Selamat Datang

Selamat Datang

Kamis, 20 Juli 2017

ISTRI

Bagaimana tak harus menjaganya? Padahal kita sudah mengeluarkannya dari lingkungan yang selama ini menjaganya.
Bagaimana tidak menemaninya? Padahal kita sudah membuatnya terpisah.
Bagaimana tidak harus bertanya padanya? Padahal kita adalah orang barunya.
Bagaimana tidak harus mendengarnya? Padahal dulu, dia punya orang yang selalu mendengarnya.
Bagaimana tidak harus menafkahinya? Padahal dulu ada bapaknya.
Bagaimana boleh tidak mengajarinya? Padahal tanggung jawab itu sudah beralih dari walinya.
Bagaimana tidak harus bersabar darinya? Padahal dia sudah terbiasa menjadi bintang di hati bapaknya.
Bagaimana boleh menyakitinya? Padahal dulu, ketika sikunya tergores, hati bapaknya luka menganga.
Bagaimana tidak mencemburuinya? Padahal dia tumbuh sehat dan sholihah dari cemburu bapaknya.
Bagaimana boleh tidak memarahinya? Padahal dulu, dia terjaga karena pagar batas bapaknya.
Bagaimana boleh mengabaikannya? Padahal dulu, bapaknya mengikat hatinya pada hati perempuanmu ini.

(Eko Novianto)

6 Dampak Dari Membanding-bandingkan Anak

Berikut adalah dampak-dampak yang muncul bila Anda sering membanding-bandingkan anak Anda dengan orang lain:

1. Kepercayaan diri anak Anda menurun
Ingatlah membanding-bandingkan anak Anda dengan orang lain bisa menurunkan kepercayaan dirinya. Si kecil bisa merasa rendah diri dihadapan teman-temannya. Anda tentu tak mau bila anak Anda menjadi minder dengan teman-temannya bukan? Tak mau bersosialisasi dan senang menyendiri? hal tersebut bisa menghambat tumbuh kembangnya, maka dari itu berhentilah menbanding bandingkan anak Anda.

2. Anak Anda tak bisa mengembangkan bakat alaminya
Membanding-bandingkan anak Anda dengan orang lain membuat Anda terobsesi menjadikan si kecil menjadi sesuatu yang Anda inginkan tanpa melihat bakat terpendam yang mungkin anak Anda miliki. Ingatlah selalu bahwa setiap anak memiliki keunikan tersendiri, tak ada yang sama dan mereka berbeda. Jadi tak ada yang salah bila anak Anda menyukai musik, bermain piano atau belajar memasak. Mereka memiliki bakat dan ketertarikan yang berbeda. Memaksakan kehendak mengenai apa yang harus anak Anda kerjakan tanpa melihat minat dan ketertarikan si kecil sama saja mematikan bakat dia. Biarkanlah mereka mengembangkan kemampuan dan minatnya sesuai apa yang mereka inginkan karena hal tersebut bisa membawa banyak kebaikan bagi si kecil nantinya.

3. Menumbuhkan kebencian
Kegiatan membanding-bandingkan ini hanya akan menumbuhkan kebencian pada Anda dan juga menimbulkan dendam pada teman yang menjadi pembanding dengannya. Anda tentu tak ingin jika buah hati Anda tumbuh menjadi pribadi yang menyimpan kebencian serta dendam pada orang lain bukan? Hal tersebut sangat buruk bagi perkembangan mental anak Anda.

4. Mereka selalu mengingatnya
Mungkin Anda akan terkejut dengan kenyataan bahwa membanding-bandingkan pencapaian  anak dengan pencapaian orang lain sangat melukai hati anak Anda dan hal tersebut akan selalu ia ingat serta bawa sepanjang hidupnya. Hal tersebut tentu tak baik bagi mental dan pribadi anak Anda, maka dari itu biarkanlah si kecil bertumbuh kembang sesuai dengan kemampuannya.

5. Anak Anda menjadi pribadi yang pesimis dan selalu berpikir negatif
Anda tentu tahu bahwa semua kesuksesan selalu datang dari pola pikir yang optimis dan positif. Kebiasaan Anda membanding-bandingkan si kecil dengan orang lain membuat dia menjadi pribadi yang pesimis dan selalu berpikir negatif. Anak Anda selalu berpikir bahwa dia akan selalu kalah dan menjadi yang terakhir. Ketakutan-ketakutan seperti ini malah membatasi kreatifitas si kecil sehingga akhirnya ketakutan-ketakuan ini menghantarkan dia kepada kegagalan yang selalu ia pikirkan.

6. Menumbuhkan sikap sombong dan angkuh

Memberitahukan segala pencapaian anak Anda pada semua orang, membangga-banggakan anak Anda dihadapan orang lain secara berlebihan tidaklah baik. Hal tersebut bisa menumbuhkan sikap sombong dan angkuh pada diri anak Anda. Anda tentu tak ingin melihat si kecil tumbuh menjadi pribadi yang memiliki sifat sombong dan angkuh bukan? Berbangga atas pencapaian anak Anda tentu boleh dan sah-sah saja, hanya lakukanlah hal tersebut pada porsinya dan jangan melebih-lebihkan. Ingatlah, membesarkan anak bukanlah sebuah persaingan tentang seberapa layak dan hebat Anda sebagai orang tua, tetapi seberapa besar kasih sayang yang Anda berikan pada anak Anda sebagai orangtua sehingga anak Anda dapat bertumbuh kembang dengan baik dan bisa mengembangkan bakat serta kemampuannya yang akan berguna dihidupnya nanti.

(COPAS dari Facebook)

Rabu, 19 Juli 2017

Itu Kisah Mereka

Itu kisah mereka, ditulis dengan tinta emas mereka. Kita tidak mungkin masuk ke dalamnya. Dalam kisah mereka mungkin kita cuma cameo atau figuran yang muncul di beberapa adegan saja.

Akan kita tulis kisah kita sendiri, sejarah kita sendiri, dengan tinta kita sendiri. Entah ditulis dengan tinta emas yang berkilauan, atau dengan tinta pulpen seharga 2 ribu perak yang biasa kita beli di warung pinggir jalan.

Kisah kita mungkin tidak heroik, kisah kita mungkin tak gemerlap, kisah kita mungkin tidak menarik jika diangkat ke layar lebar, kisah kita mungkin malah  akan banjir keringat dan air mata.

Tapi satu hal yang harus kamu ingat
Ini adalah kisah kita.
Yang harus kita mainkan, yang harus kita perjuangkan
Disini kita pemeran utamanya, disini kita bintangnya

Ya, ini kisah kita.  

(Yunan Satia Kusumah)

Malang Sekali Dia

Malang sekali dia, setelah hidup selama bertahun-tahun bersama kedua orang tua dan keluarganya, ia datang untuk tidur di samping laki-laki yang asing baginya. Dia tinggalkan rumah orang tuanya. Dia tinggalkan bermanja-manja dengan kedua orang tuanya. Dia tinggalkan bersenang-senang di rumah keluarganya. 

.
Sekarang ia datang kepada laki-laki yang menyuruhnya untuk melakukan yang ma'ruf dan meninggalkan yang mungkar. Dia melayani laki-laki itu sesuai dengan yang diridhai Allah. Semua itu berdasarkan perintah agama, subhanallah......
.
Dari sini muncul pertanyaan di dalam diriku?! Kenapa sampai gampang bagi sebagian laki-laki untuk memukul istrinya dengan penuh kekerasan, setelah ia meninggalkan rumah keluarganya, kemudian datang kepadanya?!
.
Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki untuk keluar bersama teman-temannya, kemudian ia pergi ke restoran dan ia makan tanpa mempedulikan siapa yang ada di rumahnya?!
.
Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki menjadikan waktu duduknya di luar rumah lebih banyak dari pada duduk bersama istri dan anak-anaknya?!
.
Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki menjadikan rumahnya bagaikan penjara bagi istrinya, tidak ia ajak keluar dan juga tidak ia temani?!
.
Bagaimana bisa gampang bagi sebagian laki-laki membiarkan istrinya tidur, sementara di dalam hatinya ada kegetiran perasaan dan di matanya ada air mata tertahan?!
.
Bagaimana bisa gampang bagi sebagian laki-laki pergi berjalan sementara anak-istrinya ia tinggalkan tanpa peduli dengan nasib mereka selama ia pergi?!
.
Kenapa bisa ringan bagi sebagian laki-laki berlepas diri dari tanggungjawab yang akan ia pertanggungjawabkan di akhirat nanti sebagaimana yang di sampaikan oleh Rasulullah?!
.
Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya..."

(COPAS dari Facebook)

Kejiwaan yang baru pasca nikah

Di antara yang baru dalam kehidupan setelah pernikahan adalah kejiwaan yang baru, hasil bentukan dari jiwa suami serta jiwa istri yang terikat dengan rumus tertentu yang tepat.

Jiwa baru ini tidak terbentuk dengan sendirinya hanya karena ada akad nikah, namun ia terbentuk dengan sebuah proses. Suami dan istri berinteraksi setiap hari dan menyusun puzle jiwa dalam satu bidang kehidupan.

Bentuk keping puzle mereka berdua tidaklah sama, tidaklah berbentuk kotak-kotak sama sisi yang mudah untuk ditata dan mudah untuk diletakkan memenuhi bidang. Kenyataannya keping puzle yang mereka bawa berbentuk tidak beraturan, maka ketika disusun untuk memenuhi bidang kehidupan, selalu ada rongga sisa. Ada ruang kosong yang tidak terisi.

Satu-satunya cara untuk memenuhi ruang-ruang kosong tersebut adalah dengan mengubah bentuk keping puzle bersama-sama. Suami bersedia mengubah bentuk keping puzle-nya, istri bersedia mengubah bentuk keping puzle-ya.

Dengan cara ini, semua bidang akan terisi dan terpenuhi oleh keping puzle mereka berdua.

By Cahyadi Takariawan

Top of Form

7 Rahasia Mendidik Anak dari Ustadz Farid Ahmad

1. Jika melihat anakmu menangis, jangan buang waktu untuk mendiamkannya. Coba tunjuk burung atau awan di atas langit agar ia melihatnya, ia akan terdiam. Karena psikologis manusia saat menangis, adalah menunduk.
2. Jika ingin anak-anakmu berhenti bermain, jangan berkata: “Ayo, sudah mainnya, stop sekarang!”. Tapi katakan kepada mereka: “Mainnya 5 menit lagi yaaa”. Kemudian ingatkan kembali: “Dua menit lagi yaaa”. Kemudian barulah katakan: “Ayo, waktu main sudah habis”. Mereka akan berhenti bermain.
3. Jika engkau berada di hadapan sekumpulan anak-anak dalam sebuah tempat, yang mereka berisik dan gaduh, dan engkau ingin memperingatkan mereka, maka katakanlah: “Ayoo.. Siapa yang mau mendengar cerita saya, angkat tangannya..”. Salah seorang akan mengangkat tangan, kemudian disusul dengan anak-anak yang lain, dan semuanya akan diam.
4. Katakan kepada anak-anak menjelang tidur: “Ayo tidur sayang.. besok pagi kan kita sholat subuh”, maka perhatian mereka akan selalu ke akhirat. Jangan berkata: “Ayo tidur, besok kan sekolah”, akhirnya mereka tidak sholat subuh karena perhatiannya adalah dunia.
5. Nikmati masa kecil anak-anakmu, karena waktu akan berlalu sangat cepat. Kepolosan dan kekanak-kanakan mereka tidak akan lama, ia akan menjadi kenangan. Bermainlah bersama mereka, tertawalah bersama mereka, becandalah bersama mereka. Jadilah anak kecil saat bersama mereka, ajarkan mereka dengan cara yang menyenangkan sambil bermain.
6. Tinggalkan HP sesaat kalau bisa, dan matikan juga TV. Jika ada teman yang menelpon, katakan: “Maaf saya, saat ini sedang sibuk mendampingi anak-anak”. Semua ini tidak menyebabkan jatuhnya wibawamu, atau hilangnya kepribadianmu. Orang yang bijaksana tahu bagaimana cara menyeimbangkan segala sesuatu dan menguasai pendidikan anak.
7. Selain itu, jangan lupa berdoa dan bermohon kepada Allah, agar anak-anak kita menjadi perhiasan yang menyenangkan, baik di dunia maupun di akhirat.

Tausyiah pagi dr Ustadz Farid Ahmad di medsos

5 Hal yang Diharapkan Suami dari Istri

1. Dipercaya

Suami paling tidak suka jika tidak dipercaya. Daripada bilang, "Awas ya, jangan jelalatan". Lebih baik do'akan sambil peluk dirinya, "Ya Allah kutitipkan suamiku padaMu. Jaga dirinya agar tetap semangat menjemput rizki yang halal."
2. Dita'ati

Suami adalah seorang pemimpin keluarga. Ia menentukan arah kemana keluarga akan dibawa. Disana akan ada yang mesti diputuskan. Sebuah kekecewaan besar jika keputusan hasil diskusi kemudian di tengah jalan tak dita'ati. Maka, bermusyawarah, namun serahkan keputusan pada suami.
3. Diapresiasi

Suami pulang basah kuyup bawa roti bakar karena sudah kenyang istri malah cuek, pasti suami sakit hati. Tak mengapa bohong untuk bahagiakan suami, makanlah roti itu dan katakan enak sekali.
4. Dicintai

"Lelaki ujiannya wanita, Wanita ujiannya harta". Itu kata sang pujangga. Namun percayalah, seorang suami akan belajar tetap setia saat sang istri mencintai dan berusaha melayani suami sebaik mungkin. Bukan dengan harapan dibalas.
5. Disemangati 

Sungguh sebuah kebahagiaan seorang suami, saat diuji kesulitan rizki lalu sang istri memegang tangannya dan berkata, "Duhai suamiku yang baik, kami lebih kuat menahan lapar di dunia daripada mesti menanggung akibat di akhirat karena makanan haram yang masuk ke perut kami. Semangat slalu, aku kan terus mendo'akanmu"

(COPAS dari Facebook)