Selamat Datang

Selamat Datang

Sabtu, 09 Januari 2016

JODOHMU ADALAH CERMINAN DIRIMU

Banyak diantara kita yang sebelum menikah, mengangankan pasangan yang kriterianya seperti ini dan seperti itu. Bagi yang telah menikahpun, pasti masih menyimpan sebuah harapan pada pasangannya. Harapan agar pasangannya seperti yang ia idamkan.
Salahkah jika kita menetapkan kriteria atau berharap pasangan saat ini sesuai dengan apa yang kita inginkan? Tentu tidak, selama hal itu masih dalam koridor syari’at dan apa yang ia harapkan mampu di penuhi oleh pasangannya. Bagaimana jika harapan itu terlalu tinggi hingga sulit dipenuhi?
Jika kita mengharapkan pasangan yang rajin menuntut ilmu (syar'i), sudahkah kita aktif mendatangi majelis-majelis ilmu? Jika kita mengidamkan pasangan yang halus tutur kata dan perangainya, sudahkah kita sendiri santun dalam berucap dan berbuat?
Jika kita mengharapkan pasangan yang rapat menjaga hijab dan kehormatannya serta menundukkan pandangannya dari lawan jenisnya, sudahkah kita menerapkan hal yang sama pada lawan jenis kita?
Sungguh jika kita sadar, ketika mengharapkan pasangan dengan segudang kriteria dan kelebihan.. Cobalah bertanya pada diri sendiri, “Sudahkah saya cukup baik untuk mendapatkan yang demikian?”.
Ketika kita memimpikan pasangan yang 100% sesuai dengan harapan kita.. Jujurlah pada diri sendiri, “Sudahkah saya memenuhi harapannya akan kriteria pasangan ideal, sempurna 100%?”
Bukan berarti mengharap mendapat pasangan yang lebih baik itu terlarang. Yang jadi ganjalan adalah ketika kita muluk-muluk memimpikan si dia yang serba sempurna tanpa cela.. sudahkah kita berkaca? Sudahkah kita melihat pada diri sendiri. Mengukur dan menakar. Pantaskah kita mendapatkan si serba sempurna sementara kita sendiri.. jauh dari kata sempurna?
Tidak ada yang salah dengan bermimpi. Asal tetap menjejak pada realita. Jangan sampai mimpi kita justru menghalangi kita untuk bersegera menikah. Karena terlalu sibuk mengejar yang sempurna sehingga melupakan yang biasa namun lebih mampu menjaga kita dari fitnah.
Atau bagi yang telah menikah, harapan itu menghalangi kita dari rasa syukur akan hadirnya pasangan yang Allah anugerahkan dalam hidup kita. Terus menuntut pasangan sesuai dengan keinginannya.
Jadi, teruslah berusaha, memperbaiki diri dan tak putus berdo’a.. Agar diberikan yang shalih/shalihah dan menentramkan. Yang terbaik untuk menemani menjalani hari-hari, mewujudkan rumah tangga penuh sakinah (mawaddah warahmah) di bawah limpahan rahmat-Nya.

(COPAS dari sahabat Facebook)

Manusia seperti Sebuah BUKU....


Cover depan = tanggal lahir 
Cover belakang = tanggal kematian.
Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup kita dan apa yg kita lakukan.
Ada buku yg tebal, ada buku yg tipis. Ada buku yg menarik dibaca, ada yg sama sekali tidak menarik.
Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa di'edit' lagi.
Tapi hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yg putih bersih, baru dan tiada cacat.



Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin, 
Tuhan selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.
Kita selalu diberi kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yg benar dalam hidup kita setiap harinya.
Kita selalu bisa memperbaiki kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita kedepannya sampai saat usia berakhir



(COPAS dari pak Michael Nugraha sahabat facebook)

MUNGKIN ENGKAU TAKKAN PERNAH TAHU

Sebesar apa cintaku padamu?.. Waktu kelak akan memberitahu..
Karena rasa ini belum pantas diucap.. Tidak selagi aku masih belum siap..
Karena satu ucapan bisa menodai hati.. Noktah maksiat yang menenggelamkan diri..
Aku terlanjur terjembab dalam lubang  rasa.. Bicara atau diam itu sama-sama menyiksa..
Namun bila terucap bukan hanya menyiksa namun sisakan dosa.. Karena kita sama-sama belum siap dan memendam rasa bisa jadi nista..
Masa depanku dan masa depanmu siapa yang tahu?.. Namun terkadang kebodohan mengambil alih akal sehatku..
Kukira dengan mencurahkan rasa ini padamu akan menenangkan.. Padahal kutahu itu awal musibah yang berujung pada penyesalan..
Maka mungkin diam adalah jalan yang terbaik.. Atau kujadikan saja ia beberapa lirik?..
Bagaimanapun aku tak punya muka.. Bila harus memulai dengan maksiat..
Maka biarlah rasa ini masih terpendam tanpa diungkap.. Sampai waktunya aku mampu dan pantas untuk bercakap..
Seberapa besar cintaku padamu?.. Mungkin engkau takkan pernah tahu..


(COPAS dari facebook)

BEDA PACARAN DENGAN TA'ARUF

Ta’aruf sebenarnya mempunyai arti saling mengenal. Namun sekarang taaruf lebih populer dikenal sebagai suatu proses sebelum ikhwan dan akhwat menjalani pernikahan. Dalam proses taaruf, mereka saling mengenalkan keadaan diri masing-masing, keluarga dan hal-hal yang diperlukan, bila cocok bisa dilanjutkan ke proses khitbah (lamaran) dan bila tidak maka proses akan dihentikan. Mungkin seperti itu secara sederhananya, walaupun pada prakteknya bisa begitu rumit dan kompleks.


Sedangkan pacaran adalah suatu hubungan dekat yang dibuat oleh 2 orang (biasanya lawan jenis) tanpa ada ikatan resmi. Biasanya pacaran dilakukan karena adanya rasa saling suka. Dalam pacaran kadang disertai aktivitas yang terlalu intim dan dilarang agama, namun ada juga yang masih bisa menjaga dirinya masing2.


Banyak orang-orang yang berniat ta’aruf namun dalam prakteknya mereka berbuat aktivitas seperti layaknya orang pacaran. Sehingga niat menikah pun menjadi tertunda gara-gara mereka sudah merasa dekat, dan mereka puas dengan kedekatan itu sehingga tidak jadi memikirkan ke arah pernikahan.


Adapun perbedaan pacaran dengan ta’aruf yaitu:


1. Tujuan
- taaruf : mengenal calon istri/suami, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pernikahan.
- pacaran : mengenal calon pacar, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pacaran, syukur-syukur bisa nikah dan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat.


2. Kapan dimulai
- ta’aruf : saat calon suami dan calon istri sudah merasa bahwa menikah adalah suatu kebutuhan, dan sudah siap secara fisik, mental serta materi.
- pacaran : saat sudah diledek sama teman:”koq masih jomblo?”, atau saat butuh temen curhat, atau yang lebih parah saat taruhan dengan teman.


3. Pertemuan
- ta’aruf : pertemuan dilakukan sesuai dengan adab bertamu biasa, dirumah sang calon, atau ditempat pertemuan lainnya. Hanya semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan dalam koridor syari`ah Islam. Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari calon suami. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, ngedate dan seterusnya dengan menggunakan alasan ta`aruf. Dan frekuensi pertemuannya, lebih sedikit lebih baik karena menghindari zina hati.
Hal itu krn tidaklah terjadi khalwat kecuali setan bersama keduanya sebagai pihak ketiga sebagaimana dlm hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir mk jangan sekali-kali dia berkhalwat dgn seorang wanita tanpa disertai mahram krn setan akan menyertai keduanya.”
Selama pertemuan pihak laki dan wanita dipersilahkan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan, kondisi pribadi, keluarga, harapan, serta keinginan di masa depan.
Adapun cara yang lebih syar’i untuk mengenal wanita yang hendak dilamar adalah dengan mencari keterangan tentang yang bersangkutan melalui seseorang yang mengenalnya, baik tentang biografi (riwayat hidup), karakter, sifat, atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk diketahui demi maslahat pernikahan. Bisa pula dengan cara meminta keterangan kepada wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang seperti istri teman atau yang lainnya. Dan pihak yang dimintai keterangan berkewajiban untuk menjawab seobyektif mungkin, meskipun harus membuka aib wanita tersebut karena ini bukan termasuk dalam kategori ghibah yang tercela. Hal ini termasuk dari enam perkara yang dikecualikan dari ghibah, meskipun menyebutkan aib seseorang. Demikian pula sebaliknya dengan pihak wanita yang berkepentingan untuk mengenal lelaki yang berhasrat untuk meminangnya, dapat menempuh cara yang sama.
- pacaran : pertemuan yang dilakukan hanya berdua saja, pagi boleh, siang oke, sore ayo, malam bisa, dini hari klo ngga ada yang komplain juga ngga apa-apa. Pertemuannya di rumah sang calon, kantor, mall, cafe, diskotik, tempat wisata, kendaraan umum & pribadi, pabrik dll. Frekuensi pertemuan lazimnya seminggu sekali, pas malem minggu. Adapun yang dibicarakan cerita apa aja kejadian minggu ini, ngobrol ngalur-ngidul, ketawa-ketiwi.


4. Lamanya
- ta’aruf : ketika sudah tidak ada lagi keraguan di kedua belah pihak, lebih cepat lebih baik. dan ketika informasi sudah cukup (bisa sehari, seminggu, sebulan, 2 bulan), apa lagi yang ditunggu-tunggu?
- pacaran : bisa 3 bulan, 6 bulan, setahun, 2 tahun, bahkan mungkin 10 tahun.


5. Saat tidak ada kecocokan saat proses
- ta’aruf : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan harus cara yang baik dan menyebut alasannya.
- pacaran : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan/tanpa menyebut alasannya.
Dengan demikian jelaslah bahwa pacaran bukanlah alternatif yang ditolerir dalam Islam untuk mencari dan memilih pasangan hidup.

(COPAS dari teman facebook)

SECERCAH INSPIRASI

(Kutipan-kutipan menarik dari buku Engkaulah Matahariku (Inspiring Stories) karya Pak Eko Novianto Nugroho)

Dalam proses belajar, kesinambungan lebih dihargai daripada lompatan besar yang tidak kontinyu…….libatkan diri dengan urusan agama dengan pelan-pelan dan janganlah kamu buat dirimu bosan beribadah pada Alloh.

Sholat dan puasa kita atau infaq dan amal sholeh kita mungkin …….tampak tak bermakna saat ini. Padahal ia adalah tiket kita ke surga. Kesungguhan kita kepada pendidikan keluarga dan anak-anak boleh jadi……merupakan password bagi kita kelak.

Akan kita bangun bersama istana besar yang harus memuat dua ide kita. Ya, harus cukup besar. Agar mampu memuat ide besar kita bersama. Ya, harus cukup besar,agar kita tak kerap bergesekan. Agar cukup ruang toleransi kita, dan kita tak saling menggunting.Dan agar kita tak kerap hajar-menghajar.

……memadukan suami isteri ibarat memadukan 2 (dua) batang kayu. Agar sambungan itu kokoh, kedua batang kayu tersebut harus disambung dengan teknik tertentu. Masing-masing kayu harus merelakan sebagian dirinya dipotong, dibentuk, dan disesuaikan dengan potongan kayu yang lain.

……pasangan suami isteri harus meletakkan semua tendensi dan interest pribadi tersebut di dalam sebuah tujuan bersama.Dan jika tendensi serta interest tersebut tidak sesuai dengan tujuan bersama, jangan ragu untuk membuangnya.

Kalaupun kita mengakui prestasi anak, tendensinya untuk menonjolkan kehebatan kita. Aneh. Menghargai prestasi anak namun yang diharapkan adalah kekaguman publik kepada orang tua dari anak-anak itu. Kita jadi memiliki hidden agenda dari pujian dan pengakuan kita pada mereka.

Kita gemar menuntut anak kita untuk berprestasi hebat. Tetapi kita enggan untuk berprestasi. Cara paling curang dan murah untuk itu adalah dengan tidak mengakui prestasi anak-anak. Dengan itu kita bisa terus memelihara mitos kehebatan kita sebagai orang tua mereka.
……motivasi tanpa penghargaan bisa berakibat fatal. Mereka (anak-anak) bisa berkembang dalam motivasi kita tetapi menjadi milik pihak lain yang memberikan pengakuan dan penghargaan. Entah itu kawan mereka, pacar mereka, atau srigala busuk. Oleh karena itu, motivasi hendaknya diikuti dengan penghargaan sesuai dengan perkembangan mereka.

Konon perempuan memiliki kebutuhan terhadap pengakuan yang signifikan. Kekurangan pengakuan bisa berakibat fatal.

Bagaimana mungkin orang tua dapat dikatakan menghina anaknya ? Penghinaan itu terjadi ketika orang tua menilai kekurangan anaknya dan memaparkannya seolah sebuah kebodohan yang tak termaafkan.

Pernikahan tak semata-mata menyangkut keinginan pribadi, tetapi mesti mengkompilasi, mengkompromi dan menoleransi cita-cita dan harapan, setidaknya dua orang.

Pernikahan itu tak hanya wangi seperti di saat walimatul ursy. Mungkin ada kalanya kompor minyak tanah perlu dicabuti sumbunya sehingga bau minyak tanah melekat di antara jari-jari.Atau saat sang bayi pipis dan buang air besar, sehingga tangan menjadi belepotan karenanya.

…..seorang lelaki lebih tahan menerima cobaan yang diperuntukkan khusus baginya. Tapi ia bisa lebih tak tahan bila cobaan itu mampir ke isteri yang dicintainya, atau anak-anak yang terlahir sebab benihnya. Itu sebabnya, bila sang suami suatu saat merasa lemah, kuatkanlah ia dengan tangan tangguh terulur.

Berkaryalah, kendati seperti sepi. Tetapi, jika pun ada respon, tak perlu terlampau girang jika itu menggembirakan. Dan tak perlu menghentikan karya jika respon itu menyakitkan jiwa.

…..para bapak adalah peletak kerangka dasar dalam 3 (tiga) hal, yaitu :
Pertama, ayah adalah peletak dasar dalam soal visi
Kedua, ayah adalah peletak kerangka dalam pembuatan agenda harian dan regulasi
Ketiga, ayah adalah peletak dasar keteladanan.
Kecenderungan umum, seorang laki-laki suka jika ia ditempatkan sebagai peletak dasar. Dan perempuan juga menghindari tugas ini dan lebih suka jika suaminya menjadi peletak dasar. Kecenderungan umum, seorang perempuan suka mengerjakan hal teknis yang telah digariskan oleh suaminya.

Maka bukan masalah besar jika para suami kerap tidak terampil dalam hal-hal teknis, dan bukan persoalan besar jika para isteri kurang memiliki visi.

……adilkah meminta suami mahir dalam hal strategis sekaligus mahir dalam hal teknis ? Dan adilkah saya meminta isteri saya untuk mahir berpikir strategis ?
Ini soal kecenderungan dan soal tugas dasar antara kita.

……hal penting yang harus diajarkan kepada anak-anak adalah penghormatan kepada pekerja keras. Aku berusaha untuk mengajarkan sikap hormat pada pembantu di rumah, pedagang yang bekerja keras, pekerja yang bersungguh-sungguh dan siapa saja yang mengajarkan penghormatan kepada pekerja keras.

Kita katakan bekerja adalah ibadah, namun pada saat yang sama kita tidak menunjukkan kecintaan yang proporsional pada pekerjaan kita.

……komentar Ali Ra. Di ‘Nashaihul Ibad’
“Jadilah manusia paling baik di sisi Alloh. (tetapi) Jadilah manusia paling buruk dalam pandangan dirimu, (dan) jadilah manusia biasa di hadapan orang lain”.

“Sekalian yang kemarin, Pak,” kata seorang anak sembari menyodorkan buku aktivitas Ramadhannya untuk aku tandatangani. “Tampaknya kita memang telah memulai kecurangan dari masjid,” gumamku.

Hukuman kurungan untuk pencuri yang tertangkap jangan dikira membuat jera. Bisa-bisa keluar dari penjara malah lebih beringas dari sebelumnya. Yang membuat kapok YL pencuri kambuhan di Kampung Rambutan  bukan masuk keluar penjara, tetapi suatu hari ia tertangkap mencuri di kios pedagang rokok, Ia tidak diserahkan ke Polisi, tetapi ditelanjangi dan diarak keliling terminal, sampai berita ini diturunkan wajahnnya tidak pernah terlihat lagi di sekitar situ.
Saya tidak ingin masjid-masjid kita berisik dengan celoteh anak-anak. Tapi apakah adil meminta mereka setertib orang tua? Sedangkan mereka masih dalam proses belajar.

Suatu saat anak kami masbuk. Ia melanjutkan sholatnya sendiri. Ia berbisik, “Ummi, sholat maghrib berapa rakaat?” Sambil terus berdiri menghadap kiblat mendekap dadanya seperti orang dewasa sedang sholat. “Tiga,” jawab sang ibu yang telah menyelesaikan sholatnya. Dan sang anak melanjutkan kekurangan rakaat sholat maghribnya.  

“Apa definisi rumah bagi anda? Sesuatu yang melindungi anda dari panas dan hujan? Jika demikian rumah adalah sarang bagi manusia.”

Menurut saya, tidak ada maya yang sesungguhnya. Bagi Alloh tidak ada yang maya. Maka, kendati di dunia maya, menghargai dan tidak menyakiti adalah prinsip yang harus dijaga.

Menyakiti harkat kemanusiaan adalah menistakan diri sendiri. Memang ‘lawan’ anda tidak dapat membalas cacian anda, tetapi sesungguhnya andalah yang menistakan diri anda sendiri. Dengan menggunakan diksi yang kasar, maka anda telah meletakkan noktah hitam dalam relung hati anda. Jadi, andalah yang menistakan diri anda sendiri.

Ada kasus bibir sumbing yang membuat orang tua malu mengajak bayinya. Sang ibu menjadi malu Karena komentar kawan-kawannya. Rasa malu itu dia transfer ke buah hatinya. Si buah hati sebenarnya belum tahu harus bagaimana menyikapi bibir sumbingnya. Si bayi sebenarnya belum tahu jika kekurangannya itu harus membuatnya malu. Dia belum mengerti jika itu mengharuskan dia untuk minder. Bahkan dia belum tahu jika itu adalah kekurangan. Lingkunganlah yang mengajarinya untuk malu, untuk minder, untuk menyembunyikannya.

“Bagi saya rangking adalah sebuah kesimpulan paling pragmatis dalam proses belajar. Ia hanyalah sebuah penjumlahan—mungkin ditambah perkalian dalam kasus pembobotan—dan pembagian.”

Bagi saya, angka dan rangking cenderung merampas potensi anak. Dan cenderung mematikan tonjolan anak. Anak cenderung merasa dipersalahkan ‘hanya’ karena rangkingnya buruk.

Bagi saya, anak-anak tajam di beberapa hal tapi tumpul di bidang yang lain……Anak elang tentu tidak sehebat anak hiu dalam lomba renang. Anak hiu tentu tak bisa terbang sehebat anak elang. Anak kelinci memang tak sekuat anak singa, meski anak singa sulit dalam lomba menggali. Lalu, adilkah jika anak kita harus juara di berbagai bidang?

……mengapa anak kita harus selalu menjadi hero di kelasnya, di kursusnya, di kolam renang, di lapangan bola, di sempoa, di bahasa arab, di bahasa inggris, di lomba lari, di matematika, di kimia, di fisika, dan di mana-mana?....kita bukan tokoh hebat tanpa cela…..Yang selalu harus belajar. Maka sesungguhnya mereka juga sedang belajar. Yang seperti kita, kadang mereka gagal. Yang seperti kita, merasakan sakit atas kegagalan. Yang juga semoga seperti kita, selalu bangkit untuk belajar lagi. 

Kita jadi lupa bahwa PR itu adalah PR-nya. Adalah tugasnya. Bukan PR kita, dan bukan tugas kita. Namun jika mereka tidak bisa atau mengerjakan tidak sebaik keinginan kita, kita uring-uringan. Tidak jarang orang tua mengungkap kisah-kisah ‘heroiknya’ di waktu masih belajar. Ini tidak membantu. Mereka semakin terhina dan semakin memberontak. Anda bisa bayangkan perasaan apa yang ada? Kita memintanya meneladani? Anda mengharap itu memotivasi? Rasanya tidak.

Ingat! Dunia ini relatif. Kita bukanlah seorang yang kaya secara mutlak. Dan bukan miskin yang absolut.

Kami ingin anak-anak lurus-lurus aja terhadap regulasi. Kami ajarkan bahwa kita orang kecil yang tidak memiliki gantungan atau backing. Semua harus dilakukan sesuai regulasi. Cuma itu cara untuk hidup. Meminimkan persoalan dan resiko.

ABG enggan berbicara karena satu atau kombinasi dari marah, sedih, tidak percaya, takut, sedang ingin sendiri, bukan waktu yang tepat atau karena ia sedang malu. Karena satu atau kombinasi dari alasan-alasan tersebut di atas, anak enggan membicarakan sesuatu pada ortunya.

‘Mengumumkan’ kedekatan kita dihadapan anak-anak ABG berpotensi ditertawakan mereka. Meski –mungkin—Cuma dalam hati. Mereka merasa jadi obyek. Mereka tidak suka menjadi obyek. ABG lebih ingin jadi subyek.

Penyebutan pernikahan tanpa cinta adalah flat. Adalah vonis. Adalah pengingkaran terhadap dinamika hati. Setidaknya ada pengingkaran. Ada sebagian yang diingkari.