(Kutipan-kutipan menarik dari buku Engkaulah Matahariku (Inspiring
Stories) karya Pak Eko Novianto Nugroho)
Dalam proses belajar,
kesinambungan lebih dihargai daripada lompatan besar yang tidak
kontinyu…….libatkan diri dengan urusan agama dengan pelan-pelan dan janganlah
kamu buat dirimu bosan beribadah pada Alloh.
Sholat dan puasa kita atau infaq
dan amal sholeh kita mungkin …….tampak tak bermakna saat ini. Padahal ia adalah
tiket kita ke surga. Kesungguhan kita kepada pendidikan keluarga dan anak-anak
boleh jadi……merupakan password bagi
kita kelak.
Akan kita bangun bersama istana
besar yang harus memuat dua ide kita. Ya, harus cukup besar. Agar mampu memuat
ide besar kita bersama. Ya, harus cukup besar,agar kita tak kerap bergesekan.
Agar cukup ruang toleransi kita, dan kita tak saling menggunting.Dan agar kita
tak kerap hajar-menghajar.
……memadukan suami isteri ibarat
memadukan 2 (dua) batang kayu. Agar sambungan itu kokoh, kedua batang kayu
tersebut harus disambung dengan teknik tertentu. Masing-masing kayu harus
merelakan sebagian dirinya dipotong, dibentuk, dan disesuaikan dengan potongan
kayu yang lain.
……pasangan suami isteri harus
meletakkan semua tendensi dan interest
pribadi tersebut di dalam sebuah tujuan bersama.Dan jika tendensi serta interest tersebut tidak sesuai dengan
tujuan bersama, jangan ragu untuk membuangnya.
Kalaupun kita mengakui prestasi
anak, tendensinya untuk menonjolkan kehebatan kita. Aneh. Menghargai prestasi
anak namun yang diharapkan adalah kekaguman publik kepada orang tua dari
anak-anak itu. Kita jadi memiliki hidden
agenda dari pujian dan pengakuan kita pada mereka.
Kita gemar menuntut anak kita
untuk berprestasi hebat. Tetapi kita enggan untuk berprestasi. Cara paling
curang dan murah untuk itu adalah dengan tidak mengakui prestasi anak-anak.
Dengan itu kita bisa terus memelihara mitos kehebatan kita sebagai orang tua
mereka.
……motivasi tanpa penghargaan bisa
berakibat fatal. Mereka (anak-anak) bisa berkembang dalam motivasi kita tetapi
menjadi milik pihak lain yang memberikan pengakuan dan penghargaan. Entah itu
kawan mereka, pacar mereka, atau srigala busuk. Oleh karena itu, motivasi
hendaknya diikuti dengan penghargaan sesuai dengan perkembangan mereka.
Konon perempuan memiliki
kebutuhan terhadap pengakuan yang signifikan. Kekurangan pengakuan bisa
berakibat fatal.
Bagaimana mungkin orang tua dapat
dikatakan menghina anaknya ? Penghinaan itu terjadi ketika orang tua menilai
kekurangan anaknya dan memaparkannya seolah sebuah kebodohan yang tak
termaafkan.
Pernikahan tak semata-mata
menyangkut keinginan pribadi, tetapi mesti mengkompilasi, mengkompromi dan
menoleransi cita-cita dan harapan, setidaknya dua orang.
Pernikahan itu tak hanya wangi
seperti di saat walimatul ursy.
Mungkin ada kalanya kompor minyak tanah perlu dicabuti sumbunya sehingga bau
minyak tanah melekat di antara jari-jari.Atau saat sang bayi pipis dan buang
air besar, sehingga tangan menjadi belepotan karenanya.
…..seorang lelaki lebih tahan
menerima cobaan yang diperuntukkan khusus baginya. Tapi ia bisa lebih tak tahan
bila cobaan itu mampir ke isteri yang dicintainya, atau anak-anak yang terlahir
sebab benihnya. Itu sebabnya, bila sang suami suatu saat merasa lemah,
kuatkanlah ia dengan tangan tangguh terulur.
Berkaryalah, kendati seperti sepi.
Tetapi, jika pun ada respon, tak perlu terlampau girang jika itu
menggembirakan. Dan tak perlu menghentikan karya jika respon itu menyakitkan
jiwa.
…..para bapak adalah peletak
kerangka dasar dalam 3 (tiga) hal, yaitu :
Pertama, ayah adalah peletak
dasar dalam soal visi
Kedua, ayah adalah peletak
kerangka dalam pembuatan agenda harian dan regulasi
Ketiga, ayah adalah peletak dasar
keteladanan.
Kecenderungan umum, seorang
laki-laki suka jika ia ditempatkan sebagai peletak dasar. Dan perempuan juga
menghindari tugas ini dan lebih suka jika suaminya menjadi peletak dasar.
Kecenderungan umum, seorang perempuan suka mengerjakan hal teknis yang telah
digariskan oleh suaminya.
Maka bukan masalah besar jika
para suami kerap tidak terampil dalam hal-hal teknis, dan bukan persoalan besar
jika para isteri kurang memiliki visi.
……adilkah meminta suami mahir
dalam hal strategis sekaligus mahir dalam hal teknis ? Dan adilkah saya meminta
isteri saya untuk mahir berpikir strategis ?
Ini soal kecenderungan dan soal
tugas dasar antara kita.
……hal penting yang harus
diajarkan kepada anak-anak adalah penghormatan kepada pekerja keras. Aku
berusaha untuk mengajarkan sikap hormat pada pembantu di rumah, pedagang yang
bekerja keras, pekerja yang bersungguh-sungguh dan siapa saja yang mengajarkan
penghormatan kepada pekerja keras.
Kita katakan bekerja adalah
ibadah, namun pada saat yang sama kita tidak menunjukkan kecintaan yang
proporsional pada pekerjaan kita.
……komentar Ali Ra. Di ‘Nashaihul
Ibad’
“Jadilah manusia paling baik di
sisi Alloh. (tetapi) Jadilah manusia paling buruk dalam pandangan dirimu, (dan)
jadilah manusia biasa di hadapan orang lain”.
“Sekalian yang kemarin, Pak,”
kata seorang anak sembari menyodorkan buku aktivitas Ramadhannya untuk aku
tandatangani. “Tampaknya kita memang telah memulai kecurangan dari masjid,”
gumamku.
Hukuman kurungan untuk pencuri
yang tertangkap jangan dikira membuat jera. Bisa-bisa keluar dari penjara malah
lebih beringas dari sebelumnya. Yang membuat kapok YL pencuri kambuhan di Kampung
Rambutan bukan masuk keluar penjara,
tetapi suatu hari ia tertangkap mencuri di kios pedagang rokok, Ia tidak
diserahkan ke Polisi, tetapi ditelanjangi dan diarak keliling terminal, sampai
berita ini diturunkan wajahnnya tidak pernah terlihat lagi di sekitar situ.
Saya tidak ingin masjid-masjid
kita berisik dengan celoteh anak-anak. Tapi apakah adil meminta mereka setertib
orang tua? Sedangkan mereka masih dalam proses belajar.
Suatu saat anak kami masbuk. Ia
melanjutkan sholatnya sendiri. Ia berbisik, “Ummi, sholat maghrib berapa
rakaat?” Sambil terus berdiri menghadap kiblat mendekap dadanya seperti orang
dewasa sedang sholat. “Tiga,” jawab sang ibu yang telah menyelesaikan
sholatnya. Dan sang anak melanjutkan kekurangan rakaat sholat maghribnya.
“Apa definisi rumah bagi anda?
Sesuatu yang melindungi anda dari panas dan hujan? Jika demikian rumah adalah
sarang bagi manusia.”
Menurut saya, tidak ada maya yang
sesungguhnya. Bagi Alloh tidak ada yang maya. Maka, kendati di dunia maya,
menghargai dan tidak menyakiti adalah prinsip yang harus dijaga.
Menyakiti harkat kemanusiaan
adalah menistakan diri sendiri. Memang ‘lawan’ anda tidak dapat membalas cacian
anda, tetapi sesungguhnya andalah yang menistakan diri anda sendiri. Dengan
menggunakan diksi yang kasar, maka anda telah meletakkan noktah hitam dalam
relung hati anda. Jadi, andalah yang menistakan diri anda sendiri.
Ada kasus bibir sumbing yang
membuat orang tua malu mengajak bayinya. Sang ibu menjadi malu Karena komentar
kawan-kawannya. Rasa malu itu dia transfer ke buah hatinya. Si buah hati
sebenarnya belum tahu harus bagaimana menyikapi bibir sumbingnya. Si bayi
sebenarnya belum tahu jika kekurangannya itu harus membuatnya malu. Dia belum
mengerti jika itu mengharuskan dia untuk minder. Bahkan dia belum tahu jika itu
adalah kekurangan. Lingkunganlah yang mengajarinya untuk malu, untuk minder,
untuk menyembunyikannya.
“Bagi saya rangking adalah sebuah
kesimpulan paling pragmatis dalam proses belajar. Ia hanyalah sebuah
penjumlahan—mungkin ditambah perkalian dalam kasus pembobotan—dan pembagian.”
Bagi saya, angka dan rangking
cenderung merampas potensi anak. Dan cenderung mematikan tonjolan anak. Anak
cenderung merasa dipersalahkan ‘hanya’ karena rangkingnya buruk.
Bagi saya, anak-anak tajam di
beberapa hal tapi tumpul di bidang yang lain……Anak elang tentu tidak sehebat
anak hiu dalam lomba renang. Anak hiu tentu tak bisa terbang sehebat anak
elang. Anak kelinci memang tak sekuat anak singa, meski anak singa sulit dalam
lomba menggali. Lalu, adilkah jika anak kita harus juara di berbagai bidang?
……mengapa anak kita harus selalu
menjadi hero di kelasnya, di kursusnya, di kolam renang, di lapangan bola, di
sempoa, di bahasa arab, di bahasa inggris, di lomba lari, di matematika, di
kimia, di fisika, dan di mana-mana?....kita bukan tokoh hebat tanpa cela…..Yang
selalu harus belajar. Maka sesungguhnya mereka juga sedang belajar. Yang
seperti kita, kadang mereka gagal. Yang seperti kita, merasakan sakit atas
kegagalan. Yang juga semoga seperti kita, selalu bangkit untuk belajar
lagi.
Kita jadi lupa bahwa PR itu
adalah PR-nya. Adalah tugasnya. Bukan PR kita, dan bukan tugas kita. Namun jika
mereka tidak bisa atau mengerjakan tidak sebaik keinginan kita, kita
uring-uringan. Tidak jarang orang tua mengungkap kisah-kisah ‘heroiknya’ di
waktu masih belajar. Ini tidak membantu. Mereka semakin terhina dan semakin
memberontak. Anda bisa bayangkan perasaan apa yang ada? Kita memintanya
meneladani? Anda mengharap itu memotivasi? Rasanya tidak.
Ingat! Dunia ini relatif. Kita
bukanlah seorang yang kaya secara mutlak. Dan bukan miskin yang absolut.
Kami ingin anak-anak lurus-lurus
aja terhadap regulasi. Kami ajarkan bahwa kita orang kecil yang tidak memiliki
gantungan atau backing. Semua harus dilakukan sesuai regulasi. Cuma itu cara
untuk hidup. Meminimkan persoalan dan resiko.
ABG enggan berbicara karena satu
atau kombinasi dari marah, sedih, tidak percaya, takut, sedang ingin sendiri,
bukan waktu yang tepat atau karena ia sedang malu. Karena satu atau kombinasi
dari alasan-alasan tersebut di atas, anak enggan membicarakan sesuatu pada
ortunya.
‘Mengumumkan’ kedekatan kita
dihadapan anak-anak ABG berpotensi ditertawakan mereka. Meski –mungkin—Cuma
dalam hati. Mereka merasa jadi obyek. Mereka tidak suka menjadi obyek. ABG
lebih ingin jadi subyek.
Penyebutan pernikahan tanpa cinta
adalah flat. Adalah vonis. Adalah
pengingkaran terhadap dinamika hati. Setidaknya ada pengingkaran. Ada sebagian
yang diingkari.