yang kuketahui sebagai kakak dan saudara perempuanmu, dan satu orang lagi seorang laki-laki berbadan tinggi, tegap dan gagah tapi tetap wajahnya tertutup oleh editan emoticon sehingga tidak bisa diketahui seperti apa wajah dibalik animasi emoticon itu. Di dalam caption foto itu kamu menulis betapa kamu bahagia karena telah menemukan seseorang yang serius dan merespect dirimu sebagai salah seorang dari kaum hawa, selanjutnya kamu berdoa bahwa niat baik ini bisa terlaksana dengan lancar dan pernikahan kalian semakin membuat kalian berdua semakin dekat dengan Tuhan. Aku membaca tulisan itu, beragam rasa berkecamuk di dalam diri, ada rasa kecewa serasa ditusuk tombak berkarat karena mengetahui bahwa akhirnya menjadi seperti ini, senang juga karena akhirnya semua tanya yang selama ini menggelayut di dalam hati dan pikiran akhirnya menjadi jelas dan tidak tertutupi suatu apapun lagi, ada rasa marah juga karena kenapa kamu tidak bicara dengan jelas padaku bahwa kamu sudah dipinang orang lain, lebih enak jika kamu bilang jangan dekati aku lagi, aku sudah dipinang, tetapi kamu memilih diam dan membuat orang lain menunggu untuk waktu yang cukup lama, apalagi meilhat keterangan di foto itu bahwa lamaran itu dilakukan pada tanggal 24 September, wow cukup lama juga pikirku. Ternyata penantianku selama ini sia-sia, ternyata postingan di IG itu bukan untukku dan ternyata akhirnya kamu lebih memilih orang lain.
..***
Aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan, melihat kalian bersanding disana, dipelaminan, berbahagia dengan senyum lebar mengembang dari bibir kalian berdua, ramai sekali undangan ini, kampung kami benar-benar berpesta hari ini, tamu yang banyak membludak membanjiri tempat resepsi, orang-orang hilir mudik masuk dan keluar untuk menghadiri pernikahanmu. Aku akhirnya sadar tidaklah perlu untuk marah, kecewa bahkan membenci berkepanjangan. Aku berpikir lebih baik aku mengucapkan selamat dan mendoakanmu seperti apa yang aku tulis di message terakhirku padamu satu jam setelah aku mengetahui bahwa kamu benar-benar akan menikah dengan orang lain.
“ Assalamualaikum, maaf dik saya memberanikan diri untuk mengirim message ini. Terima kasih telah memberikan kejelasan dalam hal ini bahwa adik akan menikah, saya minta maaf atas kesalahan-kesalahan yang sudah saya lakukan selama ini, mudah-mudahan kita bisa berteman dalam persaudaraan sesama muslim baik di dunia maya maupun dunia nyata. Terima kasih karena sudah mau mengenal saya. Selamat berbahagia. Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair.”
Bagi yang mengetahui kisah kita ini mungkin akan berpikir bahwa kita tidak berjodoh, tapi aku berani mengatakan bahwa sebenarnya kita berjodoh. Kita berjodoh karena Tuhan telah mempertemukan kita dan mengizinkan kita untuk berbagi harapan dan kebahagiaan meskipun akhirnya tidak seperti yang diharapkan, Kita berjodoh karena Tuhan menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi dalam memaknai hidup ini lewat pertemuan dan perpisahan kita.
Aku tidak tahu kamu bagaimana
Kalau aku, aku ingin berterima kasih padamu
Terima kasih telah menyadarkanku akan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang terus bergulir usianya ini.
Terima kasih telah memberiku pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga tentang cinta, perasaan, wanita, menjaga hubungan bahkan hidup ini.
Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku, banyak orang yang ingin melupakan masa lalu dengan orang-orang tertentu, tapi aku tidak, aku ingin menyimpan dirimu dalam salah satu sudut hatiku, aku tak akan melupakanmu selama-lamanya, aku ingin kamu menjadi pengingat bagi diriku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam menjalani sisa kehidupan di dunia yang fana ini.
Masalah penyebab kenapa kamu berpaling, ah kadang-kadang aku berpikir sejak kapan kamu mulai berpaling, dugaanku yang terkuat adalah mungkin ketika rentetan 6 sms itu terkirim, mungkin kamu mengganggap itu sebuah kalimat penolakan, meskipun sebenarnya tak ada sebersitpun di dalam hati ini untuk menolakmu, aku hanya ingin berkenalan dulu lebih jauh denganmu sebelum mengambil keputusan, juga untuk memberitahukan dulu padamu kelebihan dan kekuranganku agar kamu lebih jernih menilai, tapi kelihatannya kamu salah sangka atau malah tidak tertarik, mungkin pikirmu aku terlalu berbelit-belit ya hehe. Atau dugaan keduaku dari awal kamu memang tidak tertarik dijodohkan denganku, kamu hanya berusaha untuk berbakti pada orang tua saja dengan mengikuti kemauannya, mungkin kamu sudah punya calon sebelumnya, ini terbukti dengan rentang waktu yang begitu singkat sampai kamu mendapat penggantiku dan segera dilamar olehnya. Tapi toh akhirnya itu semua gak penting kok, yang jelas sekarang kita harus terus melanjutkan hidup kita yang hanya satu kali ini dengan terus menerus berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Lhokseumawe, 13 Juli 2017 - Tasikmalaya, 7 November 2017.